Cepiar’s Weblog

Pendidikan Manusia Indonesia

November 19, 2007 · & Komentar

Pendidikan manusia Indonesia sekarang ini dilanda krisis nilai yang sangat berat. Beberapa tahun belakangan ini banyak terjadi fenomena yang sangat mencoreng dan memalukan wajah manusia Indonesia.

“Masih jelas pada ingatan kita tentang pembongkaran kasus universitas fiktif dan jual-beli gelar beberapa tahun lalu,” kata pemerhati pendidikan dari Universitas Indonesia (UI) Prio Sambodho kepada Pembaruan di sela-sela seminar “Membangun Indonesia Melalui Kewiraausahaan Sosial” di Jakarta, Senin (21/11). Pembicara lain dalam seminar itu, antara lain Dwi Tularsih Sukowati .

Dari penyidikan yang dilakukan Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, 15.000 gelar palsu telah berpindah tangan sejak tahun 2000 hingga 2005. Data lainnya menunjukkan bahwa jumlah pembeli ijazah dan gelar palsu dapat mencapai 30.000 orang dari berbagai universitas fiktif tersebut. Gelar yang dikeluarkan meliputi 1.060 doktor, 288 PhD, 2.900 MSc, dan minimal 100 untuk beberapa gelar lainnya.

Untuk itu, dia mengimbau pemerintah melakukan reorientasi paradigma dan desain model pembangunan pendidikan. Semua model pendidikan harus diarahkan kepada pembangunan nilai dan budaya yang kuat. “Model pembangunan dan kebijakan semutakhir dan secanggih apa pun tidak akan berhasil bila tidak dilandasi oleh nilai dan kultur yang kuat. Sejarah telah membuktikannya dan kita sebaiknya belajar darinya, agar pendidikan kita menjadi education that educate, dalam makna yang sebenarnya,” katanya.

Dijelaskan, model pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah masih berlandasakan pada pendidikan dengan model rasionalis, yakni model pembangunan pendidikan yang berorientasi pada standardisasi, formalisasi yang tinggi, dan birokratisasi yang ketat dan kaku.

“Model seperti ini banyak digunakan oleh pemerintah negara-negara berkembang karena dengan model ini pemerataan dan peningkatan kapasitas institusi pendidikan dapat dilakukan dengan biaya yang relatif murah,” kata dia.

Paradigma pembangunan pendidikan seperti ini, papar Prio, berpotensi menimbulkan kesalahan orientasi pada arti pembangunan pendidikan. Selama ini, katanya, orientasi keberhasilan pendidikan selalu didasarkan pada banyaknya murid yang dapat dimasukkan ke dalam sistem pendidikan formal. “Selama angka tersebut terus meningkat, maka pembangunan dianggap telah berhasil. Institusi pendidikan kemudian dianggap sebagai suatu ‘pabrik raksasa’ yang akan mengolah secara massal orang-orang yang tidak berpendidikan menjadi berpendidikan hanya dengan menyelesaikan suatu proses yang sudah ditentukan, yaitu kurikulum pendidikan formal,” terangnya.

Ironis

Sementara itu, Dwi Tularsih Sukowati yang juga berasal dari UI menyatakan pemerintah belum melaksanakan amanat UUD 1945 terkait pasal pendidikan. UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. “Tetapi sesudah Indonesia merdeka selama 31 tahun, kenyataan yang ada sungguh ironis,” katanya.

Dwi mengutip data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menunjukkan angka buta aksara penduduk Indonesia sampai dengan usia 15 tahun mencapai 12,1 persen, sedangkan angka partisipasi kasar pendidikan dasar sampai menengah atas, cuma 65 persen.

Dwi menambahkan amendemen UUD 1945 pasal 31 (ayat 4) menegaskan bahwa negara memprioritaskan dana untuk pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari total APBN dan APBD. “Tetapi kenyataannya pada 2006, pemerintah hanya mampu mengalokasikan dana pendidikan sebesar 9,3 persen. Sedangkan tahun 2007 sebesar 10,2 persen dari total APBN. Inilah yang menjadi salah satu faktor mahalnya biaya pendidikan untuk masyarakat. Belum lagi masalah kesenjangan pendidikan antara pusat dan daerah,” katanya.

Kategori: pendidikan
Ditandai: , , ,

Cara Membuat Blog

November 19, 2007 · & Komentar

Anda mungkin salah seorang daripada mereka yang tidak tahu membuat blog sendiri dan bagaimana mendapatkan pengunjung ke blog anda. Anda sering meminta bantuan orang lain, bertanya, dan mencari.

Menjadi kehendak setiap orang sekarang ingin memiliki blog sendiri bagi tujuan menghasilkan pendapatan sampingan atau sepenuh masa di internet. Dengan memiliki blog, anda boleh menggunakannya untuk berbagai tujuan dan dengan berbagai cara.

Keuntungan

1 Membina kredibiliti bagi kepakaran anda

2 Mendapatkan trafik ‘percuma’ ke halaman web perniagaan anda

3 Dapat menyertai program Google Adsense dan program affiliate

4 Berkomunikasi dengan calon dan pelanggan anda

5 Mempromosikan perniagaan konvensional anda dengan berkesan

6 Menambah rangkaian perniagaan melalui internet

7 dan banyak lagi faedah blog!


Tidak peduli siapa diri anda, walaupun seorang tukang masak, penulis buku, penyulam, ustadz, guru, pemandu teksi, ahli perniagaan, CEO, usahawan internet, pelajar, pesara, doktor, petani atau siapa saja, blog kini merupakan satu medium penyampaian maklumat yang amat berkesan, dapat menambah kenalan, berkomunikasi dengan sesiapa sahaja dan yang pasti, ia adalah satu teknologi di internet yang begitu ampuh sekali untuk digunakan bagi pelbagai tujuan. Dengan hanya menulis, segenap lapisan masyarakat seluruh dunia akan membaca dan tahu apa yang anda tulis tersebut atau mengenali diri anda! Jika anda seorang usahawan, sudah pasti produk atau servis anda akan diketahui.

bina nama dan menghasilkan pendapatan dengan hanya menggunakan blog. Jika anda perhatikan, begitu ramai usahawan internet memiliki blog mereka sendiri bagi berkongsi apakah yang mereka lakukan dan menyatakan apakah produk keluaran mereka yang terkini. Blog adalah satu ‘tools’ (teknologi) yang amat berkuasa di dalam menjana pendapatan atau mendapatkan trafik ke laman web perniagaan internet mereka. Anda juga boleh melakukan seperti mereka jika anda tahu caranya..

 

Masalah blog bagi Pemula

Rata-rata kebanyakan orang yang baru ingin bermula di arena ‘blogging’ atau dalam proses memiliki blog mengalami beberapa masalah seperti berikut:

1 Tidak tahu membina blog sendiri

2 Bermasalah dengan hal teknikal blog – tiada panduan mudah dan lengkap!

3 Bermula dengan langkah yang salah

4 Memilih topik blog yang tidak menguntungkan

5 Takut untuk bermula karena ‘zero’ ilmu atau keliru

6 Tidak dapat memaintenance blog dengan baik

7 Blog tidak terkenal, pengunjung tidak ramai,

8 Tiada ‘mentor’ atau seseorang yang memberikan panduan

9 Perlu mengupah orang lain dengan kos yang tinggi

Dan banyak lagi masalah yang berkaitan..

 

Padahal bikin blog itu GAMPANG BGTTTTTTTTT

klik aja MEMBUAT BLOG GRATIS di sebelah kanan tautan blog ini

Kategori: pendidikan
Ditandai: , ,

Cara Memulai Berbisnis

November 19, 2007 · & Komentar

Hidup adalah pelajaran, kata orang bijak. Untuk menjadi yang terbaik kita selalu harus terus belajar. Ada orang yang langsung terjun ke lapangan dan menemukan beberapa kegagalan dan kesuksesannya sebagai bahan pelajaran. Ada orang yang belajar terlebih dahulu kemudian baru melakukan usaha.

Terjun Dulu Belajar Kemudian
Kalau Anda pernah membaca biografi saya yang berbisnis, berhenti berbisnis lagi dan berhenti lagi yang pada ahirnya terus berbisnis merupakan tahapan pembelajaran yang panjang. Kenapa? Karena saya bukanlah orang ekonomi, bukan pula orang marketing tapi saya adalah orang teknik. Apa hubungannya dengan orang teknik sama Ekonomi? Paling tidak kalau pernah menekuni bidang ekonomi dan marketing sedikit banyak mengerti cara marketing yang efektif.

Tapi apa yang terjadi? Memang secara komunikasi saya lancar. Dengan keyakinan dan semangat ditambah komunikasi yang lancar, saya sudah berani terjun ke bisnis. Memang saya bisa melakukan, tapi hasilnya kurang efektif. Apakah apa yang saya lakukan benar atau tidak, saya tidak bisa mengukur dari kaca mata keilmuan. Yang saya tahu adalah bahwa omzet dan keuntungan meningkat, berarti indikasi marketing saya sudah benar.

Memang tidak semua cara yang saya lakukan tidak efektif. Sambil berjalan saya pun belajar cara berjualan beras kepada penjual beras keliling di Malang yang bernama Koh Ayen. Saya juga mempelajari buku-bukku marketing. Tapi tidak semua jurus ampuh aku dapatkan. Ditambah kurangnya modal sebagai kendala Utama.

Munculnya kendala-kendala di lapangan biasanya tidak terduga. Tapi datangnya kesempatan, peluang bisnis dan keuntungan yang mendadak juga sering tiba-tiba. Jadi kesempatan dan kendala ini sering ditemui di lapangan. Ketika kita sudah biasa, maka kita makin mahir menghadapinya. Maka lama-kelamaan kita pun bisa menjadi pintar atau biasa disebut ‘smart street’ (pintar di jalanan).

Belajar dulu dan takut bisnis
Banyak kan contoh orang yang sudah menguasai marketing tapi tidak berani terjun ke dunia bisnis. Secara keimuan bisa jadi dia sudah menguasainya. Dia pun sudah memiliki mimpi untuk menjadi pengusaha sukses, sudah belajar cara efektif marketing, sudah pula belajar kepada guru-guru bisnis terbaik di bidangnya, tapi? Dia belum berani melakukan, belum take action dalam bisnis. Sehingga ilmunya hanya menjadi teori belaka. Ini yang ironi. Dia tergolong kategori ’smart school’, pintar karena sekolah.

Belajar dulu dan melakukan bisnis
Okey, kalau kedua cara diatas dianggap belum efektif, cobalah mempelajari dulu Anda mau bisnis apa?
Setelah tahu ide bisnisnya, cobalah inventarisir pebisnis di bidang serupa dan bergurulah kepadanya. Jika guru tersebut mau berbagi ilmu, maka kita tinggal menerapkannya. Bila tidak mau, ya cari tahu untuk mendapatkan gambaran proses bisnis dan kunci kesuksesannya.
Bila referensi Anda kurang lengkap, Anda juga bisa berguru kepada pebisnis di bidang serupa (tapi tidak sama) untuk diambil sari terbaiknya dan mencoba diterapkan kepada bisnis kita.

Namun, terkadang kalau kita kebanyakan ilmu kita malah tahu adanya ’kengerian’ bisnis, sehingga semakin kita tahu membuat kita semakin takut memulai bidang bisnis tersebut.

Belajar Efektif:

  1. Berguru kepada orang yang terbaik dan tepat

  2. Mengetahui global bisnis tersebut

  3. Mengetahui peluang dan ancaman secara lebih detail

  4. Mengetahui strategi memperoleh peluang yang besar, dan bayangkan ANDA AKAN MENDAPATKANNYA

  5. Mengetahui strategi mengurangi ancaman kerugian. Jangan bayangkan kerugian tapi bayangkan kenikmatannya, sehingga kondisi apapun kita masih tetap semangat

  6. Melakukan step awal dalam bisnis.

  7. Bila menjumpai masalah, hadapi dan bertanyalah kepada guru terbaik di bidangnya.

  8. Melakukan step berikutnya, evaluasi, belajar, melakukan lagi dan terus berputar.

Dari sini akan muncul proses belajar, praktek, belajar, praktek yang terus menerus.

Terus belajar untuk mengikuti perubahan
Masalah dalam bisnis tentu terus ada. Kalau tidak ada masalah, maka ciptakan masalah agar omzet terus membaik. Maksudnya, ‘tidak masalah’ berarti penjualan sudah memenuhi target. Sehingga kalau omzet itu mentok, sebenarnya itulah masalahnya. Sehingga ciptakan target yang lebih tinggi lagi dan bagaimana mencapainya. Maka kita pasti akan terus belajar.

Tempat & waktu berbeda menciptakan situiasi yang berbeda. Perubahan terus terjadi. Persaingan terus meningkat. Maka kewajiban kita untuk terus belajar dan mengikuti perubahan. Kalau kita tidak mau belajar dan berubah, maka zaman yang akan menggilas kita.

Penutup
Untuk menghindari kesalahan yang fatal, minimal Anda harus tahu konsep bisnis yang akan Anda geluti. Untuk mengetahui konsep tersebut, Anda bisa belajar kepada pengusaha terbaik di bidangnya atau minimal melakukan observasi. Minimal targetnya adalah Anda mengerti cara memulainya.
Setelah tahu lebih bisnis tersebut, maka memulai bisnis adalah langkah kedua terbaik.
Di langkah kedua ini tentu akan muncul masalah lagi, maka diskusikan dengan guru terbaik lagi.
Begitu seterusnya, sehingga kita belajar dan take action kemudian evaluasi dan belajar lagi. Begitu tersus menerus.

Dengan belajar yang terus menerus dan memperbaiki yang belum baik, maka dijamin kita tidak akan tergilas oleh perubahan, karena kita juga terus berubah.

Improvement Forever. Terus berubah untuk menjadi lebih baik.

*) Oleh: Masbukhin Pradhana
Penulis adalah mentor di Entrepreneur University, pemilik jaringan bisnis voucher Priema Persada dan masih menjadi karyawan IT. Bisa dihubungi lewat  bukhin@yahoo.com atau telepon 08121955772.

Kategori: Bisnis
Ditandai: , ,