Sekolah Jalanan

Hidup Jalanan sangat Keras dan Mematikan. Siapa Kuat Dia Dapat. Hukum Rimba, siapa yang punya otak akan selamat. Menikam atau ditikam, ditusuk dari belakang, ditipu, dipukuli, dan dibunuh adalah hal biasa jika hidup di Jalanan.

Banyak persiapan yang dilakukan sebelum turun ke jalan, membaca situasi dan kondisi, serta mapping wilayah atau operasi awal mencari data. Data sangat penting, Data Anak Jalanan, Data Ruang Terbuka atau Taman, Data Sekolah Formal, Data Sekolah Non-Formal, Data Masjid beserta Tempat Ibadah lainnya, Data Preman, Data Aparat Nakal, Data Mafia jika bisa. Bos Preman atau Mafia sangat sulit ditemukan, sangat licin dan rahasia. Mereka biasanya kaya raya, pejabat, aparat, politisi yang sudah jadi Anggota DPR, bahkan ada yang Pengusaha.

Eksploitasi Mafia Jalanan terhadap anak negeri belum dapat dilihat dengan kasat mata, belum ada kasus yang naik ke pengadilan terhadap isu ini, Mafia Pendidikan berkaitan dengan Mafia Jalanan. Pejabat bejat bekerjasama dengan Mafia Jalanan menguras APBN dan APBD suatu kota untuk pesta dan memperkaya diri dengan dalil membina Anak Jalanan.

Angaran terbesar negeri ini ada pada saluran pendidikan. Pendidikan dapat jatah sekitar 20% Anggaran APBN namun belum banyak terlihat hasilnya, Bocor Anggaran Pendidikan sudah jadi rahasia umum. Mafia Jalanan ikut bermain dan bekerjasama dengan oknum pemerintah yang menjelma jadi Mafia Pendidikan, atau sebaliknya.

Pendidikan Jalanan atau Pendidikan Khusus yang focus pada Anak Jalanan dan Anak Terlantar mulai menjamur tanpa visi dan sistem yang jelas pola nya. Pemerintah hanya menabur uang tanpa menjaga dan mengawasi kemana uang itu pergi. Korupsi berjamaah di Kementrian Pendidikan sudah jadi rahasia umum, begitupun di Dinas Pendidikan setiap Kota. Sisi Positif nya adalah masih ada beberapa Aktivis Pendidikan Khusus yang idealist dan memiliki hati, masih pejabat dan aparat yang memiliki hati. Jujur dan peduli akan negeri ini, masih ada pejabat yang peduli dan cinta tanah air serta cinta semangat kemerdekaan dan semangat revolusi. Akan selalu ada para Malaikat Jalanan yang hidup dalam dunia hitam seperti apapun. Mereka lahir dari keluarga yang terdidik baik di rumahnya, para Malaikat Jalanan yang terlahir dari Sekolah-sekolah atau Kampus yang memiliki visi dan misi yang jelas serta system pendidikan berkualitas.

Malaikat Jalanan adalah manusia-manusia yang lahir dari hasil didikan keluarga yang taat pada agama baik Islam maupun Kristen serta agama lainnya. Mereka hidup jujur dan merakyat, mengabdi untuk Tuhan, bangsa dan Negara Indonesia.

Hasil observasi yang kami lakukan, ada sekelompok pemuda yang turun ke jalan untuk jadi Guru Jalanan. Mereka adalah biasanya mahasiswa, beberapa dosen, guru sekolah formal, dan aktivis pendidikan yang menjadi ujung tombak Pendidikan Khusus negeri ini. Sukarelawan tanpa pamrih, tak digaji, tak butuh uang, dan hidup sederhana. Sebagian dari mereka ada yang menjadi Malaikat Jalanan. Biasanya kedua jenis makhluk itu bekerjasama dan synergy mendirikan Sekolah Layanan Khusus, Sekolah Khusus, atau Sekolah Luar Biasa di Kota-kota seluruh Indonesia.

Jaringan bawah tanah para Guru Jalanan dan Malaikat Jalanan tak tercium media atau lepas dari pandangan masyarakat awam, bahkan pejabat sekalipun tak bisa menciumnya. Mereka eksis dan beroperasi di jalan-jalan negeri ini. Gerakan Aktivis pendidikan yang rapih dan terorganisasi dengan baik. Untuk Indonesia.

Panjaitan di Aceh, Sinaga di Medan, Reffi di Lampung, Sulthon di Banten, Leo di Jakarta, Cepiar di depok, Bintang di Karawang, Joker di Bekasi, Jupri di Bandung, Bunga di Jogja, Robert di Malang, Naga di Cirebon, Gusti di Bali, Citra di Lombok, Andi di Kalimantan, dan beberapa lagi pimpinan Organisasi Bawah Tanah yang rahasia. Organisasi mereka disebut Malaikat Jalanan.

Tinggalkan komentar

Filed under pendidikan

Karawang-Bekasi

cepiar.

Karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Tinggalkan komentar

Filed under intermezo, Uncategorized

Pancasila dikristalkan jadi Esasila

Sejarah lahirnya Pancasila yang kini terkristal menjadi Esasila, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia dimulai dengan dibacakannya sebuah pidato yang waktu itu masih belum memiliki judul oleh Soekarno pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPK, atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan yang nantinya diubah menjadi Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang jatuh pada tanggal 1 Juni 1945. Hingga hari ini, hari lahirnya Pancasila masih sering diperingati oleh masyarakat-masyarakat Indonesia meskipun tidak ada perayaan yang megah seperti yang layaknya terjadi setiap tanggal 17 Agustus.

Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara Indonesia

Pada masa-masa akhir Perang Dunia II, kekalahan Jepang pada sekutu dalam perang Pasifik tak lagi bisa disembunyikan. Hal ini mendesak Jenderal Kuniaki Koisi yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang untuk mengumumkan sebuah rencana untuk Indonesia ke depannya pada tanggal 7 September 1944. Hal yang diumumkan oleh Koisi ternyata adalah sebuah rencana untuk memerdekakan Indonesia ketika Jepang berhasil memenangkan perang Asia Timur, berharap pengumuman ini akan membuat Indonesia berpikir bahwa pasukan Sekutu adalah perenggut kemerdekaan mereka. Bibit yang akan membentuk lahirnya pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia muncul ketika pada 1 Maret, Kumakichi Harada memberitahukan tentang pembentukan badan yang bertugas menyelidiki usaha persiapan kemerdekaan dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau disingkat BPUPKI).

Ketika BPUPKI secara resmi dibentuk pada 29 April 1945, yang ditunjuk menjadi ketua adalah Radjiman Wedyodiningrat, didampingi oleh Raden Pandji Soeroso dan satu orang Jepang sebagai wakil ketuanya. Soeroso sendiri sebenarnya memegang posisi ganda, yaitu sebagai kepala sekretariat BPUPKI bersama Abdoel Gafar dan Masuda Toyohiko. Ketika didirikan, BPUPKI memiliki 67 anggota dengan 7 diantaranya merupakan orang Jepang yang tidak memiliki hak suara.

Pada 28 Mei 1945, BPUPKI mengadakan sidang pertama mereka di gedung Volksraad, Jalan Pejambon 6, Jakarta. Sidang hari pertama ini hanya merupakan upacara pelantikan, dan sidang sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya selama empat hari. Pada sidang ini, Muhammad Yamin menyampaikan pidato dan merumuskan hal yang menjadi awal sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, yaitu: ideologi Kebangsaan, ideologi kemanusiaan, ideologi ketuhanan, ideologi kerakyatan, dan ideologi kesejahteraan. Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mencetuskan dasar-dasar kebangsaan, internasionalisme, kesejahteraan, ketuhanaan, dan mufakat sebagai dasar negara. Ia juga memberi nama dasar-dasar tersebut Pancasila, dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti dasar atau azas.

Usulan Pancasila milik Soekarno kemudian ditanggapi dengan serius, menyebabkan lahirnya Panitia Sembilan yang berisi Soekarno, Mohammad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin, dan Wahid Hasjim. Panitia ini kemudian bertugas untuk merumuskan ulang Pancasila yang telah dicetuskan oleh Soekarno dalam pidatonya.

Rumusan selanjutnya yang nantinya menjadi pencipta sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia adalah ketika dibuatnya Piagam Jakarta, di sebuah rapat non-formal pada 22 Juni 1945 dengan 38 anggota BPUPKI. Pada pertemuan ini, terjadi debat antara golongan Islam yang ingin Indonesia menjadi negara Islam dan golongan yang ingin Indonesia menjadi negara sekuler. Ketika mereka mencapai persetujuan, dibuatlah sebuah dokumen bernama Piagam Jakarta yang di dalamnya terdapat usulan bahwa pemeluk agama Islam wajib menjalankan syariat Islam. Rancangan ini akhirnya dibahas secara resmi pada tanggal 10 dan 14 Juli 1945, dimana dokumen ini dipecah menjadi dua, bernama Deklarasi Kemerdekaan dan Pembukaan.

Pada sore hari di 17 Agustus tahun 1945, menyusul menyerahnya Kekaisaran Jepang, petinggi-petinggi masyarakat dari daerah Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Kalimantan menemui Soekarno untuk menyatakan keberatan mereka terhadap rumusan sebelumnya yang menuliskan bahwa pemeluk agama Islam wajib menaati syari’at Islam. Soekarno dengan segera menghubungi Hatta dan merencanakan pertemuan dengan wakil-wakil dari golongan Islam yang tentu saja keberatan dengan usulan ini pada awalnya. Setelah diskusi cukup mendalam, kalimat dalam rumusan tersebut kemudian diubah menjadi “ketuhanan yang maha esa” demi menjaga kesatuan Indonesia.

Pada akhir tahun 1949, Republik Indonesia harus menerima rumusan penggantian bentuk pemerintahan menjadi negara federal dan hanya menjadi negara bagian Belanda. Pada masa ini, sudah terbentuk kerangka Pancasila yang hampir mengikuti Pancasila modern. Beberapa bulan setelah menjadi RIS, banyak negara bagian yang memilih bergabung dengan RI Yogyakarta, dan setuju mengadakan perubahan konstitusi RIS menjadi UUDS. Pada era kehancuran RIS ini, kerangka Pancasila belum berubah dari era awal RIS dibentuk oleh Belanda.

Ketika 5 Juli 1959 tiba, presiden Soekarno memutuskan untuk menetapkan UUD yang disahkan pada 18 Agustus oleh PPKI untuk menggantikan UUDS yang gagal menciptakan kestabilan negara pada saat itu. Menyusul penggunaan kembali UUD 1945, Pancasila yang menjadi rumusan resmi adalah Pancasila dalam pembukaan UUD, yang merupakan Pancasila yang kita kenal di era modern ini.

Hal lain yang menjadi titik penting dalam sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia adalah saat terjadi insiden Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Meskipun hingga saat ini masih sering terjadi perdebatan tentang siapa dan apa motif yang ada di belakang insiden ini, pihak militer bersama dengan kelompok agama terbesar pada waktu itu sepakat untuk menyebarkan kabar bahwa penggiat insiden ini adalah PKI yang ingin mengubah ideologi negara dari Pancasila menjadi ideologi Komunis. Karena upaya kudeta ini gagal, pemerintahan orde baru memutuskan 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila, menyimbolkan bahwa Pancasila menunjukkan kekuatannya (kesaktiannya) terhadap ideologi Komunis.

Di era modern ini Pancasila seperti kehilangan ruh dan kesaktiannya, sehingga menjadi perhatian para pemuda dan aktivis pergerakan, khususnya Cepiar Singanegara. Dalam pergolakan pemikiran dan aktivitasnya di dunia sosial dan pendidikan membuat Bang Cepiar kembali merumuskan Pancasila agar bertahan dalam menghadapi tantangan jaman.

Soekarno meringkas Pancasila jadi Trisila, lalu Trisila jadi Ekasila yaitu Gotong Royong

Cepiar Singanegara mengkristalkan Pancasila jadi Trisila, Trisila jadi Ekasila, Ekasila (Gotong Royong) menjadi Esasila yaitu BerTuhan.

Esasila kini menjadi energi pergerakan Pemuda dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, berbagai suku dan agama serta kepercayaan tumbuh subur dalam iklim demokrasi setelah era reformasi. Esasila yang merupakan kristal dari Pancasila dijadikan isme baru untuk menjaga keutuhan NKRI dan menjaga stabilitas nasional serta senjata pemikiran dalam menjaga perdamaian dunia.

Esasila (BerTuhan) menjadi rumusan baru untuk menyempurnakan pemikiran para tokoh  agama dan tokoh politik serta TNI-POLRI dan masyarakat dalam menghadapi perpecahan yang tersulut berkaitan dengan SARA.

Demikian artikel singkat mengenai sejarah lahirnya Pancasila hingga Esasila yang mudah-mudahan dapat menambah wawasan serta pengetahuan anda tentang sejarah nasional.

PANCASILA

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

CEPI

About CEPI
Sri Bintang Makara, Director

Welcome!

CEPI is proud to serve as the agency responsible for collecting, securely managing, and reporting education data in Indonesia and Asia.

Whether you are a parent looking for the best fit for your child, a member of the education community seeking data that can inform your practices, a policy maker or researcher evaluating our state’s education policies, or simply a Asia citizen seeking transparent and unbiased information on how our schools and students are performing – CEPI is pleased to help with your information needs.

This CEPI website is for the Asia schools and colleges who report data to CEPI. The Bintang Makara School Data website is where we publically report these data to inform decision making.

Our goal is one all Asia citizens share: to help Asia students become career and college ready. Data can help inform the decisions that lead to improved outcomes, and as such I welcome your feedback. Tell us what we can do to meet your information needs, and how we can better serve you, our stakeholders.

Sri Bintang Makara, Director
Center for Educational Performance and Information (CEPI)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Rahasia Bismillah

bismillah
Dalam artikel ini akan dijelaskan misteri tanpa penulisan huruf inti alif sesudah huruf ba.

Sehingga tertulis bersambung menjadi bismillah, bukan bi ismillah, sebagaimana lazimnya dalam ilmu penulisan bahasa Arab (‘ilm rasm), misalnya ayat iqra’ bi ismi Rabbik. Terdapat berbagai macam pendapat ulama tentang hal ini.

Dalam kitab Majma’ Al-Bayan dijelaskan sebagian dari mukjizat Alquran. Kitab ini menghubungkan jumlah kata ism terulang sebanyak 19 kali dalam Alquran.
Kalau ada alif mendahului kata ism, kata ism tidak lagi sesuai dengan angka 19 dan jumlah huruf basmalah tidak lagi 19 melainkan bertambah satu, 20.

Jumlah huruf basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) jika ditulis dalam bahasa Arab berjumlah 19 huruf. Setiap kosakata yang digunakan di dalamnya berhubungan dengan angka 19. Kata ism terulang 19 kali, ar-Rahman 57:19=3, ar-Rahim 114:19=6, Allah 2697:19=142.

Ingat teori Rashad Khaifah yang mengatakan Alquran menggunakan rumus 19, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muddatsir 74: 30 (Wa ‘alaiha tis’ata ‘asyar/Di atasnya ada sembilan belas). (Samikh ‘Athif Al-Zain, Majma’ Al-Bayan Al-Hadits, tafsir Mufradat Alfadh Al-Qurán Al-karim, h 34).

Penjatuhan (hadzf) huruf alif di dalam ayat itu sudah sesuai dengan tradisi bahasa Alquran, seperti tiga kali terulang bentuk kata seperti ini, yakni QS Al-Fatihah: 1, An-Naml: 30, dan Hud: 41.

Penjelasan senada juga disampaikan Abd Allah ibnu Husain Al-Akbary dalam At-Tibyan fi I’rab Al-Qur’an. Al-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir juga berpendapat bahwa pembuangan huruf alif sebelum kata ism hanya urusan teknis bahasa Arab.

Berbeda dengan ulama tasawuf dan mufasir Syiah yang memberikan makna khusus ketiadaan hurus alif sebelum kata ism. Penafsiran basmalah diurai perinci seperti yang dilakukan Al-Qummi dalam tafsirnya.

Ia mengatakan, al-ba’u Bahaullah (kemahaagungan Allah), al-sin sanaullah (kemahatinggian Allah), al-mim mulkullah(kemahakuasaan Allah), al-Allah Ilahu kulli syai’ (Tuhan seru sekalian alam),
Kemudian al-rahman bi jami’ khalqihi (Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk-Nya), al-rahim bi al-mu’minin khashah(Maha Penyayang secara khusus diberikan kepada hamba-Nya yang beriman). (Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, juz 56, hlm 56).

Tafsir Al-Kafi mengutip riwayat dari Al-Baqir, “Kitab yang pertama kali Tuhan turunkan dari langit ialah basmalah. Apabila membacanya jangan lupa memohon perlindungan terhadap Allah SWT. Jika dibaca, Allah akan melindunginya dari bahaya yang ada di antara langit dan bumi.” (Al-Kasyani dalam Tafsir al-Shafi, juz 1, hlm 82).

Senada dengan riwayat yang disampaikan Ibnu Abbas, Anna likulli syai’in usas. Wa usas al-Qur’an al-Fatihah wa usas al-Fatihah Bismillahirrahmanirrahim. Segala sesuatu mempunyai inti dan intinya Alquran ialah basmalah. (Majma’ Al-bayan oleh Al-Thabrisi, juz 1 hlm 20).

Dalam kitab Al-Muwaqif fi Ba’dh Isyarat Al-Qur’an ila Asrar wa Al-Ma’arif, oleh Abdul Qadir Al-Hasani Al-Jazairy dijelaskan, “Membaca basmalah di awal pekerjaan bukannya tanpa maksud, melainkan untuk pujian. Huruf ba adalah untuk perlindungan dan pertolongan (isti’anah).”
“Sebagaimana firman Allah, “Mohonlah pertolongan kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 127) dan “Hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” dan hadis sahih, “Tiada daya upaya dan kekuatan selain Allah.” (Juz 1 hlm 551-552).

 Menurut pendapat para arifin, huruf ba sebenarnya mengisyaratkan perbuatan Allah yang melekat atau tak terpisahkan dari perbuatan manusia. Karena itu, ba (bism Allah) berarti min (bagian) dari perbuatan Allah.

Meskipun perbuatan Allah tidak terlihat secara visual, kita bisa menyaksikan substansi perbuatan (shudur al-af’al) Allah yang terdapat di dalam semua bentuk perbuatan kita. Eksistensi-Nya dapat dilihat pada setiap makhluk, termasuk perbuatan-Nya.

Dalam bahasa Ibnu Arabi, pena-Nya terus menulis sesuai dengan kemauan-Nya yang kesemuanya mengalir dari titik di bawah ba pada kata Bismillah.

Uraian di atas dinafikan oleh Al-Zamakhsyari, tokoh Mu’tazilah dalam Tafsir Al-Kasysyaf, bahwa huruf ba hanya kelaziman bahasa (malabisah) tidak ada pengaruhnya di dalam memulai suatu pekerjaan.

Hasil akhir sebuah perbuatan ditentukan oleh kualitas dan kuantitas orang yang berbuat. Ia seolah-olah tidak ingin memistikkan basmalah, seperti terkesan di dalam penjelasan tafsir Syiah dan tafsir Isyari.

Golongan Sunni lebih selektif, meskipun punya kecondongan pada pendapat ulama tafsir Isyari. Mereka menganggap membaca basmalah sangat besar pengaruhnya karena menganggap perbuatan itu sebagai ikhtiar.

Karena itu, selain mendatangkan pahala bagi yang membacanya, juga menjadi wujud ketaatan dan kepasrahan hamba kepada Tuhannya. Bagi mereka, fungsi huruf ba ialah sebagai wujud keakraban dan kelaziman (al-mushahabah wa al-mulabasah).

Bagi para filsuf, fungsi huruf ba dalam bism Allah (Baca: Bismillah) adalah lambang kekhalifahan manusia. Apa pun yang kita kerjakan diperintahkan Rasulullah untuk membaca basmalah. Artinya ialah “Atas nama Allah”, bukan “Dengan nama Allah”. Jika membaca terjemahan yang terakhir ini seolah-olah dimensi mistiknya menonjol. Pokoknya, dengan membaca basmalah (Dengan nama Allah), otomatis ada pertolongan Tuhan.

Akan tetapi jika membaca terjemahan pertama (Atas nama Allah), tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, sebagai representasi Allah, akan selalu terbayang.

Kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini, karena semua yang kita lakukan di muka bumi ini adalah ‘mewakili’ Allah, karena manusia adalah representasi-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’

Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah: 30).

Ayat ini memberi arti penting posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi, akan tetapi juga mengisyaratkan Allah tidak akan terlibat langsung, paling tidak dalam pandangan visual manusia, karena Ia telah menunjuk representatif-Nya.

Sebagai representasi Tuhan, maka wajar kalau tanggung jawab yang diemban manusia sungguh amat luar biasa beratnya. Inilah makna basmalah, “Atas nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang”.

Secara gramatikal bahasa Arab, terjemahan “Atas nama Allah” atau “Dengan nama Allah” keduanya dimungkinkan. Jika dalam suatu acara presiden berhalangan datang untuk membuka sebuah acara lalu didisposisikan kepada wakil presiden atau salah seorang menterinya, kalimat yang digunakan wapres atau menteri ialah “Bi ism al-rais al-jumhuriyyah … ” (Atas nama Presiden …). Dengan demikian, makna basmalah menjadi amat penting dalam eksistensi kehidupan manusia.

Tidak adanya huruf alif sebelum kata ism, yakni huruf ba langsung menempel kata ism (bism Allah), sebagai wujud kedekatan antara pemberi amanah dan yang diamanati, antara perbuatan dan pembuatnya, dan antara sifat dan yang disifati. Dari segi ini cukup berdasar jika kalangan ulama tasawuf, ulama Syiah, dan kecenderungan ulama Sunni memberi bobot lebih penting terhadap lafal basmalah.

Mereka yakin bahwa semua perbuatan yang diawali dengan basmalah pasti mendatangkan berkah. Mari kita memulai seluruh perbuatan kita dengan basmalah (Atas nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang). Wallahua’lam.

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Redaktur: Chairul Akhmad
Editor: Cepiar Abdurrohman
unnamed (5)
Sumber:

Tinggalkan komentar

Filed under Tasawuf

Dengan nama Allah

unnamed (5)

Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Kasih sayang Mu menembus batas. Melewati ruang dan waktu. Setiap dzat memuji Mu hingga semesta raya tunduk dan bergetar dalam naungan kasih sayang.

Kasih sayang Mu hadir di setiap jiwa yang sadar. meliputi makhluk yang bersih dan mencari Mu hingga sirna dalam cinta.

Aku melangkah menyusuri jalan panjang dan menari penuh cinta. Kusebut nama Mu dengan bangga dan ku bernyanyi hingga tiada lagi selain Mu yang kurasa. Ku cinta Kamu dengan sederhana. Hilang sudah Aku dalam diri Mu yang Mulia hingga aku hina dan nampak celaka menurut mereka yang tertutup mata hati nya.

Dan hamba Mu yang sadar tersenyum pada ku. Mereka tenggelam dalam kasih sayang dan cinta. Ku sebut nama Mu dengan cinta dan kagum. Cinta pada Mu hingga tergila-gila. Gila pada Mu hingga penuh cinta.

Dengan nama Mu aku bahagia. Hidup bebas terbang melayang tanpa terikat duka. Damai dalam taman bumi yang sejuk dan harum bunga melati. Dengan nama Mu aku bernyanyi hingga tiada lagi nama selain Mu. Dengan Mu aku menari di setiap jalan yang ada.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Surah Ali Imran 26-27

Al-Imran-26-27

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran ayat 26)

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. (QS Ali Imran ayat 27)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized