Cepiar’s Weblog

Hipnotis Merajalela

November 11, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar


(kebetulan kisah ini terjadi di Jakarta . Kejahatan sudah makin edan)
Hati-hati; kini makin banyak saja orang jahat. Tolong disebarin
keteman-teman yang lainnya. Saya, Ira (26) dan suami saya Bayu (28) tahun, mengalami suatu kejadian yang tidak bisa terlupakan dan sangat
mengganggu kehidupan kami berdua selama hidup. Bahkan saat ini pun kami sedang dalam perawatan psikiater. Kami sungguh marah dan sangat terguncang sekali. Saya ingin menceritakan pengalaman buruk kami, agar rekan-rekan dapat berhati-hati dan selalu waspada jika didekati seseorang yang tak kita kenal pura-pura meminta bantuan.

 


Ceritanya begini:
Suatu hari sekitar pukul 7  malam sepulang kantor kami menuju ke Warung Tenda Semanggi untuk makan malam. Saya memilih sebuah tempat di sekitar cafe yang banyak terdapat di sana . Kami duduk di sebuah meja di halaman luar untuk mendapatkan pemandangan yang lebih lega dan dapat memperhatikan orang yang sedang lewat. Pada saat kami sedang berbincang-bincang, datang tiga pria dan mengambil meja tepat di samping kami. Kemudian salah satu dari mereka ingin  menyalakan rokok dan tiba-tiba mendatangi Bayu meminjam korek api. Tanpa rasa curiga Bayu menyalakan rokok si pemuda tadi! Pada saat hampir bersamaan, pria tersebut menepuk bahu kami berdua dan seingat saya memandang mata saya dengan tajam. Ternyata Bayu merasakan hal yang sama juga. Pemuda itu mengatakan bahwa dia bekas teman Bayu waktu kuliah dulu di Amerika (padahal Bayu tidak pernah kuliah di Amerika. Tapi anehnya seperti terkena hipnotis kami mengiyakan saja, percaya dan mengganggap mereka seperti teman karib lama  yang baru saja ketemu. Dua orang temannya yang duduk di meja samping kami segera pula bergabung di meja saya. Kami berlima makan malam seperti kawan yang akrab sekali. Ketiga-tiganya masih muda dan berpenampilan menarik, saya hanya ingat salah satu bernama Rico.


Setelah Bayu membayar bill usai makan, Rico mengajak kami untuk melanjutkan bincang- bincang di tempat dia. Saya dan Bayu menurut saja seperti kerbau dicocok hidungnya. Kemudian kami menuju ke  mobil mereka, seingat saya Kijang baru. Setelah berputar-putar yang nggak jelas kami kemudian dibawa ke sebuah hotel  di sekitar Blok M/Senayan, kemungkinan Grand Mahakam atau Hotel Mulia (kami tidak ingat dengan jelas. Kami kemudian merasa berada dalam sebuah kamar yang cukup besar dengan ruang tamu (suite room. Seperti disihir, salah satu dari mereka mengajak Bayu ke ruang tamu untuk minum-minum sedangkan yang dua (Rico dan temannya) meminta saya masuk ke dalam kamar yang terpisah dengan ruang tamu. Anehnya saya merasa senang saja dan menuruti semua perkataan Rico. Menurut pengakuan Bayu dia juga merasakan hal yang sama. Rico kemudian melepas baju saya dan kami melakukan hubungan  intim, seakan-akan tanpa paksaan. Entah di bawah pengaruh dan kekuatan apa, saya melayani dengan “rela” ketiga pemuda tadi secara
bergantian. Pada saat itu saya betul-betul tidak merasakan adanya paksaan sama sekali. Bayu tidak  sadar sama sekali, bahwa istrinya tengah tidur dengan tiga lelaki secara bergantian di bawah pengaruh hipnotis. Setelah ketiganya selesai, saya diajak ke bath-tub dan dimandikan oleh salah satu teman Rico. Setelah memakai baju kembali, mereka meminta semua perhiasan, jam, dompet, dan HP saya. Bayu juga mengalami hal yang sama pada saat di kamar tamu juga diminta semua barang- barangnya. Yang saya ingat Rico mengatakan bahwa itu dibutuhkan untuk biaya reuni alumni. Rico kemudian mengantar kami kembali ke Semanggi, dan dia mengatakan terima kasih atas pelayanan saya serta sumbangan untuk alumni. Kami berdua masih belum terlalu sadar. Sesampainya di mobil kami, saya melihat jam di mobil yang telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Pada saat itu saya sudah mulai sadar bahwa selama lebih dari empat jam kami dibawa oleh ketiga pemuda tadi.


Tetapi saya masih merasakan  itu sebagai mimpi. Sesampainya di rumah di daerah Bintaro saya menanyakan kepada Bayu apa yang telah terjadi, kami akhirnya m eny adari apa yang telah terjadi. Kami telah jatuh ke tangan bajingan biadab yang memperdayai saya, bahkan saya telah dengan suka rela berhubungan badan dengan mereka. Bagai langit jatuh menimpa kami, saya merasa terhina sekali dan mau bunuh diri saja rasanya. Aku menangis tak berkesudahan seperti gila. Satu-satunyam bukti nyata yang   saya punyai adalah bekas ceceran sperma Rico pada stocking saya yang masih berbekas.
Bayu tidak bisa lagi mengingat-ingat kejadian tersebut. Kami seperti orang linglung, hilang pikiran sama sekali. Kami mengalami stres berat. Pukulan luar biasa bagi hidup sehingga jiwa kami sungguh terguncang.


Ya Tuhan, ampunilah kami. Kenapa nasib kami      begini?
Keluarga saya segera mengantarkan kami menemui psikiater. Dengan bantuan psikiater, kami dihipnotis dan sedikit-demi  sedikit bisa mengungkapkan apa yang telah terjadi. Menurut psikiater, kejadian ini telah beberapa kali terjadi di Jakarta dengan modus yang sama. Yang pertama menimpa suami-istri yang sedang makan malam di sekitar Taman Ria Senayan, yang kedua menimpa pasangan muda-mudi yang tengah makan malam di Cafe daerah Kemang.
Kesemuanya juga dibawa  ke sebuah tempat, yang wanita disebadani dan
diambil semua barang berharganya. Kemudian keduanya dikembalikan ke lokasi semula.
Berhati-hatilah jika Anda terutama pasangan muda, kalau ada orang yang meminta bantuan (meminta api rokok atau apa saja). Jika mereka menepuk Anda, segera pukul atau tampar mereka. Dan jangan sekali-kali menatap mata mereka secara langsung. Para pemuda tadi adalah Bajingan maniak yang mempunyai ilmu hipnotis tinggi dan ingin memperdayai istri-istri orang.

Salam keprihatinan mendalam,

Ira dan Bayu ( Jakarta )

Kategori: reality
Ditandai: ,

Milyuner di Antara Kita

November 11, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar


” Mana milyunernya? Mereka semua tidak ada yang terlihat seperti milyuner!” demikian komentar seorang vice president lembaga keuangan menanggapi sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian tentang para milyuner. Betul, mereka memang tampak seperti orang biasa, berbaju biasa, memakan makanan biasa, bersikap seperti orang biasa. Sama sekali tidak tampak seperti gambaran milyuner yang sering muncul di televisi. Namun bila diteliti lebih lanjut, mereka adalah orang-orang yang sangat sukses di bidang masing-masing, dengan kekayaan bersih minimal di atas 1 juta dolar, setara di atas 10 milyar rupiah.

Banyak penelitian tentang para milyuner menunjukkan bahwa penampilan mereka jauh dari gambaran televisi. Televisi lebih banyak menggambarkan penampilan selebritis, yang dipandang umum sebagai penampilan milyuner. Kenyataannya, para milyuner datang dari berbagai kalangan, kontraktor las, penjual barang bekas, petani, pembasmi hama, hingga penjual koin. Kebanyakan mereka hidup relatif sederhana dibandingkan dengan jumlah kekayaannya. Mobil mereka seperti rata-rata milik orang kebanyakan, bukan model terbaru. Rumah mereka berada di perumahan orang kebanyakan. Mereka juga bergaul dengan orang kebanyakan. Sebagian besar dari mereka tidak suka tampil di depan publik. Namun yang jelas, mereka mempunyai satu kesamaan : sangat merdeka secara finansial. Cerita tentang para milyuner tersebut merupakan hasil survey penelitian tentang para milyuner di Amerika, yang dibukukan secara bagus oleh Dr. Stanley dalam karyanya The Millionaire Next Door.

Menjadi milyuner memang hanya salah satu ukuran keberhasilan seseorang. Masih banyak ukuran-ukuran pencapaian keberhasilan yang lain. Ada pencapaian keberhasilan dalam bidang politik, pelayanan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, militer, dan lain sebagainya. Menjadi milyuner, yaitu suatu prestasi dalam finansial, menjadi ukuran sukses yang sangat mudah dipahami karena setiap orang tidak terlepas dari masalah finansial ini. Setiap orang dapat merasakan bahwa menjadi milyuner adalah sebuah pencapaian prestasi yang hebat. Uniknya, mereka yang mencapai sukses dalam hal finansial, seringkali memiliki kehidupan yang juga sehat di bidang lainnya. Hampir semuanya adalah pasangan yang awet puluhan tahun dalam kehidupan berkeluarga. Mereka juga aktif dalam kegiatan amal dan bermasyarakat. Mereka mempunyai anak-anak yang disiplin, berprestasi, bebas narkoba. Mereka memiliki kemerdekaan finansial, yang juga membantu mereka untuk berprestasi sama baiknya di banyak bidang non finansial.

Sukses dapat diprediksi! Seperti halnya bila Anda mau menuju ke suatu tempat, asalkan telah memilih arah yang benar, maka apakah ditempuh dengan merangkak, jalan kaki, atau berkendaraan, pasti suatu ketika akan sampai di tempat tujuan. Hanya masalah waktu yang membedakan. Sukses adalah buah dari perilaku, karena itu bila kita mempunyai perilaku orang sukses, pasti suatu saat menjadi sukses pula.. Perilaku adalah buah dari kebiasan. Kebiasaan dimulai dari sikap. Sikap dipengaruhi oleh keyakinan. Dan keyakinan dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi, awalnya adalah pengetahuan. Setiap hari, pengetahuan beredar secara berlimpah ruah di sekeliling kita. Kemampuan menangkap pengetahuan, merasakannya, menghayatinya, dan menjadikannya sebagai aksi untuk meraih tujuan, sangat dipengaruhi oleh kecerdasan.

Para milyuner seperti telah diduga, memiliki kecerdasan yang cukup baik. Lebih penting lagi, mereka memiliki kecerdasan yang berimbang. Mereka rata-rata bersekolah dengan baik. Kalaupun putus sekolah, itu dikarenakan kondisi ekonomi keluarga, bukan karena mereka tidak cerdas. Jadi para milyuner ini memiliki kecerdasan intelektual, IQ, yang baik. Mereka juga adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang menjadi bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional, EQ, yang baik. Semua dari mereka juga setuju bahwa kehidupan spiritual, pelayanan, dan sedekah adalah hal yang sangat penting. Kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Mereka meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki, sebagai pendamping yang tidak kelihatan, atau sering diistilahkan sebagai “silent partner”. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecerdasan spiritual, SQ yang sangat baik.

Yang menarik adalah, para milyuner ternyata memiliki lebih dari sekedar IQ, EQ, SQ!

Studi terhadap para milyuner dan orang-orang yang sangat sukses menujukkan bahwa mereka memiliki ciri-ciri lain yang menonjol. Pertama, mereka mempunyai mimpi yang besar, tujuan yang jelas, dan teguh memegang mimpinya tersebut. Kedua, mereka tidak bekerja sendirian, mereka mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam dirinya maupun di sekeliling dirinya. Jadi, mereka mengembangkan dua kecerdasan lainnya sebagai pelengkap dari IQ-EQ-SQ. Mereka mengembangkan kecerdasan yang disebut Kecerdasan Aspirasi (Aspiration Intelligence), dan Kecerdasan Kekuatan (Power Intelligence). Inilah yang menjadi rahasia para milyuner dan orang-orang sukses, mereka secara simultan mengembangkan lima kecerdasan dengan seimbang!

Kategori: Bisnis
Ditandai: , ,

Panangian: Lelang Bukan Satu-satunya Cara Menjual Properti

November 11, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Panangian Simanungkalit menilai penjualan aset-aset properti eks BBO/BBKU yang sedang berlangsung berjalan lamban, karena BPPN belum mempunyai grand strategy dalam penjualan aset.

PROPERTYeNET.com- Pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan, perjualan aset-aset properti eks BBO/BBKU yang berlangsung lebih dari setahun berjalan sangat lambat. Menurutnya, dalam menjual aset-aset properti, BPPN belum memiliki grand strategy. Sementara nilai aset-aset properti BPPN yang masih ada sekarang ditaksir berkisar 8 triliun. Tetapi melihat kinerja BPPN dalam penjualan aset-aset properti melalui lelang akhir-akhir ini, Panangian pesimis BPPN dapat memenuhi target. Bisa dibayangkan, kata Iyan (begitu ia akrab disebut), dengan kecepatan jual yang hanya berkapasitas 1 triliun per tahun, di mana setiap tahap lelang hanya ditargetkan 100 miliar, maka kecil kemungkin BPPN dapat memenuhi targetnya. “Dalam setahun itu, maksimal ada 10 tahap lelang. Jadi bagaimana BPPN bisa mengejar targetnya dalam kurun waktu yang masih tersisa,” tegas Panangian ditemui PROPERTYeNET.com, Kamis (26/7) pada sebuah acara seminar di Jakarta.

Tidak adanya grand strategy BPPN dalam penjualan aset-aset properti melalui lelang, membuat praktek-praktek mafia lelang makin merajalela. Di samping itu, meski dijual melalui lelang, pada prakteknya, Panangian melihat, BPPN belum transparan dalam pelaksanaannya. “Tetap saja banyak mafia yang ikut bermain di lelang-lelang BPPN,” ujarnya.

Ia mencontohkan, sebidang tanah di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang terjual lewat lelang. Ternyata, oleh pembelinya dilelang kembali untuk mencari gain. Belum lagi “permainan” harga limit yang sering kurang wajar. Kalau hal ini dibiarkan terus, Panangian khawatir, pada akhirnya, lelang-lelang properti dijadikan ajang para spekulan untuk mengambil keuntungan. Sementara para pengembang yang berniat mengembangkan properti tidak mendapat kesempatan.

Untuk itu, ia menyarankan agar BPPN tidak terlena menjual aset-asetnya per paket (kecil-kecil), karena sistem itu terlalu lambat. Dan lelang menurutnya, bukan satu-satunya cara menjual properti yang efektif dan transparan. Cara lain yang patut dicoba, usul Panangian, adalah buat semacam “Property Shopping Center” di belasan kantor BPPN di daerah. “Dimana masyarakat umum diperbolehkan melihat dan menawar secara terbuka. Ini satu jalan untuk mempercepat penjualan aset dan tidak membuat repot,” kata Panangian.

Dengan dipasang listing properti di BPPN center, maka akses masyarakat untuk membeli properti lebih luas dan harga yang terbentuk pun lebih wajar, karena bisa menghindari praktek mafia. “Saya tidak mengatakan bahwa lelang harus ditutup, tapi dengan adanya kombinasi antara lelang dengan open listing, saya aset-aset tersebut bisa cepat terjual,” tandasnya.

Kategori: property
Ditandai: