Berjalan di Pagi yang Cerah

Angin membelai rambutnya yang terurai dan hitam berkilau indah. Setiap langkahnya menggetarkan debu hingga hati yang memandangnya. Kicauan burung seakan-akan menyertai langkahnya di pagi yang cerah ini. Lagi-lagi angin membelai rambutnya yang cerah nan indah. “Oh Tuhan, tolong Aku memilikinya” gumam ku sambil melangkah di belakangnya. Bel berbunyi lantang diikuti Pak Darto menutup gerbang sekolah sangat cekatan, saking cepetnya sampai-sampai tak menghiraukan siswa-siswi lainnya yang berlari panik kearahnya untuk melewati gerbang sekolah ini yang tampak disibukan dengan siswa-siswi memasuki kelas mereka masing-masing. Kulihat pula dia memasuki kelasnya, sempat-sempatnya kumencuri pandang padanya. Senyumnya yang indah, kulitnya yang putih serasi dengan seragam putih yang dikenakannya. Dia raib dari pandangan setelah melewati pintu kelas itu, kelas 3-F.

Beginilah pemandangan dan suasana setiap pagi yang ku rasakan, sampai-sampai kuhadapi bagaimana rasanya terlambat dan dibentak Pak Darto, hingga dihukum kepala sekolah memunguti sampah di lapangan sekolah ini. Aku sering kali terlambat, banyak alasannya; mulai dari telat bangun, ketinggalan perahu, kehujanan, menunggu teman yang telat bangun, menunggu uang jajan, dan banyak lagi alasan-alasan kenapa Aku terlambat sekolah, dari sekian banyak alasan itu tak ada satupun yang dapat diterima, karena alasan hanyalah sebuah alasan. Namun, Aku akan mengutarakan berbagai alasan ketika ditanyakan kepala sekolah “Kenapa terlambat?”

“Dasar penjaga ‘Gerbang Kesuksesan’ sialan” umpat seorang siswa yang kesal karena datang terlambat dan baru dapat melewati gerbang sekolah setelah cekcok mulut dengan Pak Darto. Maklum Pak Satpam itu mantan preman yang belum lama menjadi satpam di sekolah ini. Dengar-dengar, Pak Darto pernah dipenjara karena ketangkap basah memukuli tetangganya hanya karena dia ditegur oleh si tetangga agar tidak berjudi di depan lapangan depan rumah tetangganya. “Sekolah kriminal” gumam ku dalam hati. tetapi tiba-tiba Aku ngeri dan menyesal berpikir kalo sekolah ini kriminal. Aku heran kenapa berpikir sejahat itu, setan apa yang menghembuskan negativitas kedalam pikiranku ini jangan-jangan memang ini sekolah kriminal, tuch kan berpikir negatif lagi. Kehidupan adalah hasil dari pikiran. Pikiran negatif menghasilkan kehidupan negatif, pikiran positif menjadikan kehidupan positif, mungkin itu yang dimaksud Sidharta Gautama (Sang Budha).

Ovenk” teriak anak di belakang ku. Sekejap saja dia merangkul pundak ku dan menyeringai sambil menarik nafas tersendat-sendat. Kesiangan juga dia.

Ronk, tumben lu telat, kenapa?” tanyaku singkat sambil tersenyum. Bironk, dia seorang teman yang bisa diandalkan, dapat diandalkan dalam hal mentraktir. Anak juragan ayam ini bisa dibilang salah satu anak tajir di kelas kami, kelas 3-A.

“Ga da angkot, Venk” jawabnya singkat pula.

Kami memasuki kelas, tak lama kemudian guru Matematika memasuki kelas kami. Pak ‘Boby’, begitulah sebutan sebagian besar murid di sekolah ini kepada guru Matematika ini yang mempunya nama lengkap Falah Hidayatullah. “Kasihan Pak Falah” pikir ku, coba bayangkan bagaimana perasaanya sekiranya dia tahu kalau sebagian besar anak-anak di kelas ini bahkan di sekolah ini menghinanya, ‘Boby’ kependekan dari Botak Biadab. Sadis, penghinaan yang sadis dari murid terhadap seorang guru yang bersusah payah mencerdaskan mereka.

“Selamat Pagi anak-anak!” ucap Pak Falah

“Pagi Pak” sahut seisi kelas, singkat dan semangat. kurasakan semangat mengalir di darah ku, dan tampak seisi kelas pun semangat menyongsong pagi ini dengan belajar Matematika.

Seperti biasa setelah ucapkan salam, Pak Falah langsung memberikan pengantar mengajar dengan mengutip ayat-ayat al-Quran. Begitulah kebiasaannya mengajar. Sempat dulu Aku bertanya, kenapa beliau selalu membacakan 1 atau 2 ayat dari Al-Quran sebelum mengajar. Sederhana jawabanya, “Al-Quran sumber ilmu, dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir”

1 Komentar

Filed under Kehidupan Yang Sukses

One response to “Berjalan di Pagi yang Cerah

  1. rara

    lho koq brenti critanya
    mana endingnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s