Cepiar’s Weblog

Prabu Siliwangi

Februari 13, 2008 · 11 Komentar

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira“.

Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Masa muda

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

“Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”.

Perang Bubat

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya (”silih”nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah “seuweu” Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus “langsung” dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Keterangan lain tentang perang bubat

Keterangan tetang bubat yang dimuat harian Suara Merdeka adalah sebagai berikut:

Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda itu terjadi di desa Bubat. Perang ini dipicu oleh ambisi Maha Patih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Pada saat itu sebenarnya antara Kerajaan Sunda dan Majapahit sedang dibangun ikatan persaudaraan, yaitu dengan menjodohkan Dyah Pitaloka dengan Maharaja Hayamwuruk. Nah Rombongan Kerajaan Sunda ini di gempur oleh pasukan Mahapatih Gajah Mada yang menyebabkan semua pasukan Kerajaan Sunda yang ikut rombongan punah. Akibat perang Bubat inipula, maka hubungan antara Mahapatih Gajah Mada dan Maharaja Hayamwuruk menjadi renggang“.

Ada sebuah pustaka yang bisa dijadikan rujukan, Guguritan Sunda, yang Mengisahkan gejolak sosial dan pecahnya perang di Desa Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda dan gugurnya Mahapatih Gajah Mada secara misterius. Alih bahasa oleh I Wayan Sutedja (sepertinya pustaka aslinya ditulis dalam Bahasa Bali, 1995. disimpan di Universitas Ohio.

 
 

Kategori: reality
Tagged: , , , , , , ,

11 tanggapan so far ↓

  • dewa // Juni 7, 2008 pada 7:48 am | Balas

    seminggu yang lalu saya ke pura Parahyangan Jagat Jagatkarta Gunung Salak, & dpt inspirasi utk membuat artikel ttg Prabu Siliwangi & hub.nya dgn dibangunnya pura dsana. Apa penyebab dibangunnya pura dsana?
    Bagaimana kaitannya prabu Siliwangi dgn agama Hindu? Kalo dpt penjelasannya mohondibahas yah.Thanks B 4

  • Arfeno // Nopember 17, 2008 pada 5:10 am | Balas

    Saya lagi mencari keturunan asli Prabu Siliwangi, yang diramalkan akan memimpin Nusantara ini. Mohon kalau ada informasi tambahan mengenai sejarah Siliwangi kalau masih ada.

  • SagaraJiwa // Desember 7, 2008 pada 5:37 pm | Balas

    saya yakin bahwa Prabu siliwangi adalah Seorang raja yang tangguh,bijaksana,serta dapat memimpin rakyatnya ! sampai sekarang nama Siliwangi itu dipergunakan dalam kemiliteran ! apakah mungkin seorang Raja diraja, seorang pahlawan bagi rakyat sunda sepertikan dengan seekor harimau?

    saya sangat sedih tentang keadaan ini,jika ada seseorang yang bisa menjelaskan tentang kaitannya saya harap bantuannya.tolong kirim ke email saya di Ubhetz_balthazar@yahoo.com terima kasih.

  • wawan // Desember 12, 2008 pada 10:21 am | Balas

    salam,
    sejarah siliwangi adalah ilmu yang tak terbatas, antara mitos dan realita saling tumpang tindih, tapi bukan berarti tidak bisa ditelusuri. saya pribadi tengah menelusuri ini, terakhir saya ziarah ke makam p.pasir kili-kili cicalengka yang menurut penuturan kuncenya msh kerabat dengan p. silihwangi, sebelumnya saya sempat ke p.wangsa muhammad “”( p.papag ) garut salah satu kerabat p. siliwangi, pinginnya sih ke gadog, yg diyakini sbg makam p.kiansantang ( siliwangi ? )berhubung akomodasi terbatas, keinginan ini saya tunda. ada aura yg beda dimakam p. papag, karena menurut uwak saya, saya masih mempunyai ikatan darah dengan beliau, wallahualam, buat saya sangat mengasyikan dan menantang untuk menelusuri jejak p. siliwangi. next time saya lanjutkan penelusuran ini, insya Allah akan saya dokumentasikan. bantu doa ya sobat

  • dharma // Desember 16, 2008 pada 8:40 am | Balas

    Sebenarnya yang berwujud harimau bukanlah prabu siliwangi melainkan perwira dan prajurit beliau, beliau sendiri telah moksa ( nganghyang ),kenapa dibangun pura di gunung salak karena disitulah kerajaan tertua di nusantara yaitu salaka negara jauh sebelum kerajaan pajajaran.Untuk berhadapan dengan beliau langsung kita mengadakan dialog dengan sajen rujakan komplit berisi lele bakar ( kesukaan beliau ) ( rujakan disini mirip dengan pejatian di Bali ) ya tentunya harus denga orang yang tepat, dan bisa hadir pula di pura gunung salak. Seharusnya orang sunda mulai sadar dan kembali menjaga kearifan lokal beliau

  • dharma // Desember 16, 2008 pada 8:46 am | Balas

    coba datangi tempat – tempat berikut dan adakan dialog – dialog, ajak pemangku,kuncen,siapkan sajen sunda ( rujakan ),sajen Bali ( pejatian ),madat. gunung manglayang ( abah jambrong ),gunung salak ( prabu siliwangi ),gunung nagara padang ( prabu siliwangi ),gunung wayang ( pangeran dipati ukur ),gunung tangkuban perahu(dayang sumbi dan sangkuriang ).Beberapa tempat sengaja dikaburkan denga membangun makam ( karena jika orang islam datang mereka bisa bilang berziarah klo ga ya dibilang musrik,he..he..he ) padahal itu adalah tempat patilesan /pertpaan beliau2.Coba aja dijamin anda bisa berdialog langsung dengan leluhur-leluhur kita.

  • Ali Al-Husairi // Desember 19, 2008 pada 3:01 am | Balas

    dear all
    Kehebatan maha patih gajah mada tidak diragukan dengan menangnya pertempuran ‘bubat’ namun siapa orang yang mengelahkan maha patih gajah mada sehingga makam beliau ada tujuh( masing-masing organ tubuhnya)….
    generasi penerus (keturunan) eyang prabu siliwangi tentu memiliki dan mewarisi ( paling tidak sebagian) kehebatannya.. paling tidak tau syahadat padjadjaran…. lie_fajin@yahoo.com

  • senopatih // Februari 12, 2009 pada 8:47 am | Balas

    yang akan memimpin musantara yaitu,,adalah keturunan brawijoyo.tidak usah dicari karena beliau sedang berjuang,untuk mempersatukan dunia…nanti waktunya juga tiba beliau akan muncul dan sebenarnya masyarakat banyak yg pernah disinggahinya …

  • neogaluh // Maret 9, 2009 pada 4:26 am | Balas

    KESALAHAN PERSPEKTIF TENTANG SILIWANGI :
    JANGAN SEKALI-KALI MNEGARTIKAN SILIWANGI ITU IDENTIK DENGAN HARIMAU KARENA PRABU SILIWANGI BUKANLAH HARIMAU ….. BELIAU ADALAH MANUSIA YANG TELAH SEMPURNYA MENJALANKAN TUGAS KEMANUSIAAN YANG MEMANG DISANDANG OLEH SETIAP MANUSIA YANG DILAHIRKAN KEMUKA BUMI INI, SESUAI DENGAN PERJANJIAN DI ALAM RUH.

    SETIAP MANUSIA YANG TELAH DENGAN SEMPURNA MENJALANKAN TUGAS KEMANUSIAANNYA (DALAM TERMINOLOGIS ARAB ADALAH TUGAS KEKHALIFAHANNYA) MAKA WIBAWA DAN KOMARANYA IBARAT HARIMAU YANG MANA ORANG SUDAH SEGAN DAN GENTAR HANYA MENDENGAR SUARANYA SAJA.

    JANGAN SEKALI-KALI TERJEBAK DALAM PEMIKIRAN KUNO YANG TERUS-MENERUS MENUNGGU DATANGNYA KETURUNAN SILIWANGI ATAU SIAPA SAJA YANG AKAN MENJADI RATU ADIL ,,,,, YANG AKAN MEMBEBASKAN BANGSA INI DARI SEGENAP KEMELUT YANG TENGAH MELANDA ,,,, SEMBARI DIRINYA TIDAK BERUPAYA UNTUK MENJALANKAN TUGAS KEMANUSIAANNYA ,,,,,,,

    PERSETAN BRAWIJOYO ,,,,, JUGA MAHAPATIH GAJAHMADA YANG PENGECUT …… KALO SAJA DIAH PITALOKA TIDAK MENGHALANGI DATANGNYA LEMBING DARI PRABU LINGGA BUANA DI BUBAT TENTU SAJA GAJAH MADA SUDAH TERBUNUH SAAT ITU JUGA, DALAM HAL INI DIAH PITALOKA DENGAN MENGORBANKAN NYAWANYA DI BUBAT NYATA-NYATA TELAH MEMBUAT GAJAH MADA KEHILANGAN MUKA SEBAGAI SEORANG KSATRIA ……

    ORANG YANG AKAN MEMIMPIN DUNIA SUDAH DITETAPKAN BAHWA DIA DARI KERAJAAN PAJAJARAN, HANYA SIAPA ORANGNYA KITA TIDAK PERLU MENUNGGU-NUNGGU KEDATANGANNYA, TUGAS KITA ADALAH NARAGA ATAU MEMBENAHI DIRI SENDIRI SEHINGGA BISA MEMBERIKAN WEWANGIAN KEPADA KELUARGA, LINGKUNGAN, DAN MASYARAKAT, JANGAN SEKALI-KALI MENUNGGU DATANGNYA MANUSIA WANDA KE-13 DATANG SSEPERTI MENUNGGU DATANGNYA SETAN ……. TUNGGULAH KEDATANGANNYA SAMBIL BERBUAT, TEGAKAN KEBENARAN SESUAI DENGAN KEMAMPUAN MASING-MASING DAN SESUAI DENGAN BIDANG GARAPANNYA MASING-MASING ……

    YANG JELAS …. WANDA BUHUN TELAH DISEMPURNAKAN OLEH SILIWANGI (YANG KE-12) DAN AKAN DATANG MASA KEEMASAN YAITU ERA KE-13 DIMANA DIA AKAN MEMIMPIN DUNIA DENGAN KOMANDONYA ……

    BERBICARA TENTANG WANDA BUHUN, JANGAN SEKALI-KALI TERJEBAK DENGAN ISTILAH ..PERLU DIINGAT, SESUAI DENGAN APA YANG TELAH DIJABARKAN TERSEBUT DI ATAS, SETIAP ORANG YANG TELAH BERHASIL MENJALANKAN TUGAS KEMANUSIAANNYA ADALAH SILIWANGI, MUHAMMAD BIN ABDULLOH DARI NEGERI ARAB JUGA ADALAH SILIWANGI, RATU ELISABETH DARI INGGRIS PUN DIA ADALAH SILIWANGI ……. DAN SEMUA PEMIMPIN-PEMIMPIN DUNIA YANG TELAH BERHASIL MENJALANKAN TUGASNYA MENSEJAHTERAKAN RAKYATNYA ……. MAKA DIA ADALAH SILIWANGI,,,,,, SILIWANGI ADALAH SEBUAH SISTEM NILAI BUKAN SEBATAS KULTUS MASYARAKAT KEPADA SEBUAH SOSOK ……

    ADALAH SEBUAH KEKELIRUAN BESAR MANAKALA SESEORANG MENDEWAKAN SILIWANGI DAN PADA AKHIRNYA ORANG TERSEBUT MENGKULTUSKAN SEEKOR HARIMAU …… SAYA BILANG KOK SILIWANGI GURAM-GEREM SEPERTI ANAK KUCING …..

    SEKALI LAGI ORANG SUNDA YANG INGIN BERTEMU DENGAN SILIWANGI YA GAMPANG-GAMPANG SAJA, BERPERILAKULAH : KUKUH KANA JANGJI, LEBER WAWANEN, SILIH WAWANGI, JEUNG MEDANGKEUN KAMULYAAN, APABILA SEMUA ITU SUDAH TERIMPLEMENTASIKAN MAKA NEGARA INI AKAN AMAN, DAMAI, DAN SEJAHTERA

    neogaluh@yahoo.com

  • taupik.hidayat // Maret 19, 2009 pada 7:04 am | Balas

    Sungguh menarik membaca riwayat Siliwangi,..
    Sebaiknya jangan terlalu berharap dan yakin dg “mitos”.

    Zamannya berbeda dan kita tidak mengalaminya . Kalau hanya sebatas mencontoh atau mengambil nilai positivenya, baguslah.

    Indonesia mengalami krisis multidimensional. Entah siapapun pemimpinnya, Yakinlah dg kekuatan sendiri. Membangun bangsa dg megedepankan nilai-nilai luhur leluhur kita.

    Hancurkan kemiskinan, Gempur kebodohan, Musnahkan jiwa feodal dan Luluh lantakan sifat menjilat pantat, asing !!!

    Kaya Indonesiaku, …
    Makmur,Negeriku
    Cerdas bangsaku,..
    Merdeka,… INDONESIAKU

  • Dede Arkadia // April 1, 2009 pada 4:11 am | Balas

    Mitos tentang harimau dalam bahasa Sunda, Maung (artiya Manusia Unggul) dilambangkan dengan harimau/maung sebagai hewan yang kuat, penguasa hutan. Jadi cuma siloka saja, kita hanya terjebak dengan gambaran riil (tentang maung tadi) pada beliau (Siliwangai) mengartikan Manusia Unggul dalam artian beliau merupakan manusia unggul.

Tinggalkan sebuah Komentar