Norman Borlaug, pemberi makan dunia


BorlaugSiapa manusia yang paling berjasa di abad ke-20? Kita bisa menjawabnya dengan menyebut sederetan pemimpin besar seperti Roosevelt dan Churchill, atau ilmuwan besar seperti Einstein dan industrialis raksasa seperti Henry Ford. Selain nama-nama besar ini, Norman Borlaug patut menjadi favorit.

Akan tetapi, siapa kini yang mengenal Norman Borlaug? Siapa yang tahu bahwa pada tahun 1970 ia mendapat Hadiah Nobel untuk Perdamaian atas jasanya memberi makan kepada jutaan manusia, mencegah kelaparan massal, dan karena itu memungkinkan perdamaian yang lebih abadi? Siapa yang masih ingat bahwa di tahun 1960-an ia mengawali revolusi hijau, sebuah peningkatan produktivitas pertanian yang dahsyat dan mempengaruhi perkembangan banyak negara, termasuk negara kita?

…..

“Saya juga tidak kenal,” demikian batin saya, menjawab pertanyaan Rizal Mallarangeng yang meresensi buku The Man Who Fed The World karya Leon Hesser di Kompas minggu 22 Oktober lalu. Saya tidak kenal siapa Norman Borlaug. Guru-guru saya juga tidak mengenalkannya. Tapi saya kenal karya Norman ini : IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina yang terkenal dengan padi IR36 dan IR64 waktu saya sekolah menengah dulu. Guru-guru saya juga mungkin tidak tahu bahwa ada tokoh yang berjasa besar mengantar swasembada beras Indonesia tahun 1984, walaupun tidak secara langsung. Ya ini orangnya, Norman Borlaug.

Norman lahir 1914 dari keluarga petani miskin di Cresco, Iowa. Di keluarganya, dia adalah generasi pertama yang bisa mencapai pendidikan tinggi dengan masuk University of Minnesota. Suatu kali dia mendengarkan ceramah Prof. EC Stakman, Ketua Jurusan Patologi Tanaman yang mengubah arah hidupnya. Borlaug bertekad untuk menjadi ahli pertanian dan belajar di bawah bimbingan Profesor Stakman.

Setelah menyelesaikan studi doktor, Borlaug menerima tawaran Prof Stakman untuk membantu pengembangan pertanian di Meksiko yang saat itu sedang mengalami krisis pangan. Program ini sepenuhnya dibiayai oleh The Rockefeller Foundation. Selama 20 tahun Norman Bourlag tinggal di Meksiko, melakukan riset dan pengembangan tanaman gandum. Dari hari ke hari, dengan ketekunan luar biasa, ia dan tim yang dipimpinnya menyilang dan mempelajari pertumbuhan ribuan varietas gandum untuk mencari bibit-bibit baru dengan sifat yang lebih tahan hama dan lebih produktif.

Pada intinya, terobosan Norman Borlaug terletak pada beberapa hal. Ia menemukan metode yang lebih efektif untuk melakukan persilangan verietas dalam jumlah yang massal serta menyempurnakan metode ’shuttle-breeding’.

Tak kalah penting adalah temuan bibit gandum dengan batang yang jauh lebih pendek, yang merupakan penyilangan dari bibit berasal dari Jepang, Norin-10. Dengan batang lebih pendek, varietas ini menghasilkan bulir lebih banyak serta lebih tahan terhadap terpaan angin, juga lebih responsif terhadap aplikasi pupuk.

Dengan metode baru dan varietas unggul itulah Norman Borlaug memulai revolusi hijau. Pada akhir 50-an Meksiko sudah terlepas dari ancaman kelaparan dan mencapai tahap swasembada pangan.

Kebetulan pada masa itu juga terjadi krisis pangan di wilayah India dan Pakistan. Suasana dunia pada 1960-an memang agak kelabu. The Population Bomb, buku populer yang ditulis Paul Ehrlich pada periode itu memaparkan bahwa krisis pangan di India hanyalah bagian dari masalah yang lebih besar: dunia tidak mampu lagi menanggung jumlah penduduk dunia yang terus membengkak, sehingga secara alamiah puluhan bahkan ratusan juta jiwa akan terkena seleksi alam (artinya, mati kelaparan). Norman Borlaug tidak larut dalam pesimisme semacam itu.

Bersama MS Swaminathan, salah seorang penasihat Menteri Pertanian India, Norman membuat revolusi hijau di India. Ribuan ton bibit baru dari Meksiko disebarkan secara luas. Selain itu Borlaug juga berhasil membujuk pemerintahan India agar mengubah kebijakan pertanian dengan penyesuaian harga gandum petani, menyebarkan pupuk lebih agresif, serta memperluas jaringan kredit petani.

Dengan semua itu India berhasil melepaskan diri dari jepitan nasib buruk. Pada awal 70-an negeri kedua terpadat di dunia itu berhasil mencapai swasembada pangan. Bahkan India tak pernah lagi krisis pangan walaupun penduduknya meningkat dua kali lipat dari 450 juta menjadi hampir satu milliar jiwa pada periode itu. Pakistan juga mencapai swasembada pangan, lebih dulu daripada India yaitu di tahun 1968.

Setelah berhasil di India dan Pakistan, revolusi hijau merambah ke berbagai negara lain, dan tidak hanya dengan tanaman gandum. Dengan contoh keberhasilan di Meksiko, The Rockefeller Foundagtion dan The Ford Foundation berinisiatif mendirikan IRRI di Los banos Filipina. Itulah lembaga yang turut membantu Indonesia sempat mengeyam swasembada pangan di pertengahan 80-an.

Penduduk dunia sekarang telah melebihi 5 milyar orang. Diperkirakan akan mencapai 10 milyar di tahun 2050. Akankah terjadi revolusi hijau berikutnya? Ataukah sebagian dari kita akan mengalami seleski alam dan terhempas karena kelaparan? Kini, melihat banyaknya sawah yang berubah menjadi lahan pemukiman, paceklik karena kemarau yang panjang, harga gabah yang buruk sekali dan sebaliknya pupuk yang mahal, petani yang terbelit hutang, dan gelombang protes terhadap impor beras Vietnam, rasanya saya ingin sekali figur Norman Borlaug ini hadir kembali di Indonesia.

Seperti disampaikan Rizal Mallarangeng, direktur eksekutif Freedom Institute di Jakarta yang menulis resensi tersebut, Norman Borlaug patut menjadi tokoh favorit abad 20. Saya setuju sekali, dan kini Norman Borlaug menjadi salah satu tokoh inspriratif dalam hidup saya.

Iklan

2 Komentar

Filed under reality

2 responses to “Norman Borlaug, pemberi makan dunia

  1. qee_mee

    waw…..

    info yang menarik skali…..

    jujur saya baru taw loh…….

    thanks infonya…..

  2. Bagus sekali yach
    bakat diri sangat perlu untuk di kembangkan. Itu berguna buat Kita dalam melangkah maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s