Pendidikan Anak: Mengapa ada Anak Nakal dan Anak Baik?


 

Kalau kita sebagai orangtua, tentu sangat geram melihat anak kita yang bandel, nakal, tidak menurut, melawan, suka membuat ulah, dll

Namun pernahkah kita berfikir dan mengintropeksi diri tentang cara kita mendidik. Kemarahan hanya akan memperparah keadaan, membuat anak semakin liar dan depresi.

 

Dibawah ini beberapa faktor yang mempengaruhi anak menjadi nakal.

A.    Kemiskinan Yang Meliputi Sebahagian Keluarga.

  1. Pertengkaran Serta Perselingkuhan antara Ibu Bapa.
  2. Perceraian dan Kemiskinan.
  3. Masa Lapang Yang Menguasai Kanak-kanak Serta Remaja.
  4. Pergaulan Yang Rosak serta Kawan-kawan Yang Jahat.
  5. Layanan Buruk Ibu Bapa Kepada Anak.
  6. Tersebarnya pengangguran dalam masyarakat.

Cara mengatasi pengangguran:
1. Pemerintah serius dan konkrit menyediakan lapangan pekerjaan, memudahkan rakyat untuk membuka usaha (saat ini ijin usaha dipersulit).
2. Menjadi wajib atas anggota masyarakat membantun pengangguran sehingga ia mendapat pekerjaan.

Sesungguhnya Allah suka sifat lembut dalam segala urusan.
(Riwayat al-Bukhari)

Iklan

4 Komentar

Filed under pendidikan

4 responses to “Pendidikan Anak: Mengapa ada Anak Nakal dan Anak Baik?

  1. ekojuli

    Mencari Cara Mengasuh anak Tanpa Memarahi, apalagi dengan kekerasan:

    klik: Mencoba Mempraktekkan Reward & Punisment pada Anak

  2. Aku

    Suatu waktu ada seorang anak santri yang sangat nakal sekali sampai membuat lurah pondok (kakak pengurus) mengadukannya pada Kyai,
    “Kyai, anak ini nakal sekali. Bagaimana kalau dikeluarkan dari pondok saja”, kira-kira begitu kata-katanya.
    “Kamu ini bagaimana…” jawab Kyai, “Anak ini dititipkan orang tuanya agar ia pintar. belum juga pinter sudah kau suruh pulang.”

    Anak bandel tersebut pada masa kini kita sebagai Sunan Bonang (Ditulis dalam Buku Pil Koplo dan Don Quixote, Muhamad Shobari).

    Pendidikan kita hari ini bertolak belakang dengan sikap Kyai tersebut. Kita hanya mendidik anak-anak yang pintar (pintar dalam aspek tertentu, yakni pelajaran yang diajarkan). Kalau demikian, sekolah tidak melakukan apa2. Toh anak sudah cerdas. Kalau ada itu pun tidak signifikan. Sekolah hanya berfungsi sebagai portal, mengizinkan siapa yang lewat. Bukan mengubah. Signifikan adalah ketika melakukan apa yang dilakukan Kyai tersebut. Sekolah justru tidak mengurusi anak yang butuh diurus. Justru mengeluarkan anak-anak yang bandel. Jika bukan sekolah siapa yang mendidik mereka? Orang tua? Orang tua menitipkan pada kita. Preman pasar? Kita percaya yang pintar adalah guru. 🙂 hehe….

  3. Aku

    Tak kalah menarik, Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya Totto-Chan (1981) menuliskan kisah-kisahnya semasa sekolah di Tomoe yang didirikan oleh Bapak Kobayashi di Jepang. Sekolah yang terbuat dari gerbong kereta berisi anak-anak yang di-DO sejak SD yaitu Totto-chan dan teman-temannya yang mungkin ditolak oleh sekolah umunya (ada diffable jg) berhasil mengantarkan mereka menjadi pribadi yang baik (Note: Tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi. Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi muslim). Salah satunya berhasil menjadi fisikawan dunia. Kobayashi mencintai anak-anak, menjiwai anak-anak, dan melakukan impromptu dalam pendidikan berupa anak-anak mengikuti urutan pelajaran sesuai dengan pilihan yang disenangi. Pada saat jam pertama jika si anak suka fisika maka bisa bereksperimen membakari alkohol, yang suka menulis boleh menulis, dst. Kobayashi juga rupanya lebih ‘imam sjafii’ dibanding kita yang muslim. Contohnya pada saat ada guru yang tidak sengaja menyinggung rasa percaya diri anak, maka Kobayashi memerahi dan melupkan kekecewaannya tidak di depan anak-anak atau guru lain tetapi di dapur.

    Sunan Bonang, Totto-Chan, adalah anak-anak yang beruntung berada di tangan yang tepat. Selamat berjuang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s