Daily Archives: Desember 10, 2007

Technique Informal School (TIS)

 ok.jpg

Latar Belakang

Peningkatan jumlah rakyat miskin di Indonesia akibat krisis multidimensi yang menerpa bangsa ini menyebabkan pendidikan dianggap bukan hal yang perlu diprioritaskan. Maraknya anak usia sekolah yang terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya karena masalah ekonomi membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia merasa terpanggil untuk melakukan suatu aksi nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan dan buta huruf.  Melalui suatu program sekolah informal yang dinamai Technique Informal School (TIS), beberapa mahasiswa teknik mencoba mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya pendidikan bagi masa depan.

Sejarah Singkat

Ide pendirian TIS ini berkembang dari keinginan beberapa mahasiswa FTUI untuk membuat suatu desa binaan. Namun dikarenakan berbagai keterbatasan untuk membuat desa binaan, maka sekolah non-formal dinilai merupakan kegiatan yang lebih layak dan sesuai dengan semangat mahasiswa untuk berkontribusi dalam mencerdaskan lingkungan sekitarnya.

TIS lahir pada Februari 2005 sebagai program kerja bidang Sosial Kemasyarakatan BEM-FTUI 2004/2005. Awalnya kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 orang anak jalanan dengan usia 4 sampai 10 tahun. Untuk memudahkan proses belajar, TIS mengontrak rumah di sekitar tempat mayoritas peserta didik bermukim, yakni di dekat rel kereta daerah Kampung Lio, Depok. Kegiatan belajar di tempat tersebut berlangsung kurang lebih setengah tahun.

Karena kesulitan dalam meneruskan kontrak rumah dan alasan sanitasi yang buruk, TIS memutuskan mencari tempat lain. Niat tersebut terkabul saat pengurus RW setempat menyediakan sekretariat RW 13 untuk digunakan sebagai tempat belajar karena banyaknya permintaan dari masyarakat setempat untuk mengikutkan anaknya menjadi peserta TIS, TIS membuka pendaftaran murid baru. Di sisi lain, status kegiatan ini di kampus juga semakin kuat dan mulai dikenal secara luas oleh mahasiswa teknik.

Menginjak tahun ketiga, TIS berusaha untuk lebih mandiri dengan kembali mengontrak rumah. Hal ini tidak terlepas dari bantuan ILUNI TEKNIK dan ILUNI UI baik moril maupun materiil. Selain itu, kemandirian ini juga ditunjukkan dengan perubahan status TIS menjadi organisasi yang berdiri sendiri (independence) dan tidak tergantung pada organisasi manapun. Dengan demikian, TIS diharapkan dapat melaksanakan program kerja sesuai dengan tujuan awal pendirian tanpa harus terbebani birokrasi organisasi di kampus.

TIS kedepannya diharapkan menjadi sekolah profesional yang fokus untuk melayani  anak bangsa Indonesia dengan tetap memperjuangkan dan merealisasikan pendidikan gratis di seluruh penjuru Nusantara.

TUJUAN

Ø      Membangkitkan minat dan semangat peserta dan masyarakat TIS akan pendidikan dan pembinaan ilmu pengetahuan, akhlak dan moral

Ø      Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama di dalam diri mahasiswa Universitas Indonesia

Ø      Memberikan kesempatan kepada anak penduduk sekitar anak jalanan dan anak terlantar di lingkungan TIS yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi untuk belajar dan menuntut ilmu

Ø      Menanamkan ke dalam pribadi siswa-siswi TIS kecintaan, keimanan, dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Ø      Memperjuangkan program pengentasan kemiskinan dan kebodohan secara langsung

Ø      Memenuhi target belajar mengajar

 

 Sekretariat: Gd. Pusgiwa FTUI, Kampus Baru UI Depok

CP: Renda:081808155577           Maya:021 70995115

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Material Cetakan Pasir (Sand Casting)

Material cetakan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah material pasir silica. Dengan penambahan penguat seperti clay, bentonite dan penghalus permukaan serbuk arang. Pada praktikum ini terdapat eberapa jenis pasir yang digunakan, antara lain :

  1. Pasir muka (facing sand)

                Pasir muka merupakan pasir utama yang bersentuhan langsung dengan pola dan digunakan untuk menutupi  pola benda pada pembuatan cetakan baik dibagian kup maupun drag. Pasir muka yang digunakan harus memiliki kualitas baik sehingga dalam pembuatannya komposisinya perlu diperhitungkan dengan teliti. Hal ini diperlukan karena pasir muka ini akan langsung bersentuhan  dengan logam cair dan akan menentukan bentuk dan dimensi dari benda cor  serta memberikan sifat kehalusan permukaan pada benda hasil cor. Dalam pasir tersebut masih mengandung unsur lain sebagai penguat dan penghalus permukaan material.

a.      Bentonit merupakan bahan pengikat yang umum digunakan dalam pasir cetak basah. Bentonit adalah istilah yang digunakan untuk sejenis lempung yang memiliki sifat menyerap air lebih besar dibandingkan dengan jenis tanah liat lainnya. Pada percobaan ini digunakan 9% bentonit agar permeabilitasnya besar dan tetap memiliki sedikit kekuatan tekan sehingga mampu untuk menopang benda cor serta memiliki sifat collapsibility yang baik.

b.      Gula tetes (molases) ditambahkan untuk meningkatkan waktu efektif pasir (bench life) dan memberikan kekuatan kering yang tinggi. Karena kekentalan yang tinggi dan wettability yang baik maka akan menghasilkan kekuatan basah yang baik pula. Pada temperatur tinggi, gula tetes akan terurai menjadi CO2 yang akan meningkatkan kekerasan dan kekuatan tekan akibat panas cetakan. Pada percobaan ini digunakan gula tetes (molases) 2% pada pasir muka.

c.     Bahan berserat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah serbuk arang. Berdasarkan literatur[1], penggunaan serbuk arang 1% pada praktikum ini sesuai dengan literatur yang ada dan sesuai dengan kebutuhan karena menghasilkan cetakan permukaannya halus dan mudah dalam pembongkarannya.

2.     Pasir pendukung (back sand)

Pasir pendukung (backsand) merupakan pasir yang tidak bersentuhan langsung dengan pola. Pasir pendukung yang digunakan memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan pasir muka, karena  pasir yang digunakan untuk back sand merupakan pasir yang sudah terpakai atau berasal dari pasir bekas proses pengecoran sebelumnya. Material pasir yang kami gunakan untuk back sand telah mengalami kehilangan kadar air akibat proses penguapan oleh panas dan udara karena tempat penyimpanan pasirnya langsung berhubungan dengan udara

3.     Pasir reparasi (back sand)

 Pasir reparasi merupakan pasir yang digunakan untuk memperbaiki permukaan cetakan yang rusak atau rontok pada saat pengangkatan pola. Pasir reparasi yang digunakan pasir memiliki kadar gula yang lebih tinggi dari pasir muka. Umumnya bahan pelapis yang digunakan harus memiliki temperatur lebur yang lebih tinggi daripada pasir dan dapat membentuk penghalang yang tidak tembus oleh logam cair.

Pada praktikum ini dilakukan coating pada bagian dari cetakan pasir yang ambruk. Hal ini sesuai dengan aplikasi dari coating, karena coating berfungsi untuk memperhalus permukaan tetapi dia juga berfungsi sebagai pembentuk lapisan penghalang yang anti tembus oleh logam  cair, sehingga cacat-cacat yang umumnya diakibatkan antara persentuhan antara logam cair dan cetakan dapat diminimalisir.

5 Komentar

Filed under pendidikan

Proses Peleburan Alumunium


Pada proses peleburan digunakan dapur krusibel. Material yang digunakan adalah scrap Al hasil penelitian mahasiswa. Hal yang pertama kali dilakukan adalah proses persiapan dapur. Dimulai dari pembersihan tungku lebur dan melapisi dengan coating hingga penempatan briket batubara dalam tungku besar.

Selama proses peleburan, material Al yang digunakan dilakukan proses pre-heating. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan moisture pada permukaan material untuk menghindari pembentukan gas dan melarut dalam logam cair yang dapat menyebabkan cacat gas. Setelah proses pre-heating maka material logam dimasukkan kedalam tungku dan dibiarkan melebur. Selama peleburan briket batubara terus ditambahkan untuk menjaga kestabilan suplai kalor untuk melebur logam.

         i.      Alloying

Pada proses pengecoran dimana selain bertujuan menghasilkan produk yang sesuai dengan dimensi juga dibutuhkan nilai sifat mekanis material yang sesuai. Pemberian material tambahan (alloying) bertujuan untuk meningkatkan harga sifat mekanis dari material. Untuk material Al pemberian alloying menggunakan material Cu, Zn, Mg, P, Si, Sr, dan Na.

Pada praktikum ini penguatan alloying tidak dilakukan. Jika dilakukan dan kemudian sampel dilakukan pengujian (tarik, keras) maka dihasilkan nilai yang lebih besar dibanding tanpa alloying.

       ii.      Degassing

Pada temperatur tinggi gas hidrogen akan cenderung berdifusi kedalam logam cair. Gas-gas hidrogen ini harus dikeluarkan dari Aluminium cair karena akan menyebabkan terjadinya cacat pada benda cor. Proses pengeluaran gas ini  disebut proses degasser. Umumnya degasser yang digunakan adalah dalam bentuk tablet atau gas (gas argon dan gas nitrogen). Mekanisme pengeluaran gas pada logam Aluminium cair adalah sebagai berikut :

Tablet yang dimasukkan ke dalam Aluminium cair akan menghasilkan gas dalam bentuk gelembung yang hampir hampa udara (< 1 atm). Gas hidrogen yang terlarut dalam Aluminium tidak dapat keluar karena tekanan didalam Aluminium cair << 1 atm sedangkan tekanan diluar sebesar 1 atm. Akibatnya gelembung udara yang dihasilkan tablet masuk ke dalam gas hidrogen dan gelembung udara tersebut terbawa keatas bersaman dengan kotoran lain yang terlarut didalam Aluminium cair. Gas-gas atau gelembung udara tersebut sebagian akan menjadi dross dan akan dibuang melalui proses pembuangan dross. Pada praktikum ini degasser tidak digunakan.

                             iii.      Cover Flux

Setelah proses degasser selesai dilanjutkan dengan  proses pemberian flux. Proses pemberian flux bertujuan untuk menutupi  atau covering permukaan logam Aluminium cair agar terhindar dari masuknya gas hidrogen kedalam logam aluminium. Pemberian flux dilakukan pada saat mulai pencairan aluiminium dengan cara menaburkan flux pada permukaan Aluminium cair. Covering flux berfungsi untuk covering permukaan logam cair agar terhindar dari masuknya gas hidrogen . Pemberian flux jenis ini dilakukan tanpa pengadukan. Pada saat praktikum digunakan flux covering.

37 Komentar

Filed under Uncategorized

Proses Pembuatan Cetakan Pasir

Langkah – langkah proses pembuatan cetakan pasir adalah antara lain :

i.Persiapkan flask, lantai yang bersih dan pola kayu produk dan gating systemnya. Perlu diingat agar pola kayu sudah dilakukan waxing dengan lilin batangan.

ii.Pembuatan pasir inti dari backing sand. Pembuatan inti dilakukan berulang-ulang. Karena inti yang dihasilkan terdapat retak, hal ini terjadi karena kurang padatnya inti pada proses ramming

atau proses pencabutan dari cetakan inti yang terlalu tergesa-gesa. Sehingga harus diperbaiki dengan penambahan molasses dan dilakukan ramming yang lebih kuat.

iii.Pisahkan kup dan drag pola kayu. Taburi tepung terigu di taburi pada lantai yang dibersihkan. Pola kayu

bagian drag pertama kali ditutupi dengan pasir muka hingga seluuh bagian pola kayu (produk + gating system) tertutupi oleh pasir muka.

iv.Tambahkan dengan pasir belakang (backing sand), lalu diramming dengan bantuan palu dan rammer agar pasir menjadi padat. Proses dilakukan sebanyak 3 kali. Setiap awal penaburan pasir diberikan guratan pada lapisan pasir sebelumnya. Bertujuan agar pasir menjadi homogen dan menyatu terikat antar partikel pasir.

v.Balik drag serta letakkan kup pada bagian atas posisi drag dengan posisi yang tetap. Setelah kup berada pada posisinya, lakukan langkah 1-3. Untuk benda cor dengan pola belah, penempatan harus dilakukan dengan hati – hati agar pola dan gating sistemnya tidak bergerak sehingga tidak menimbulkan cacat akibat pergeseran pola.

vi.Angkat pola yang telah dipadatkan dengan pasir dari bagian drag dan kup. Keluarkan pola yang berada pada cetakan pasir dengan menggunakan ulir. Pengeluaran pola harus dilakukan dengan hati-hati agar cetakan pasirnya tidak rusak. Pada saat praktikum, pencabutan pola sangat sulit sekali untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan oleh pelapisan lilin yang kurang merata dan benda cor yang memiliki dimensi agak besar dan bersudut Kerusakan yang dihasilkan pada cetakan pasir setelah pencabutan pola terbilang banyak. Namun segera dilakukan proses perbaikan dengan menggunakan pasir reparasi. didalam cetakan pasir.

vii.Bersihkan cetakan kemudian berikan coating cetakan pada bagian yang diperbaiki agar permukaan cetakan menjadi rata. Pemberian coating bertujuan agar pasir tidak mengalami pengikikisan oleh logam cair serta memperbaiki sifat mekanis dari permukaan logam. Kemudian cetakan dibakar dengan menggunakan api agar coating menyatu dengan butiran pasir dan butiran pasir tidak masuk kedalam logam cair.

viii.Setelah selesai proses coating, hal yang dilakukan selanjutnya adalah penyatuan kup dan drag yang kemudian dieratkan dengan menggunakan pengikat kawat. Saat penyatuan antara kup dan drag terjadi ambruknya pasir cetak sehingga bentuk cetakan menjadi tidak beraturan. Ini disebabkan akibat kurang padatnya pasir disekitar pola dan banyak bagian dari pola yang bersudut. Seharusnya pada bagian bersudut tersebut dilakukan fillet agar permukaan lebih membulat (rounded).

ix.Letakkan cetakan pasir diatas tatakan dan tempatkan didekat dapur peleburan logam. Letakkan cetakan dengan sprue menghadap keatas. Seharusnya pada bagian sprue diberikan sedikit area cekung sebagai pouring basin agar pada saat penuangan tidak terjadi turbulensi.


8 Komentar

Filed under pendidikan