PILIH BELI TANAH

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 727/XIV

Pak Safir yang terhormat,

Saya ingin saran dari Bapak. Dalam waktu dekat ini saya mendapat tawaran pinjaman uang dari bank. Jumlahnya sekitar Rp 10 juta. Saya dan suami belum tahu uang itu akan diapakan. Kalau menurut suami, sebaiknya dibelikan tanah saja. Tapi saya berpendapat, akan lebih baik jika dipakai usaha kecil-kecilan agar uang itu bisa berkembang. Mengingat kami saat ini masih punya dua anak yang memerlukan pendidikan.

Gaji suami saya sekitar Rp 1 juta per bulan ditambah beras. Mungkin kalau pinjaman jadi keluar, akan dipotong oleh bank. Ini membuat saya makin ragu untuk membeli tanah. Karena ibaratnya, kan, tanah ini mati, tak bisa diapa-apakan, tapi tiap bulan penghasilan kami harus dipotong.

Untuk itu, kami mohon saran dari Pak Safir. Terima kasih sebelumnya.

Ny. SS – Sukabumi

Jawab:

Ibu SS di Sukabumi,

Ada dua hal yang amat penting yang harus Anda pertimbangkan sebelum mengajukan pinjaman, yaitu :

  1. Untuk tujuan apa pinjaman itu diajukan. Jika tujuan pinjaman tersebut belum jelas, maka ada baiknya bila Anda tidak mengambil pinjaman tersebut. Jika Anda tetap meminjam, dikhawatirkan pinjaman itu akan digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak perlu atau memiliki nilai yang menurun. Padahal pinjaman tersebut harus dikembalikan berikut bunganya kan? Pinjaman atau kredit dari Bank pada prinsipnya adalah suatu kewajiban hutang yang harus dibayar kembali oleh si peminjam dengan cara mencicil pada jangka waku tertentu kepada bank. Karena itu, jika tujuan pinjaman tersebut belum jelas, maka saya menyarankan agar Anda tidak mengambilnya.
  2. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bagaimana kemampuan Anda membayar pinjaman tersebut dalam jangka panjang. Bila jangka waktu pembayaran hutang Anda adalah 10 tahun, maka Anda harus bisa memastikan bahwa setiap bulan selama jangka waktu 10 tahun tersebut Anda memiliki penghasilan yang bisa disisihkan sebesar jumlah tertentu setiap bulannya untuk dibayarkan kepada bank. Jangan lupa bahwa jumlah yang harus dibayar tersebut biasanya adalah sebesar kewajiban cicilan hutang pokok + bunganya. Semuanya harus dibayar tepat waktu .

Kesimpulannya adalah bahwa kita boleh saja mengambil pinjaman ke bank asal kita tahu akan digunakan untuk apa pinjaman tersebut dan apakah kita sanggup mengembalikannya. Dalam kasus Anda yang memang ditawari pinjaman tersebut, sayang sekali Anda tidak menyebutkan berapa suku bunganya dan berapa jangka waktu pinjaman yang ditawarkan. Meski begitu, dengan pinjaman tersebut Anda berharap bisa menggunakan uangnya untuk tujuan produktif sehingga dapat meningkatkan penghasilan keluarga. Bila pilihan yang Anda sebutkan adalah menginvestasikannya dengan membeli tanah atau menggunakannya untuk modal usaha, saran saya untuk tiap alternatif adalah sebagai berikut:

Menginvestasikan uang tersebut dengan dibelikan tanah.

Membeli tanah dapat dijadikan salah satu alternatif dalam berinvestasi karena harga tanah dalam jangka panjang biasanya akan selalu naik. Misalkan Anda membeli tanah saat ini dan menjualnya 10 tahun kemudian, maka Anda akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan belinya. Bila Anda menginvestasikan uang tersebut dengan dibelikan tanah, maka sebenarnya uang tersebut tidak mati. Hanya saja investasi dalam bentuk tanah tidak mudah untuk dicairkan / diuangkan jika dibanding dengan investasi ke dalam tabungan, deposito, atau reksadana.

Risiko yang lain adalah biasanya kenaikan harga tanah tidak selalu besar bila Anda hanya berinvestasi selama 1 – 3 tahun saja. Kenaikan harga tanah secara rata-rata akan besar bila jangka waktu investasi Anda di atas sekitar 10 tahun.

Nah, jika dana yang akan digunakan untuk membeli tanah berasal dari pinjaman bank, maka Anda harus bisa memastikan bahwa persentasi kenaikan harga tanah itu harus lebih besar daripada bunga berjalan yang harus Anda bayar ke bank. Untuk hal ini, tidak ada salahnya bila Anda mencari informasi terlebih dahulu di sekitar lingkungan tanah itu tentang berapa rata­rata kenaikan harga tanah di daerah tersebut setiap tahunnya.

Bila bunga pinjaman bank pada saat ini rata-rata sekitar 20 persen per tahun, maka pastikan bahwa kenaikan harga tanah Anda adalah di atas 20 persen per tahun. Bila tidak, lebih baik jangan investasikan uang pinjaman tersebut dalam bentuk tanah. Tetapi bila kenaikan harga tanah tersebut diperkirakan lebih tinggi daripada bunga bank yang harus Anda bayar, hal berikut yang harus Anda perhatikan adalah jangka waktu pengembalian pinjaman Anda.

Kalau jangka waktu pengembalian pinjaman Anda cukup pendek, yaitu 3 tahun atau kurang, maka mungkin ada baiknya Anda menghindari investasi dalam bentuk tanah. Ini karena tanah tidak selalu mudah untuk dijual kembali, apalagi bila jangka waktunya hanya 1 -3 tahun.

Menggunakan uang pinjaman tersebut untuk modal usaha.

Dengan membuka usaha, diharapkan keluarga Anda akan mendapatkan penghasilan tambahan rutin dari bisnis tersebut. Nah, jika Anda berhasil mengelola usaha itu dengan baik, maka mungkin saja keuntungan yang didapat dari bisnis tersebut akan lebih besar dan lebih cepat didapat dari pada jika Anda menginvestasikan uang tersebut dalam bentuk tanah.

Saya ambil contoh: jika Anda membuka usaha menjual kue kering, di mana biaya pembuatan kue adalah Rp 10.000 per stoples dan kemudian Anda menjualnya dengan harga Rp 15.000, itu berarti dalam waktu singkat Anda mendapat keuntungan 50 persen. Keuntungan sebesar itu memang hampir dikatakan mustahil bila didapatkan dari investasi di bank, tapi bisa saja didapat bila Anda berinvestasi ke dalam sebuah usaha (apalagi bila itu usaha makanan seperti katering atau kue kering).

Keuntungan lainnya dengan menggunakan uang itu untuk modal usaha adalah bahwa Anda akan belajar tentang bagaimana mengelola dan mengatur penghasilan Anda dari bisnis tersebut agar bisa digunakan untuk membayar biaya-biaya bulanan dari bisnis Anda dan bagaimana agar Anda bisa sekaligus membayar cicilan utang kepada bank. Pengelolaan seperti ini disebut perputaran arus kas.

Dengan memulai usaha sendiri maka Anda juga akan terlatih untuk memakai sistem pembukuan atau metode akutansi yang memang harus ada pada setiap bisnis. Anda bisa memakai sistem pembukuan yang sederhana dan mudah dimengerti, seperti bagaimana mencatat transaksi jual-beli harian dan bagaimana meringkasnya ke dalam sebuah Laporan Keuangan sederhana.

Dengan demikian, pada tiap bulan Anda akan mengetahui perkembangan usaha Anda tersebut, yaitu apakah Anda mengalami rugi atau untung. Jika pinjaman tersebut lunas, maka sisa keuntungan usaha akan menjadi milik Anda sepenuhnya, mengingat bahwa Anda tidak perlu lagi membayar cicilan utang kepada bank setiap bulannya sehingga Anda dapat lebih leluasa untuk mengembangkan bisnis Anda.

Selain itu, Anda dapat belajar menjadi seorang wirausaha, dan tentunya pengetahuan serta bisnis itu sendiri dapat diwariskan kepada anak Anda. Tetapi tentu saja Anda perlu bersedia mengeluarkan tenaga dan waktu yang lebih banyak agar bisnis Anda bisa berhasil.

Sukses untuk Anda.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under property

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s