Bisnis dan Pentas Politik

Surya Dharma Paloh
Jika dieksplorasi ke belakang, Surya Paloh sesungguhnya adalah seorang pebisnis yang sudah lama malang melintang di pentas politik nasional. Kartu Tanda Anggota (KTA) miliknya di Golkar lebih tua usianya dibanding milik Akbar Tandjung, Ketua Umum DPP Golkar. Pengusaha dan politisi sudah menjadi trade mark-nya sejak masa muda di Serbelawan. Dan kedua merek dagang ini selalu jalan beriringan, saling topang, saling isi, saling pengaruh-mempengaruhi.

Awalnya, suatu ketika di tahun 1965, Surya Paloh berkenalan dengan Sofyan, seorang asisten perkebunan di Dolok Merangir. Tempat ini jauhnya lima kilometer dari rumah tinggalnya di Serbelawan. Sofyan lalu memperkenalkan Surya, remaja yang masih 14 tahun kepada A Gu, seorang grosir teh di Pematang Siantar. Perkenalan inilah yang membuahkan awal mula keterlibatannya sebagai leveransir yang menyuplai berbagai kebutuhan ke para pekerja perkebunan yang ada di Dolok Merangir. Seperti ikan asin, teh, tembakau dan minyak goreng.

Di lingkungan domestik keluarga saat itu, Surya sudah terbiasa membawa pulang ke rumah berbagai kebutuhan rumah tangga, ya, seperti ikan asin, minyak goreng dan lain-lain untuk menyenangkan hati ibunya yang sangat dicintai bahkan selalu memberinya banyak kemanjaan, Hj. Nursiah. Surya kecil bukan hanya tidak lagi memerlukan uang jajan dari orangtua, melainkan sudah mampu menabung sebagian penghasilannya.

Pada saat bersamaan bergelora pula pergolakan politik lokal, sebagai imbasan percobaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Gerakan 30 September/PKI. Surya Paloh yang di tahun 1964 sudah mendirikan dan menjadi Ketua Umum GPP (Gerakan Pemuda Pelajar) Dolok Batunanggar, Simalungun, Sumatera Utara, mulai pada tahun 1965 kembali mendirikan sekaligus memimpin Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) sub rayon Serbelawan. Setahun kemudian, bersama enam orang sahabat, dia mendirikan KAPPI di tingkat Kecamatan Dolok Batunanggar, dan memimpinnya sebagai Ketua Umum tahun 1966-1968.

Dibandingkan kakak dan adik-adiknya, Surya memang sudah memiliki talenta berorganisasi, menampakkan jiwa kepeloporan, serta kemampuan orasi yang baik sejak belia. Di KAPPI Kecamatan Dolok Batunanggar inilah secara lebih luas dia berkesempatan menujukkan kepeloporan dan kepemimpinan tersebut. Sejak itu pula dia mulai intens menggeluti dunia politik jalanan, misalnya menjadi demonstran yang hampir setiap hari melakukan unjuk rasa atau rapat akbar.

Lingkup pergaulannya terus berkembang dari daerah yang satu ke daerah lainnya mengikuti perpindahan tugas ayahnya Muhammad Daud Paloh sebagai seorang polisi. Antara lain dari Labuhan Ruku, Talawi, Asahan ke Serbelawan, Simalungun. Saat ayahnya piindah ke Tarutung (1967), Surya memilih hijrah ke Medan dan melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 7, Medan.

Ketika berlangsung transisi kepemimpinan nasional, dari rezim Orde Lama ke Orde Baru, berkat kejelianya melihat arah perubahan bandul politik, Surya langsung bergabung dengan Gerakan Pelajar Pancasila (GPP) tingkat Sumatera Utara, yang dipimpin oleh Tomiyus Djamal. Karena memang sejak di Serbelawan sudah terlatih sebagai Ketua Umum GPP Dolok Batunganggar, dia tampak lebih menonjol dibanding ketuanya yang kalah pamor. Surya sepertinya mempunyai kekuatan dan kharisma magis. Apalagi dia dikenal sebagai orator yang dapat meyakinkan massa dengan mudah.

Sebagai pemuda pembawa suara masa depan, dia tidak diam berpangku tangan menorehkan gagasan tentang masa depan. Pengalaman sebagai anak Serbelawan baginya cukup untuk bersanding sebagai Ketua Presidium KAPPI tingkat Kota Medan, Sumatera Utara tahun 1968-1970.

Sebagai anak kolong yang besar di lingkungan asrama polisi, maka ketika hidup di lingkungan dan situasi yang marak dengan perkelahian antar anak kolong di Kota Medan, Surya mengambil prakarsa mendirikan organisasi Persatuan Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) di Medan, tahun 1968, yang menghimpun dan mengarahkan semua anak kolong dalam satu wadah tunggal. Surya menjadi Ketua Umum PP-ABRI Medan, Sumatera Utara antara tahun 1968-1974.

Setahun pendirian PP-ABRI membuahkan hasil lain pada dirinya. Surya terpilih menjadi Ketua Koordinator Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Golkar (Ko-PPM Golkar). Dia menjadi Ketua Umum Ko-PPMG Golkar Medan, tahun 1969-1972. Golkar adalah organisasi dan alat politik baru yang sengaja dilahirkan Tri Karya bersama ABRI, awalnya terutama untuk menandingi dan mengalahkan niat jahat PKI.

Sebagai Ko-PPM Golkar, Surya mulai sadar bahwa dirinya sudah mulai masuk di zona politik praktis. Sehingga, pada Pemilu 1971, Pemilu pertama di era Orde Baru, Surya Paloh menjadi calon anggota legislatif termuda untuk DPRD II Kota Medan.

Prakarsa pendirian PP-ABRI Sumatera Utara, satu-satunya daerah yang memiliki organisasi sejenis di seluruh Indonesia, masih belum berhenti membuahkan hasil. Prakarsa tersebut menjadi penyumbang bekal terbesar ketika di kemudian hari di tingkat nasional, bersama putra-putri perwira tinggi ABRI lainnya, dia membidani kelahiran Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) di Jakarta.

Sambil berkiprah di organisasi sosial kemasyarakatan dan pemuda serta “mengamankan” anak-anak kolong yang menjurus ke premanisme ala Medan, bahkan ditambah sebagai politisi muda di zona politik praktis, Surya tak lupa menjalankan dua peran penting lainnya: sekolah dan berbisnis.

Ketika memasuki SMA Negeri 7 Medan tahun 1967, Surya bekerja pula sebagai Manajer Travel Biro Seulawah Air Service. Setamat SMA duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), antara tahun 1972 hingga 1975, Surya dipercaya mengelola Wisma Pariwisata, di Jalan Patimura, Padang Bulan, Medan oleh pemilik Baharuddin Datuk Bagindo, yang juga memiliki pabrik korek api PT BDB di Pematang Siantar.

Sejak tahun 1973 bersama kakak iparnya Jusuf Gading, Surya dipercaya sebagai Direktur Utama PT Ika Diesel Bros untuk menjalankan usaha distributor mobil Ford dan Volkswagen, di Medan. Lalu, di tahun 1975 ditunjuk pula menjadi kuasa usaha direksi Hotel Ika Darroy, terletak di Banda Aceh, merangkap sebagai Direktur Link Up Coy, Singapura, yang bergerak di bidang perdagangan umum.

Usaha dan bisnis yang berhasil dijalankan menghantarkannya ke predikat baru sebagai pengusaha muda. Dan semenjak tahun 1974, untuk tiga tahun ke muka dia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Utara.

Karena kesibukan berbisnis, berorganisasi, dan berpolitik membuat kuliahnya di FH-USU tertinggal sehingga Surya berinisiatif pindah ke Fisip Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dan akhirnya berhasil menamatkannya sebagai sarjana di tahun 1975.

Surya memulai perjuangan hidup baru sebagai anak perantauan saat hijrah ke Jakarta tahun 1977 untuk berbisnis, berorganisasi, berpolitik, hingga menjadi lone ranger pejuang kebebasan dan kemerdekaan pers untuk memantapkan eksistensi sebagai seorang publisher sejati yang selalu menyuarakan perubahan menuju masa depan bangsa yang lebih baik.

Walau sejak tahun 1976 sudah merantau ke Jakarta untuk membangun wacana bisnis, politik dan organisisasi baru namun kerap kali dia masih mondar-mandir Medan-Jakarta mengurusi bisnis yang tersisa berikut kedudukan sebagai Ketua Umum Hipmi Sumatera Utara yang belum berakhir. Dan begitu menetap di ibukota negara Jakarta, maka sebagaimana umumnya anak-anak perantauan khususnya asal Medan, Surya berupaya membangun eksistensi baru sebagai pengusaha muda maupun politisi yang patut diperhitungkan di tingkat nasional.

Tahun 1978 bersama Yoseano Waas dan kawan-kawan dia mempelopori pendirian Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI atau FKPPI. Dalam waktu relatif singkat nama anak Serbelawan ini mulai berkibar terutama di lingkungan Golkar. Dia terpilih menjadi Ketua Umum FKPPI pertama. Pada tahun 1982 Surya terpilih menjadi satu-satunya warga sipil yang dipercaya menjabat anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri.

Namun, kedekatan Surya dengan petinggi ABRI sama sekali tak mengubah sifat, karakter dan idealismenya sebagai politisi muda. Independensi tetap diperlihatkan saat dia harus menyikapi persoalan-persoalan prinsipil walau hal itu berakibat dirinya tak disukai penguasa. Dia mempertahankan kebenaran yang diyakini jauh lebih penting dibanding kepentingan terhadap penguasa.

Sebagai contoh dalam Rakernas FKPPI di Malang Februari 1983 dia membuat kejutan yang kontroversial, yaitu meyakinkan peserta Rakernas untuk menolak usulan agar Presiden Soeharto ditetapkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional dalam Sidang Umum MPR 1983.

Kejutan lain terjadi tiga tahun sebelumnya pada 28 Oktober 1981. Dalam Munas KNPI itu, Surya dalam kapasitas Ketua Umum PP FKPPI menyampaikan sikap, meminta Abdul Gafur tidak melakukan intervensi delam pemilihan Ketua Umum KNPI demi menegakkan nilai-nilai demokrasi. Dia menyampaikannya dengan suara lantang melalui sebuah pidato tanpa teks, langsung di hadapan Menpora Letkol Udara dr. Abdul Gafur yang juga pembina KNPI. Ketika itu Gafur berencana memplot Aulia Rahman sebagai ketua umum baru bersaing dengan ketua umum lama Akbar Tandjung.

Perseteruan dengan Gafur sudah terjadi sebelumnya, pada 20 Juni 1978 saat Surya dan para pendiri FKPPI serta Ketua Umum Pepabri memohon izin pembentukan FKPPI kepada Menpora dan ditolak oleh Gafur.

Kontroversi Kader Golkar
Bila ada yang keliru menilai Surya, mungkin disebabkan sulitnya memisahkan antara idealisme dan latar belakang politiknya sebagai kader Golkar yang kontroversial. Sebab idealisme Surya selalu mewarnai karakter karya jurnalistik Prioritas yang secara diametral sangat bertentangan dengan iklim rezim Orde Baru yang dilahirkan dan ditopang Golkar.

Idealisme itu adalah, menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai wawasan kebebasan pers. Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi pihak manapun.

Surya selalu menempatkan diri sebagai sahabat bagi setiap orang. Namun bersamaan itu dia mendefinisikan pula bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang bersikap kritis, berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan walau terasa pahit. Demikian pula pers yang dia pimpin, sebagai sahabat yang baik pers harus tetap kritis terhadap kekuasaan dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan.

Itulah yang mewarnai karya-karya jurnalistik Prioritas dengan rubrik andalan Selamat Pagi Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu pembaca sebab gaya penyajiannya yang satir serta cenderung sarkastis dan kerap menyoroti fenomena aktual yang ada. Prioritas sesungguhnya merupakan refleksi pemikran seorang Surya dalam melihat bangsanya.

Duet wartawan senior Nasrudin Hars dan Panda Nababan merupakan kunci sukses Prioritas yang mampu menerjemahkan gagasan, pemikiran serta idealismenya ke dalam karya-karya jurnalistik. Setelah menjadi publisher sejati dia masih tetap menjadi sahabat kekuasaan lewat duet Media Indonesia dan Metro TV yang dimiliki untuk menyoroti fenomena faktual yang ada.

Surya Paloh memang kental dengan atmosfir kontroversial baik saat berbisnis maupun berpolitik, atau saat keduanya diayunkan bersamaan. Untuk memperjuangkan proses tender secara fair di PT Pupuk Kaltim, misalnya, karena Indocater miliknya dikalahkan, Surya harus menggebrak James Simanjuntak, direktur utama Pupuk Kaltim. Alasan kalah, Indocater tidak mempunyai jaminan modal yang memadai untuk mengikuti tender.

Surya lalu bergegas menghadap Omar Abdallah, Direktur Utama BBD untuk memperoleh bid bond atau jaminan tender senilai Rp 500 juta, sebab dua hari sebelumnya permintaan serupa telah ditolak BBD Cabang Cikini karena dianggap Indocater tidak kapabel untuk menangani proyek tersebut.

Karena itu, begitu bid bond diperoleh Surya yang di tahun 1980 itu sebagai Ketua Umum FKPPI mengirimi James karangan bunga mawar setinggi 1,5 meter yang ditempel sepenggal kalimat dalam kertas berkop MPR, “Bung James Simanjuntak, semoga sukses. Merdeka!” James akhirnya melakukan tender ulang dan memenangkan Indocater.

Langkah kontroversialnya di politik dan bisnis pers lebih banyak lagi. Bukan sekali dua kali Media Indonesia yang dipimpinnya diancam dibredel. Atau karena keteguhannya menegakkan kebenaran dan demokrasi Surya harus dicari-cari aparat keamanan bahkan suatu ketika nyawanya terancam.

Rekaman sepakterjangnya di Jakarta sebagai anak bangsa antara lain mencatat, sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang, Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun 1999 hinggga sekarang.

Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir, pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel.

Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang kandidat calon presiden dari Partai Golkar.

Itulah Surya Paloh. Pandangan politiknya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi sangat mewarnai sikap dan kebijakannya ketika terjun dalam dunia pers sebagai publisher. Posisi politiknya dalam lingkaran kekuasaan tidak serta merta menghanyutkan dirinya dalam kompromi sungguhpun dia akan menghadapi risiko tudingan sebagai pembangkang atau mungkin penghianat. Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah perjuangan dan keberhasilan.

Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin pencetak uang yang menguntungkan.

Keuntungan itu digunakannya untuk ekspansi usaha termasuk menjajal bisnis pers dengan mendirikan Prioritas dan PT Surya Persindo. Surya bukan tidak mendapat tentangan terjun ke bisnis pers sebab telah jauh lari dari core business katering, terutama dari para manajer puncak Indocater. “Negeri ini masih memerlukan suatu suara yang dicetuskan lewat media cetak. Ini penting, sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia dalam menyuarakan hati nurani,’ jelas Surya kepada Lily Harahap yang tegas-tegas menentang langkah Surya.

“Justru kita harus melahirkan Prioritas agar tidak ada lagi koran yang dibredel,” tambahnya. “Jadi, supaya bisnis dan juga hati nurani saya bisa berjalan beriringan, kita gunakan dulu keuntungan Indocater untuk menerbitkan Prioritas,” lanjut Surya. Lily akhirnya sadar bahwa Surya berwatak sangat independen dan tak mudah didikte.

Surya seperti menemukan dunianya yang sesungguhnya. Dia terus membangun reputasi sebagai publisher, lebih enjoy dan tertantang mengurusi bisnis pers, sementara pengelolaan katering Indocater diserahkan sepenuhnya ke profesional sejak pertengahan dekade 1980-an.

Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia, Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000 orang.

Perjalanan Surya dalam bisnis sesungguhnya tak selalu mencatat keberhasilan. Dia menorehkan pula sejumlah kegagalan. Dan justru di sinilah dia banyak menimba pengalaman serta menambah kematangan diri sebagai pengusaha muda. Dia menggeluti dunia bisnis dari bawah secara otodidak tanpa uang sesen pun, kecuali hanya bermodalkan pergaulan dan kepercayaan.

Konvensi Partai Golkar
Partai Golkar yang dalam beberapa tahun terakhir (era reformasi) ini sering dikritik dan dihujat, karena dianggap merupakan bagian dari masa lalu, adalah partai pilihannya sejak muda, awal berpolitik. Sedikit banyak dia pernah memberi kontribusi demi kebesaran Golkar. Kendati dia sebagai penerbit pers juga mengalami pemberedelan karena kritik-kritiknya yang sering tidak disukai penguasa ketika itu. Karena itu, pilihannya maju sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar dimaksudkannya pula sebagai upaya untuk menyelamatkan partai kebanggaannya itu dari hantaman para penentang.

Surya Paloh memilih Partai Golkar kendaraan menuju kandidat calon RI-1 karena selama 35 tahun berpolitik itulah satu-satunya partai yang pernah dia singgahi. Dia sudah cukup senior semenjak berusia 17 tahun. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Surya salah satu kadder yang paling senior hingga Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG) miliknya lebih tua usianya dibanding sang ketua umum sendiri, Akbar Tandjung.

Dan sekalipun partai berikut ketua umumnya dalam pandangan orang dianggap bermasalah, namun sebagai kader senior Golkar, kondisi tersebut justru sangat menantang baginya untuk semakin berkiprah dalam Golkar. Dia adalah kader yang dibesarkan sekaligus pernah pula dikucilkan oleh Golkar saat hak-hak perdatanya dicaplok.

Oleh Golkar, Surya saat masih berusia 19 tahun sudah dicalonkan sebagai caleg DPRD Tk. II Medan pada Pemilu 1971. Ketika itu, secara elegan akhirnya dia mundur dari pencalonan sadar jam terbangnya sebagai politisi muda masih harus ditambah. Surya mundur untuk sekaligus menaikkan target ke Senayan berebut kursi DPR/MPR.

Di kemudian hari terbukti saat dicalonkan kembali menjadi anggota DPR/MPR RI, dia akhirnya tembus ke Senayan Jakarta menjadi anggota MPR RI saat usia masih sangat belia, 25 tahun. Demikian pula di usia 30 tahun terpilih kembali ke MPR.

Walau sudah matang sebagai politisi muda yang pantas diperhitungkan di pentas politik nasional, dalam usianya sudah 35 tahun, pada Pemilu 1987 Surya tetap dicalonkan namun urung dilantik karena Prioritas, koran yang dipimpinnya dibredel. Total, sebagai kader senior Golkar sedikit-dikitnya sudah lima kali Pemilu dia dicalonkan menjadi anggota legislatif.

Era reformasi yang membuka kesempatan pemilihan presiden secara langsung, memantik kreatifitasnya mencetuskan gagasan Konvensi Calon Presiden Partai Golkar. “Ini, kita lahirkan, lalu kita perjuangkan untuk bisa diterima oleh Partai Golkar,” ujarnya.

Gagasan memperjuangkan eksistensi Golkar sering dibicarakannya. Di antaranya dalam percakapan dengan Akbar tandjung di awal tahun 2001. Surya menyebutkan, “Yang terpenting, saya kira, sudah saatnya Bung Akbar lebih tegas. Euforia politik yang berlebihan, seperti terus menerus menghujat Golkar, sudah harus diakhiri. Semua orang prihatin terhadap peristiwa perusakan dan pembakaran kantor DPD Golkar di Jawa Timur. Saya benar-benar sedih. Karena proses reformasi yang seharusnya dapat memperkuat pilar-pilar demokrasi, justru dirusak dengan tindakan anarkistis.”

Sebagai penggagas Konvensi Capres Golkar, dia pun ikut mencalonkan diri. “Kita ikut. Ini satu proses pendidikan politik di Partai Golkar sendiri. Saya yakin juga, ini akan memberikan refleksi yang berarti kepada partai politik lainnya dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Mengikuti konvensi, baginya sama sekali tidak mesti mendapatkan jabatan presiden itu. Tetapi juga merupakan suatu proses pendidikan politik dan peningkatan citra Golkar. “Di situ ada nilai yang harus kita berikan, sacrifice dari diri kita, pengorbanan. Tidak melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang luxurious yang harus kita timang-timang dan kita pertahankan sepanjang masa. Sebaliknya, kalau kita tidak mendapatkan jabatan itu, tetaplah kita seperti apa adanya sekarang.”

Baginya, mengikuti proses pencalonan presiden adalah suatu panggilan jiwa sebagai salah satu alternatif pemimpin bangsa yang memiliki otoritas kepemimpinan penuh berkat dukungan rakyat. Sebab masa depan bangsa ini harus segera dijemput.  ►haposan/mlp/crs

Iklan

1 Komentar

Filed under Bisnis

One response to “Bisnis dan Pentas Politik

  1. Muhammad Nuh Harahap

    Saya sungguh kagum terhadap Bapak terutama ketika bapak berkampanye pada saat pilpres 2004 kemarin, bapak mengatakan jika pimpinan anda koruptor jangan pilih dia ( bapak langsung mendapat kritik dari bapak Akbar Tanjung ), sungguh ucapan yang provokatif, luar biasa keberanian Bapak. Pergerakan Bapak membuat saya berpikir bahwa hidup adalah perjuangan, saya merasa bahwa saya anak kelahiran serbelawan bersemangat untuk menempuh perkuliahan dan belajar bergulat dalam dunia organisasi. saya mencoba banyak belajar dengan masuk kedalam NGO ( non government organitation ), belajar politik di dunia kampus.
    Dengan sangat hormat saya memohon agar dapat coment dari Bapak. Saya berharap sekali!

    Pengagum Bapak

    TTD

    Muhammad Nuh Harahap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s