Monthly Archives: Oktober 2012

Kiki Syahnakri

Gambar

Kiki Syahnakri merupakan negarawan yang senantiasa tanggap terhadap isu di negara ini, pemikirannya banyak memberikan pengaruh positif bagi kemajuan bangsa indonesia jika diterapkan dalam kehidupan berpolitik atau dalam pemerintahan. Selain itu beliau merupakan pengusaha yang tergolong sukses dan patut diperhitungkan keberadaannya dalam panggung bisnis di negara ini. Setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) (1971), Kiki Syahnakri yang lahir pada tahun 1947 merintis karir militernya dan menduduki berbagai jabatan penting kemiliteran, antara lain sebagai Asisten Operasi KSAD (1998-1999), Panglima Darurat Militer Timor Timur (September–Nopember 1999), Panglima Daerah Militer IX Udayana (Nopember 1999–Nopember 2000), serta Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Nopember 2000-Mei 2002). Pada tahun 2001 beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ITCI dan kemudian sejak tahun 2002 sampai dengan Juli 2005 menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Artha Graha. Sejak Juli 2005 hingga saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Artha Graha Internasional.

Kiki Syahnakri lahir pada 1947, bertepatan dengan perjanjian Linggarjati. Dalam perjanjian itu, secara defacto Indonesia sudah berdaulat. Karena orang tua beliau orang pergerakan, keyakinannya kepada kedaulatan dipertegas pada nama Kiki Syahnakri. Kata Syah berarti ‘resmi’. Na dalam bahasa Sunda berarti ‘nya’, sedangkan KRI adalah Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, Syahnakri berarti resminya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi beliau, nama itu sangat berpengaruh dan teramat istimewa. Nama adalah doa, dan terealisasi dalam kehidupan Kiki Syahnakri, beliau senantiasa berupaya dalam memajukan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Selain itu beliau aktif dalam dunia pendidikan, turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) merupakan kampus terbesar di Karawang Jawa Barat yang beliau bina. UNSIKA merupakan perguruan tinggi negeri yang senantiasa tumbuh dan berkembang lebih baik dari tahun ke tahun. Beliau juga aktif sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) dan Ketua I Yayasan Jati Diri Bangsa.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Mr. Syafruddin Prawiranegara

Gambar

Mr. Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun) adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.

Tokoh yang lahir di Anyar Kidul yang memiliki nama kecil “Kuding” ini memiliki darah keturunan Sunda Banten dan Minangkabau. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Ia menikah dengan putri bangsawan Banten, melahirkan kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad Prawiraatmadja. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa, namun cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang oleh Belanda ke Jawa Timur.

Syafruddin menempuh pendidikan ELS pada tahun 1925, dilanjutkan ke MULO di Madiun pada tahun 1928, dan AMS di Bandung pada tahun 1931. Pendidikan tingginya diambilnya di Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) pada tahun 1939, dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Magister Hukum).

Sebelum kemerdekaan, Syafruddin pernah bekerja sebagai pegawai siaran radio swasta (1939-1940), petugas pada Departemen Keuangan Belanda (1940-1942), serta pegawai Departemen Keuangan Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (1945), yang bertugas sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan DPR. KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara.

Syafruddin adalah orang yang ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI), ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap pada Agresi Militer II, kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka, 1948. Syafruddin menjadi Ketua Pemerintah Darurat RI pada 1948.

Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.

Syafrudin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada tahun 1946, Menteri Keuangan yang pertama kali pada tahun 1946 dan Menteri Kemakmuran pada tahun 1947. Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah terjadi Agresi Militer II dan menyebabkan terbentuknya PDRI.

Seusai menyerahkan kembali kekuasaan Pemerintah Darurat RI, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada tahun 1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan antara tahun 1949-1950. Selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, pada bulan Maret 1950 ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.

Syafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, pada tahun 1951. Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir, yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.

Pada awal tahun 1958, PRRI berdiri akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi dan pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat. Syafruddin diangkat sebagai Presiden PRRI yang berbasis di Sumatera Tengah.

Pada bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya bergabung dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk PRRI.

Syafrudin Prawiranegara memilih lapangan dakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Namun berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini dilarang naik mimbar. Pada bulan Juni 1985, ia diperiksa sehubungan dengan isi khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404 H di masjid Al-A’raf, Tanjung Priok, Jakarta. Dalam aktivitas keagamaannya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI). Kegiatan-kegiatannya yang berkaitan dengan pendidikan, keislaman, dan dakwah, antar lain:

Anggota Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan & Pembinaan Manajemen (PPM), kini dikenal dengan nama PPM Manajemen(1958)

Anggota Pengurus Yayasan Al Azhar/Yayasan Pesantren Islam (1978)

Ketua Korps Mubalig Indonesia (1984-??)

Ia juga sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.

Syafruddin Prawiranegara meninggal di Jakarta, pada tanggal 15 Februari 1989, pada umur 77 tahun.

Syafruddin menikah dengan Tengku Halimah Syehabuddin.[1] Mereka memiliki delapan orang anak, dan sekitar lima belas cucu. Cucunya ketiga belas lahir di Australia sebagai bayi tabung pertama keluarga Indonesia, 1981.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Pemuda Indonesia

Pemuda Indonesia

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Soenario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.  Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disemprnakan:

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Dahlan Iskan Menyerang DPR

Beberapa waktu lalu, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga mengirimkan pesan pendek (SMS) kepada Sekretaris Kabinet, Dipo Alam. Dipo mengatakan, Dahlan berterima kasih dengan adanya Surat Edaran Nomor SE-542/Seskab/IX/2012 tentang Pengawalan APBN 2013-2014 dengan Mencegah Praktek Kongkalikong.

“Dia dan jajarannya bertekad menolak bila ada oknum DPR yang minta jatah dalam pencairan PMN,” kata Dipo.

Pernyataan Dahlan soal pemerasan yang dilakukan anggota Dewan membuat Ketua DPR Marzuki Alie berang. “Kalau menyebut oknum tidak apa-apa, tetapi ini kan disebutnya anggota. Harus hati-hati kalimatnya,” ujarnya.

GambarDia meminta Dahlan membuktikan pernyataannya tersebut. “Kalau ada anggota DPR yang minta, laporkan, dong. Jangan seperti itu, akhirnya hubungan menjadi tidak baik.”

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

The Power of Woo

Apa itu Woo?

Banyak para penulis terkenal di dunia memperkenalkan kepada kita bahwa “woo” adalah suatu keahlian untuk “Winning Others Over“. Dengan kata lain, “woo” merupakan keahlian untuk menguasai oranglain secara halus dan lembut. Dalam bahasa Indonesia “Woo” berarti “Merayu”, silahkan Anda tafsirkan sendiri “Woo” menurut keingginan masing-masing.

Jika kita sepakat mengartikan “woo” dengan kata “merayu” yang terpikir pertama adalah kata “woo” berhubungan dengan masalah “cinta” atau “sex”, karena sebagian besar film-film di negeri ini syarat dengan hal-hal yang cengeng, galau, dan bahkan berbau selangkangan. Tapi menurut saya sah-sah saja untuk berekspresi, ini negara demokrasi, kita bebas berekspresi dijamin dan dilindungi hukum yang berlaku. Namun yang saya ingin bahas di sini adalah kata “woo” yang berhubungan dengan “bisnis” atau “uang”.

Ingat kah kita waktu kecil pernah merayu (woo) baik Ibu maupun ayah kita untuk memberi uang jajan? Pernahkah Anda merayu (woo) teman sekolah untuk membelikan Anda minuman atau makanan? Pernahkah Anda merayu (woo) saudara kandung Anda untuk memberi uang jajan, atau merayu (woo) untuk meminjam uang? Jika jawaban anda adalah “pernah” berarti Anda patut bangga, karena Anda meiliki bakat menjadi Pengusaha Besar di Negeri ini. Karena keahlian merayu (woo) itu sangat penting dalam bisnis.

Kemamapuan kita dalam merayu (woo) sangat berperan besar dalam menetukan terjalinnya kerjasama bisnis, kesepakatan, mendapatkan modal, dan menjual produk. Kekuatan kita dalam merayu (woo) akan berbanding lurus dengan keberhasilan bisnis, semakin besar kekuatan merayu kita semakin besar pula langkah menuju keberhasilan. Pengusaha-pengusaha besar di dunia pada umumnya menyadari bahwa mereka adalah manusia perayu yang handal, sebagian mereka pelajari dari bangku sekolah sebagian lagi belajar dari pengalaman.

Kita mungkin pernah membaca di harian nasional ataupun internasional seperti Wall Street Journal memberitakan bahwa Barbara Broccoli dan Michael Wilson salah seorang pemilik waralabafilm James Bond telah melakukan “woo” kepada pengusaha besar Sir Richard Branson untuk menjadi mitra dalam film James Bond terbaru.

“The Power of Woo” setiap orang tentu saja berbeda-beda satu sama lainnya. Ada yang memiliki keahlian “Woo” yang besar dan kecil, kekuatan woo yang tinggi dan rendah, namun itu semua bukanlah masalah, karena “Woo” bisa dipelajari.

(*bersambung)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized