Properti Mampu Bertahan

 

JAKARTA – Meskipun mendapat tekanan kenaikan harga BBM dan suku bunga, industri properti nasional diperkirakan mampu bertahan. Selain struktur pembiayaan tidak lagi mengandalkan dana perbankan, debitor properti sanggup memenuhi kewajiban mereka.

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Investor Daily dari wawancara dengan Direktur Keuangan PT Summarecon Agung Tbk Johanes Mardjuki, Direktur Kredit PT Bank Tabungan Negara (Persero) Siswanto, National Director Jones Lang Lasalle Lucy Rumantir, dan pengamat perbankan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Djoko Retnadi di Jakarta, Kamis (6/10).

Mereka ditanya seputar kekhawatiran sejumlah pihak kemungkinan bakal ambruknya bisnis properti, menyusul kenaikan harga BBM yang mencapai 126%, kenaikan BI rate menjadi 11% yang akan diikuti kenaikan suku bunga, serta kenaikan harga bahan material dan biaya konstruksi.

Mereka sependapat bahwa struktur bisnis properti saat ini cukup solid, berbeda dengan kondisi prakrisis 1997 ketika pembiayaan properti didominasi kredit bank. Kala itu, ketika terjadi krisis finansial dan suku bunga sempat menembus 70%, kredit properti menjadi macet. “Kondisi sekarang jauh berbeda dengan sebelum krisis 1997. Kenaikan bunga KPR juga masih manageable,” kata Direktur Kredit BTN Siswanto.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), total realisai kapitalisasi proyek properti per Mei 2005 mencapai Rp 31,112 triliun. Sementara data Bank Indonesia menyebutkan, per Mei 2005, posisi kredit real estat di bank umumnasional hanya sebesar Rp 10,135 triliun. Ini artinya, dari keseluruhan pembiayaan proyek properti, pinjaman bank hanya mengkontribusi sekitar 32,6%. Sementara dengan nilai kapitalisasi yang hampir sama, tahun 1997, posisi kredit real estat di bank umum nasional mencapai Rp 20,2 triliun atau hampir 70%.

Fakta bahwa dana perbankan tidak lagi mendominasi dalam pembiayaan proyek-proyek properti dibenarkan oleh Direktur Keuangan PT Summarecon Johanes Mardjuki. Ia mengatakan, untuk proyek properti komersial, seperti pusat perbelanjaan, perusahaannya hanya mengandalkan sekitar 40% pendanaan dari pinjaman bank, sedangkan sisanya sebesar 60% merupakan dana internal perusahaan.

Bahkan, lanjut Johanes, untuk proyek-proyek perumahan, Summarecon bisa menghindari sama sekali penggunaan pinjaman perbankkan. “Kalau kita bangun rumah, justru kita mengandalkan dana dari konsumen atau presale. Besarnya dana tersebut bisa mencapai 90% dan sisanya danainternal,” kata Johanes. Dengan komposisi pembiayaan seperti ini, ia mengaku, bisnis properti tidak akan terlalu terpengaruh oleh kenaikan suku bunga pinjaman bank yang biasanya mengekor kenaikan BI rate.

Senada dengan Johanes, Siswanto mengaku, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan dampak dari kenaikan harga BBM dan suku bunga perbankan. Ia percaya debitor-debitor kredit pemilikan rumah (KPR) masih mempunyai kemampuan mencicil kewajiban mereka. Terlebih, banyak di antara mereka mencicil KPR dengan sistem pemotongan gaji secara langsung.

“Memang secara teoretis kenaikan harga BBM akan ada pengaruh ke kemampuan mencicil. Tapi, semua ini bisa kita minimalisasi. Sebab, selama ini kita mengutamakan mereka yang pembayarannya dengan pemotongan gaji,” ujar dia.

Salain itu, kata Siswanto, sejumlah perusahaan pasti akan melakukan penyesuaian gaji pascakenaikan BBM tersebut, meski tidak dalam waktu dekat. Sehingga, lanjut Siswanto, daya beli para debitor tidak akan menurun secara drastis.

Dana Mahal
Namun, Siswanto mengakui, kenaikan BI rate akan membuat biaya pendanaan bagi bank semakin mahal. Meskipin demikian, dalam watku dekat ini BTN masih berupaya untuk mempertahankan tingkat suku bunga pinjaman yang saat ini sekitar 14%.

“Sejak kenaikan (BI rate), kita masih coba menghitung-hitung, dengan efisiensi masih bisa tercover atau tidak. Kalau laba kitamasih kebanyakan ya kita turunin sedikit. Kalau suku bunga kita naikkan dan konsumen lari kan repot,” tegas Siswanto. Namun, ia menambahkan, hal itu tidak bisa terus-menerus dilakukan.

Ia menegaskan, kondisi saat ini masih jauh dari kondisi tahun 1996 dan 1997 yang kemudian mengantarkan Indonesia ke jurang krisis.

“Sektor perumahan tidak terlalu mengkhawatirkan seperti industri lain. Jadi, orang pada mengangsur meski kolektibilitas menurun. Kredit non-KPR itu ternyata masih baik-baik saja. Kredit perumahan masih manageable,” ujar dia.

Selain itu, setiap debitor cenderung berupaya untuk mempertahankan rumah yang dibelinya. Hal senada juga dikemukakan pengamat perbankan dari BRI Tbk Djoko Retnadi. Dengan BI rate 13%, menurut dia, bank masih mempunyai ruang untuk menaikkan suku bunga KPR hingga 16%. Tingkat suku bunga KPR baru patut dikhawatirkan jika telah menembus angka 20%.

“Saya pikir, dari sejarah ekonomi Indonesia, kalau 16% itu masih acceptable,” ujar dia. Namun, Djoko sedikit mengkhawatirkan kondisi kredit konstruksi, baik dari pengembang maupun kontraktor. Karena ia melihat, kenaikan harga BBM hingga rata-rata 126% cukup membebani mereka.

Sedangkan National Director Jones Lang Lasalle Lucy Rumantir mengatakan, sejak krisis tahun 1998, banyak pengembang yang merasa trauma sehingga mereka mulai berhati-hati. Ia menilai, risiko yang nyata justru bukan dari pengembang, melainkan para kontraktor properti.

Lucy berpendapat, dampak kenaikan BBM tidak akan membuat sektor properti kolaps. Karena, kebanyakan proyek properti, khususnya ritel, pembangunanya sudah mencapai 75%. “Saya yakin masih banyak jalan keluar bagi perkembangan properti,” kata Lucy.

Terancam Lumpuh
Kekhawatiran terhadap prospek properti justru datang dari asosiasi usaha real estat. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahan Real Estat Indonesia (DPP REI) Lukman Purnomosidi mengatakan, kenaikan harga BBM dan kenaikan BI rate akan semakin mempersulit gerak pengembang. Sebab, pada satu sisi biaya proyek semakin mahal, akibat kenaikan bahan baku, pada sisi lain, daya beli konsumen semakin merosot.

“Pemerintah harus segera membuat paket kebijakan, khususnya bagi sektor properti, untuk mengatasi ini semua. Jika pemerintah tidak melakukannya, industri properti akan merosot sangat drastis bahkan lumpuh,” kata Lukman.

Iklan

2 Komentar

Filed under Uncategorized

2 responses to “Properti Mampu Bertahan

  1. cepiar

    Ivestasi di Property Cukup Menggiurkan……
    Jika Anda Memulai di Property
    Selamat Berinvestasi

  2. Usaha property memang tidak akan habis selama manusia masih ada.. karena tiap manusia butuh papan…
    beberapa hal yang membantu usaha property adalah media. baik media promosi property, media panduan merawat property, dan sebagainya…

    sebagai contoh munculnya http://djoglo.com yang merupakan media promosi property yang menjebatani antara penjual dan pembeli/penyewa atau pembaca yang mencari referensi. di djoglo dilengkapi dengan peta letak lokasi property yang menggunakan fasilitas google map…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s