Rumah Makan ”Saung Mirah”


Maju Sejak Promo Ayam Bekakak


BOGOR – Tadinya resto ini tidak seramai sekarang. Mungkin karena makanan yang disajikan hanya makanan tradisional ala Sunda. Resto ini adanya di Bogor dengan menu yang jadi kegemaran di seluruh kota. Menu yang tanpa hidangan barat. Tapi sebetulnya rahasianya bukan di situ. Resto ini kini banyak dikunjungi pelanggan karena mempromosikan hidangan ayam bekakak.
Rumah Makan ”Saung Mirah” namanya. Letaknya di Jl. Pangrango No. 32, Bogor. Tengoklah restonya dengan arealnya yang cukup besar tapi tempat tamu bersantap cukup nyentrik.
Bagi mereka disediakan rumah gedek (saung) sekitar 20 buah yang satu dengan lainnya berhubungan. Dalamnya tidak terdapat meja atau kursi seperti lazimnya resto, hanya tikar.
Para tamu dapat memesan seberapa banyak hidangan dan kemudian mereka akan makan sambil duduk di lantai. Kalau di Jawa Tengah dikenal dengan ”warung lesehan” alias duduk ngedeprok di lantai. Enggak peduli tamu pakai jas atau celana pendek, itulah khasnya di resto ini. Tapi di ruang tengah dekat dengan dapur disediakan juga ruangan besar dengan meja kursi duduk untuk sekitar tiga puluh orang.
Ini dibuat mungkin mempertimbangkan kalau-kalau ada orang yang tidak bisa bersantap kalau harus ”lesehan” di lantai atau kalau-kalau ada pelanggan bule yang kaku duduk di lantai mengingat kaki bule biasanya panjang-panjang. Atau ada pertimbangan lain, yakni ada tamu kelas eksekutif yang enggak biasa makan sambil bersimpuh di lantai. Pokoknya resto Saung Mirah itu di-design untuk resto yang santai, lain daripada resto yang lain.
Manager restoran Kanwa menceritakan sejak dibuka tanggal 15 Febuari 1999 lalu, tamu resto ini kurang begitu banyak. Tapi setelah manajemen mulai mempromosikan ayam bekakak di mana-mana, bahkan di pintu masuk resto dipasang spanduk besar untuk menarik perhatian para pelanggan. Tidak berapa lama tamu mulai ramai. Padahal dalam menu ayam bekakak sudah ada sejak resto itu berdiri, jadi bukan hidangan baru.
Cara Memasak
Nama ayam bekakak menurut Kanwa diambil dari tradisi kampungnya yang biasanya kalau perayaan seperti khitanan atau lainnya ayam ini ini disajikan di upacara ritual itu. Ayam yang baru disembelih diberi bumbu kemudian dipanggang jadi kadang-kadang rasa ayam itu masih keras apalagi kalau ayamnya tua.
Tapi di resto Saung Mirah, ayam itu oleh pengelola dikukus dulu hingga empuk kemudian baru diberi bumbu untuk beberapa saat baru kemudian dipanggang di atas arang. Rasanya lumayan enaknya apalagi disantap dengan nasi panas dan sambal khusus.
Ayam ini ternyata selain tulangnya mudah dilepas dan tulang yang kecilnya pun dapat dimakan karena sudah empuk. Di resto ini juga disediakan lalap-lalapan dan sambal terasi seperti wajarnya kalau dijamu di rumah orang-orang Sunda.
Manajer Resto Kanwa dalam pengakuannya bisa menjual ayam bekakak antara 80 sampai dengan 100 ekor seharinya belum termasuk hidangan yang lainnya. Ini sudah termasuk pesanan luar dan pesan bawa pulang (take away). Ini tambahan yang luar biasa ketimbang dulu hanya beberapa ekor saja.

Mas Goreng Unyil
Dari puluhan masakan tradisional Sunda dan Indonesia, ada yang kita tidak pernah temui di sana yakni ikan ”Mas Goreng Unyil”. Percaya atau tidak, ada pelanggan yang sudah memesan, tapi setelah pesanan Mas Goreng Unyil itu datang, tamu tak jadi memakannya. Karena mas goreng unyil itu benar-benar ikan mas yang masih anak alias ”ingusan” telah ”dibantai” dalam penggorengan hanya untuk memuaskan para tamu.
Anak-anak ikan mas ini berukuran sekitar 2,5 – 4 cm panjangnya kemudian digoreng kering hingga rasanya semacam makan kerupuk kecil. Karena ikan itu sangat kecil hingga sewaktu dimakan pelanggan tidak dapat merasakan tulang atau duri yang nyangkut di leher, tidak hanya itu rasanya pun boleh juga. Tapi masih kecil begitu kok sudah dimasak? Selain rasanya manis kalau dimakan risiko untuk ketulangan (tertelan tulangnya) tidak ada.
Karena mas goreng unyil itu kini cukup populer ada beberapa resto atau kafe yang meniru resto Saung Mirah ini. Ikan yang sama dengan sambal yang mirip, hanya di resto lain memakai nama yang berbeda seperti baby mas goreng atau mas goreng kecil. Tapi yang memperkenalkan pertama masakan ini adalah resto ini. Penggemar mas goreng unyil ini paling banyak bukan para pelanggan dewasa tapi anak-anak pelanggan.
(SH/dra)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Bisnis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s