Cepiar’s Weblog

Kecerdasan Spiritual Pengusaha

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Masyarakat bawah, pengusaha UKM, itu sebenarnya secara spiritual sudah bagus. Spiritual dalam arti yang luas ya, seperti kejujuran mereka, ketabahan, dan sebagainya. Justru yang saya lihat kurang adalah apa yang disampaikan model SEPIA itu, yaitu kecerdasan Power dan kecerdasan Aspirasi. Mereka itu tidak punya jaringan dan tidak punya visi…,” kata Pak Agus Syarief. Artinya, kalau hanya sisi spiritual (SQ) yang dibangun, juga emosional (EQ) dan intelektual (IQ), belum akan menjawab permasalahan. Karena pada dasarnya teman-teman UKM (Usaha kecil dan Menengah) itu sudah memiliki ketrampilan, semangat, dan kejujuran. Yang paling kurang dari mereka adalah strategi dan aspirasi (visi) mereka.

Kami sedang duduk bersama makan siang, setelah sebelumnya selesai menyelenggarakan seminar SEPIA untuk para mahasiswa dan guru (yang hadir hampir 200 orang, yang jelas aulanya penuh). Malam sebelumnya kami selenggarakan seminar Financial Happiness untuk undangan terbatas (yang hadir sekitar 20 orang). Ini sudah prestasi, mengingat undangannya hanya model ‘gerilya’. Pak Agus itu tipe orang yang ‘walk the talk’, melakukan apa yang dia ucapkan. Walau hanya kenal melalui internet, beliau bilang melihat suatu hal unik pada SEPIA ini yang bisa diterapkan untuk pemberdayaan masyarakat. Memang sembari menjadi dosen ekonomi di Universitas Jambi, aktifitas beliau yang riil adalah membina para pengusaha UKM di wilayah Jambi.

“Itulah kenapa SEPIA ini menurut saya cocok sekali untuk disosialisasikan,” ujar Pak Agus lebih lanjut, “karena ada kecerdasan Power dan Aspirasi itu.” (Oo… begitu, batin saya.)

“Dan saya mengingatkan lagi kepada Pak Khairul, tahun 2010 itu sudah dekat loh, kan visi Pak Khairul di tahun itu SEPIA ini bisa menjadi model yang tersebar di seluruh Indonesia…,” ujarnya lagi. (Wah, Pak Agus ini lebih serius daripada saya ternyata, batin saya lagi.)

Lalu beliau bercerita bahwa mengundang saya ke Jambi bukan tanpa cobaan. Berat, katanya. Ada saja yang skeptis bahkan berprasangka yang kurang baik dengan kegiatan kami ini.

“Bahkan sempat dikatakan buku ini‘aliran sesat’. Kalau memang SQ, mana ayat-ayatnya? Saya jawab, memang ayatnya tidak ditulis, tapi keseluruhan buku itu sudah menggambarkan hal itu. Lihat saja bagian terakhir halaman penutup. Ada ayatnya di situ,” cerita beliau. “Yah, kita melakukan apa pun pasti ada saja yang mengkritik,” ujarnya. Kami tertawa bersama. (seringkali memang orang terjebak mengidentikkan SQ dengan agama, bukannya perilaku orang yang beragama)

Saya sudah sering membawakan SEPIA di luar Jawa. Namun kegiatan kali ini menjadi istimewa karena perkenalan kami betul-betul hanya melalui internet! (Biasanya kegiatan luar kota lainnya dimulai dari kenal lewat buku atau kegiatan lain.) Walaupun ini adalah kejadian ke dua setelah sebelumnya rekan-rekan dari PT Inti Optotama Jakarta juga mengundang hanya dengan kenal lewat internet, namun waktu itu SEPIA dibawakan khusus bagian SQ (kecerdasan spiritual) saja.

Lalu pikiran saya melayang mengingat kembali cita-cita sebuah perusahaan dengan 10 ribu karyawan. Bukankah perusahaan itu tidak perlu berwujud pabrik besar dengan 10 ribu karyawan? Bukankah bisa saja berwujud 1000 kantor kecil di 1000 kota dengan 10 karyawan, atau bisa juga 2000 kantor kecil dengan 5 karyawan? Tujuan usaha itu juga bukan untuk mencetak laba yang besar, cukup bisa ‘sustain’ saja sudah hebat (itu artinya ada 10 ribu keluarga bisa mendapat nafkah). Potensinya banyak, misalnya Bimbingan Belajar metode SEPIA, Career Day untuk SMA metode SEPIA (biasanya untuk menghadapi SPMB), penerimaan mahasiswa baru dan wisuda di universitas (untuk pembekalan kiat kuliah dan kiat bekerja), konsultasi keuangan keluarga metode SEPIA (mengatasi masalah kesejahteraan finansial), jualan poster-poster 5 kecerdasan SEPIA, pemberdayaan UKM metode SEPIA (terutama asesmen titik lemah perusahaan), buku kumpulan pengalaman inspiratif ‘Chicken Soup for Soul’ gaya SEPIA (sarana berbagi pengalaman), peningkatan mutu SDM perusahaan metode SEPIA (terutama meningkatkan PQ dan AQ, dua hal yang sering luput), program persiapan pensiun metode SEPIA (biar pesangon tidak menguap karena salah investasi), dll. Kekuatan metode SEPIA sesungguhnya ada pada pendekatan sinergi komprehensif dari 5 kecerdasan, dan tidak mengunggulkan sebagian kecerdasan atas kecerdasan yang lain (sekarang kan trend-nya sedang mengunggulkan SQ tuh! Padahal dalam realita hidup, menjadi baik dan shaleh saja sangat jauh dari cukup untuk meraih sukses.). Semua visi itu bisa terwujud melalui kerjasama dengan ribuan lembaga seperti Lembaga Manajemen Terapan (LMT) ‘Success’ yang dipimpin Pak Agus di Jambi. Kerjasama dengan LMT Success ini bisa menjadi model awal.

“Dan dari 10 karyawan itu mimpi saya ada 1 orang cacat yang dilibatkan. Kalau dia cacat kaki, bukankah masih bisa mengerjakan tugas di komputer seperti mendesain brosur misalnya? Kalau dia tuna rungu, bisa mengerjakan sesuatu yang memerlukan ketekunan. Mereka yang cacat itu terbatas sekali kesempatan kerjanya,” demikian saya ungkapkan kepada Pak Agus, setengah meminta persetujuan beliau.

Sebuah mimpi, katanya harus ditulis. Ketika mimpi itu ditulis, ia bisa menginspirasi diri sendiri, bahkan juga orang lain. Dan ketika sebuah mimpi telah menginspirasi, ia berpotensi mewujud, seringkali hampir dengan sendirinya.

“If you can dream it, you can do it. Always remember that this whole thing was started with a dream and a mouse.”

Kategori: Bisnis
Ditandai:

Fengshui

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ramalan, Fengshui, takdir, dan Efek Forer

Filed under: Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Intelektual, Cara Bahagia

bolaMama Lauren sedang naik daun. Kata orang, ramalannya jitu. Pada awal tahun 2007 ketika terjadi musibah hilangnya Adam Air dan tenggelamnya kapal Senopati, Mama lauren muncul di sebuah acara TV dan ditanya mengenai ramalannya untuk tahun 2007. Tentu saja saya yang kebetulan nonton acara itu (lupa acaranya) ikut curious dengan ramalan dia.

Katanya, kalau tidak salah, akan ada lagi musibah kecelakaan pesawat. Kalau tidak salah lagi, inisialnya ”A”. Selain itu ada ramalan artis yang akan bercerai (yang ini sih, standar). Beberapa waktu kemudian terjadi musibah pendaratan tak mulus pesawat Adam Air di Surabaya. Pesawatnya rusak, namun semua penumpang selamat. Kemudian terjadi lagi musibah kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta. Musibah ini cukup fatal dan terdapat korban jiwa.

Nah, kalau ramalan mama Lauren jitu, mengapa inisial yang disebutkan ”A”, bukan ”G”? Apakah ramalan tersebut sekedar kebetulan? Atau suatu kemestian umum (seperti halnya ramalan bahwa harga BBM akan naik)?

Ramalan dan seni meramal sudah populer sejak jaman purba. Manusia selalu punya rasa ingin tahu tentang nasibnya di masa depan. Apakah kita boleh percaya dengan ramalan?

Fengshui

”Bapak percaya fengshui?” begitu kira-kira pertanyaan saya suatu ketika kepada Pak Dimitri.

”Alam ini adalah simbol Pak…,” jawab Pak Dim tidak langsung, yang seterusnya menyampaikan dasar pemikiran tentang keteraturan alam, dan betapa mungkinnya bahwa semua simbol-simbol di alam semesta itu bisa ditafsirkan. Singkatnya, kita memang harus percaya bahwa peramalan itu memungkinkan.

Sebagai muslim, saya percaya akan adanya ramalan. Sebentar, bukankah ada hadits yang melarang kita mempercayai peramal?

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari”. (HR Muslim dari sebagian Istri-istri Rasulullah Saw)

sumber : http://paranormalsakti.freehomepage.com/about.html

Saya percaya akan adanya ramalan BUKAN berarti saya percaya sembarang peramal. Bukti-bukti tentang ilmu mengetahui masa depan dicontohkan pada kisah para nabi, diantaranya adalah Nabi Yusuf ketika menerjemahkan mimpi dua orang yang dipenjara. Seorang ditafsirkan mimpinya bahwa dia akan bebas, dan seorang lagi akan dihukum mati. Ramalannya benar. Setelah itu beliau menafsirkan mimpi raja bahwa akan terjadi masa makmur selama 7 tahun dan masa paceklik selama 7 tahun. ’Ramalan’nya benar. Dalam hadits, juga terdapat beberapa ’ramalan’ Nabi Muhammad tentang masa depan. Yang menyampaikan adalah Nabi. Akankah Anda tak percaya? Ini adalah bukti nyata bahwa ramalan itu ada.

Kalau Nabi kita percaya, bagaimana kalau Mama Lauren? Apalagi ramalan bintang di koran lokal yang tampaknya diambil dari sembarang kumpulan database ramalan zodiak, apakah Anda juga percaya? Bagaimana dengan Fengshui, percaya juga?

Saya sendiri memilih, kadang percaya, kadang tidak. Sikap tersebut didasarkan bahwa keteraturan di alam ini memang sebenarnya bisa diramalkan, namun tetap saja sulit dilakukan.

Fengshui sebenarnya adalah kumpulan pengamatan manusia atas fenomena alam. Fenomenanya sendiri teratur, pengamatnya sangat mungkin bias. Bila orang Cina pakai istilah Naga Hijau dan Macan Putih, itu adalah cara mereka membuat penjelasan atas fenomena alam itu sendiri. Simbolisasi ini (yang bisa juga disebut ’rumus’) jelas sangat mungkin salah. Kalau mereka membuat ’rumus’ itu berdasarkan pengamatan di belahan bumi utara (negeri Cina), apakah masih berlaku untuk belahan bumi selatan (misalnya di Jawa)? Kalau dulu belum ada listrik, telepon seluler, perubahan iklim global, bergesernya kutub magnet bumi, dll, apakah ’rumus’ kuno itu masih akan manjur seperti saat pengamatan dulu dilakukan? Logikanya sih, tidak.

Namun tentu ada pengamatan yang masih berlaku. Misalnya Anda bekerja membelakangi pintu masuk (secara Fengshui ini posisi buruk), tentu masih akan berlaku hingga saat ini. Secara psikologis tetap saja seseorang merasa tidak nyaman bila setiap saat bisa terjadi seseorang mengintainya dari sebelah belakang. Yang ini saya percaya.

Bagaimana dengan instrumen pendukung Fengshui seperti perhitungan bintang, shio, dll. Yang ini menurut saya sangat mungkin ’rumus’nya sudah tidak jitu lagi. Posisi bintang terus berubah (galaksi ini terus berputar kawan, bukan di atas seekor kura-kura seperti anggapan orang kuno dulu). Secara pemodelan sederhana sudah jelas rumusnya tak akurat lagi. Saat ini pun sudah resmi dirumuskan zodiak ke-13 (OPHIUCHUS 30 Nov – 17 Des), rumus peramal bintang sudah pasti jadi meleset.

Jadi saya mempercayai ramalan sekedar sebagai ’rumus’ perkiraan dengan keakuratan rendah. Ibaratnya ramalan cuaca. Kita harus percaya bahwa peramalan itu mungkin. Sekaligus juga percaya bahwa secara statistik ramalan itu cuma sebuah peluang belaka. Ramalan cuaca saat ini yang didukung pengamatan satelit, jelas lebih akurat dibandingkan ramalan nasib. Saya percaya dengan Fengshui, sebatas sebuah ’model rumus’ dengan keakuratan bervariasi. Sebagian mungkin akurat 60 persen. Lainnya mungkin akurat 20 persen saja.

Bagaimana dengan keakuratan ramalan Mama Lauren? Saya percaya… bahwa itu juga hanya peluang.

Saya percaya bahwa sebagian orang diberi karunia tertentu, yah bisa kita katakan kecerdasan supranatural. Tak perlu diragukan lagi, memang faktanya jelas. Masalahnya adalah, apakah kita percaya Mama Lauren punya karunia kelebihan seperti itu? Ya, terserah Anda mau percaya atau tidak. Sulitnya hal semacam ini karena metode pembuktian ilmiah sulit dilakukan. Instrumen pengukurannya apa? Siapa yang bisa dijadikan kalibrasi/referensi?

Anggap Mama Lauren punya kemampuan supranatural itu (dan hal tersebut sah-sah saja dimiliki seseorang). Yang penting adalah, bagaimana sikap kita terhadap sebuah ramalan?

Saya pernah diramal menjadi orang sukses, sepertinya Anda juga pernah. Saya pernah diramal akan gagal pada umur sekian dan sukses pada umur sekian. Pernah diramal bisnis tertentu akan oke, dan lain sebagainya. Menurut pengamatan saya, semua ramalan itu tidak jelas keakuratannya. Saat ini saya (merasa) sukses pada sebagian hal, dan gagal pada sebagian yang lain. Jadi bagaimana kita bisa katakan ramalan tersebut akurat bila semua kondisi peramalan itu terjadi?

Penjelasan tentang ’keakuratan’ ramalan Mama Lauren dan semacamnya ini bisa dikaitkan dengan adanya Qadla’ (ketetapan Allah atas suatu kejadian) dan Qadar (terjadinya suatu kejadian) dalam ilmu Islam. Semua hal di dunia ini sudah ada ketetapannya (disebut Qadla’), sehingga sering kita diberitahu tentang lahir, rizki, mati, daripada seseorang sebenarnya sudah ditentukan. Nah, yang sering salah diartikan oleh kebanyakan orang adalah, bahwa Qadla’ seseorang itu tunggal, padahal sesungguhnya bisa BANYAK!

Sesuatu yang pasti itu belum tentu tunggal. Sebuah persamaan kuadrat atau polinomial dalam matematika bisa mempunyai jawaban benar dua, tiga, bahkan sangat banyak. Jawabannya bisa banyak tapi pasti! Artinya himpunan jawabannya itu sudah tertentu, walaupun jumlahnya banyak. Di luar himpunan jawaban tersebut adalah kemustahilan. Sebagai ilustrasi, bahwa peluang Anda menikah dengan salah satu teman Anda sekarang pastilah ada, walau mungkin kecil sekali. Tapi peluang Anda menikah dengan Cleopatra misalnya jelas suatu kemustahilan karena hidup di masa yang berbeda.

Nah, dari jutaan ketentuan qadla’ tersebut, bisa saja sebagian kecil tertangkap oleh indera keenam (supranatural) seseorang. Misalnya Mama Lauren meramal tentang suatu kejadian, maka saya berpandangan bisa saja memang dia menangkap isyarat satu dari jutaan pilihan masa depan. Berapa peluang kejadian tersebut akan terjadi? Ya, variatif, bisa sangat kecil (karena qadla’ sesungguhnya jutaan), bisa cukup besar (karena qadla’ sesungguhnya hanya beberapa puluh). Jadi bagaimana kita bisa yakin ramalan itu benar? Ya, sulit.

Yang bisa kita lakukan adalah menganggapnya sebagai input mentah. Itu ibarat seorang guru yang melihat muridnya malas belajar, lalu meramalkan bahwa si murid akan gagal ujian. Bisa saja ramalannya meleset karena si murid tiba-tiba rajin belajar, atau dapat contekan saat ujian, atau soal ujian yang keluar kebetulan saja dia bisa. Prediksi si guru (yang muncul dari akumulasi pengetahuan yang menjadi intuisi) bisa kita anggap sebagai peringatan awal. Tapi jelas sangat jauh dari mutlak.

Jadi kalau ada ramalan (atau saya diramal tanpa diminta), saya anggap itu sebagai input mentah. Mungkin berguna, mungkin tidak. Pengalaman selama ini sih, minta diramal (dulu waktu kecil terpikat oleh tawaran peramal pinggir jalan, hehe) ternyata tidak akurat, atau tepatnya tidak bisa dibuktikan keakuratannya.

Kesimpulan sekarang : semua ramalan itu hakikatnya cuma ilmu statistik saja. Ketepatannya tidak pernah mutlak. Kadang tepat, sering juga meleset. Dalam statistik itu disebut model dengan reliabilitas (keandalan) rendah. Misalnya, kalaupun sinyal-sinyal masa depan yang ditangkap Mama lauren itu benar, penafsiran atas sinyal itu secara akurat sangat sulit (data valid, penafsiran Mama Lauren lah yang bias). Hanya orang-orang tertentu seperti misalnya Nabi Yusuf dan Nabi Khaidir saja yang tingkat keakuratannya tinggi.

Efek Forer

Kenapa sih, walaupun keakuratannya rendah banyak orang masih juga senang dengan ramalan bintang (juga ramalan para peramal)? Ternyata karena ’persepsi bahwa ramalan tersebut jitu’ ternyata cukup tinggi.

Seorang dosen psikologi bernama Bertram R. Forer membuat percobaan terhadap para mahasiswanya. Mereka diberi kuesioner yang harus diisi untuk evaluasi terhadap kepribadian para mahasiswa. Beberapa lama kemudian setiap mahasiswa mendapat hasil masing-masing. Selanjutnya mereka diminta memberikan penilaian atas keakuratan tes tersebut dengan skor 0 untuk tidak tepat (poor) dan 5 untuk sangat tepat (excellent). Hasilnya adalah 4,26 yang artinya tingkat keakuratan tes tersebut sangat tinggi. Yang tidak diketahui oleh para mahasiswa tersebut adalah bahwa semua analisis yang diberikan adalah sama, dan diambil dari cuplikan ramalan bintang! Analisis tersebut berisi keterangan yang ambigu (Anda extrovert, tapi terkadang introvert, Anda terlihat disiplin di luar, padahal ceroboh di dalam, dsb). Dan karena ambiguitas analisis itu, maka setiap mahasiswa melihat kecocokan dalam dirinya!

Inilah yang disebut Efek Forer. Efek ini terjadi karena 3 hal :

  1. subyek meyakini bahwa hasil tersebut unik buat dia
  2. subyek percaya akan kredibilitas evaluator untuk memberikan evaluasi
  3. kebanyakan isi analisis adalah hal yang bagus-bagus (positive traits)

Nah itulah yang terjadi ketika seseorang takjub dengan keakuratan seorang peramal. Dia sebenarnya terkena Efek Forer!

Kategori: intermezo
Ditandai:

KISAH SUKSES PENGUSAHA BURGER

November 10, 2007 · & Komentar

Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.

KLIK - Detail (Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.

Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)

Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.

Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.

Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.

KLIK - DetailPENSIUN JADI PREMAN
Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.

Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).

Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.

Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.

NYARIS TERSAMBAR PETIR
Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.

KLIK - Detail Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.

Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.

Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.

Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.  

Kategori: Bisnis
Ditandai:

Cara Kaya : Bercita-cita Menjadi Investor

November 10, 2007 · & Komentar


Menjadi investor? Bukankah cita-cita yang umum adalah menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi insinyur, atau menjadi artis?

Ya, itulah cita-citanya orang yang tidak kaya (atau yang orang tuanya tidak punya ilmu menjadi kaya). Ini tidak bermaksud menghina, ini hanya sekedar menunjukkan perbedaan orang yang kaya dengan yang tidak kaya (kelas menengah atau miskin) dalam mendidik anaknya.

Didikan orang tua (yang tahu caranya) kaya adalah : jadilah investor, baru kemudian apa pun profesi yang kamu inginkan!

Setelah jeda yang sangat lama, saya kembali membuka buku Kiyosaki berjudul Guide to Investing. Ini satu di antara 3 buku Kiyosaki yang menjadi favorit saya. Buku yang lain adalah Retire Young Retire Rich, dan Cashflow Quadrant. Ya, Anda benar, saya menjadikan Kiyosaki sebagai salah satu guru saya. Virtual tentu saja.

Buku Guide to Investing ini cukup padat isinya dan saya tidak bermaksud menulis ulang isi buku ini (silahkan baca sendiri). Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah esensi dari semua kegiatan yang Anda lakukan untuk menjadi kaya adalah ‘muara akhirnya’ yaitu : menjadi investor.

Anda boleh menjadi seorang karyawan (E:employee), sebagai seorang pekerja mandiri (S : self employee), atau menjadi bisnisman (B : businesss owner). Anda bebas memilih menjadi apa pun, atau sebaliknya tidak menjadi satu pun dari karyawan, pekerja mandiri, atau bisnisman itu. Namun Anda wajib menjadi investor (I : investor). Inilah satu-satunya jalan menjadi kaya.

Nah, karena kita dilahirkan dengan kondisi berbeda-beda, maka tidak semua orang langsung bisa terjun total sebagai investor. Kita perlu belajar dulu, perlu pengalaman dulu, dan perlu modal dulu. Itulah kenapa kita semua memerlukan profesi E, S, B, sebagai jembatan menuju profesi ultima yaitu sebagai I (investor).

Kalau begitu kita perlu segera terjun ke pasar saham dong? Atau ikut MLM (kata orang MLM)? Atau jual beli rumah?

Salah.

Langkah pertama adalah mengenal apa itu investasi. Dan jauh dari yang dibayangkan kebanyakan orang, investasi itu bukan main saham, bukan jual beli rumah, bukan juga rame-rame ikut MLM. Itu semua cuma disebut ‘kendaraan investasi’. Investasi menurut Rich Dad nya Kiyosaki adalah : sebuah rencana!

Investor Lesson #4 : Investing is a plan, not a product or procedure. Investing is a very personal plan. (Guide to Investing. Kiyosaki)

Saya kutipkan percakapan Kiyosaki dengan ‘ayah kaya’ nya sebagai berikut :

Dalam salah satu pelajaran saya (Kiyosaki – red.) mengenai investasi, ia (ayah kaya – red.) bertanya, “Tahukan kamu mengapa ada begitu banyak tipe mobil dan truk yang berlainan?”

Saya memikirkan pertanyaan itu sebentar, lalu menjawab, “Aku rasa karena ada begitu banyak tipe orang yang berlainan dan mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Seorang lajang mungkin tidak membutuhkan station wagon besar berkursi sembilan, tapi suatu keluarga dengan lima anak mungkin membutuhkan itu. Dan seorang petani akan memilih truk pickup daripada mobil sport dua kursi.”

“Tepat,” sahut ayah kaya. “Dan itu sebabnya produk-produk investasi sering disebut ‘kendaraan investasi’.”

“Mengapa istilahnya ‘kendaraan’?” tanya saya lagi.

“Sebab tugas semua kendaraan adalah membawamu dari titik A ke titik B!” jawab ayah kaya. “Suatu kendaraan investasi hanya membawamu dari titik finansial sekarang ke titik finansial yang kamu inginkan, entah kapan di masa mendatang.”

“Dan itu sebabnya investasi itu adalah rencana,” sahut saya sambil mengangguk pelan. Saya mulai paham.

“Investasi itu seperti merencanakan suatu perjalanan, misalnya dari Hawaii ke New York. Jelas, kamu tahu bahwa untuk awal perjalananmu sepeda atau mobil tidak akan memadai. Kamu perlu kapal laut atau pesawat terbang untuk menyeberangi laut,” kata ayah kaya.

“Dan sekali saya mendarat, saya bisa berjalan, mengendarai sepeda, atau bermobil, naik kereta api, bus, atau terbang ke New York,” tambah saya. “Semuanya kendaraan yang berbeda.”

Ayah kaya mengangguk. “Dan yang satu tidak lantas berarti lebih baik dari yang lain. Jika kamu punya banyak waktu dan betul-betul ingin melihat negeri ini, maka berjalan kaki atau naik sepeda akan menjadi yang terbaik. Tetapi jika kamu perlu berada di New York besok, jelas bahwa terbang adalah satu-satunya pilihan terbaik bagimu jika kamu ingin tiba tepat waktu.”

“Jadi banyak orang mengarahkan fokus pada suatu produk, misalnya saham, dan kemudian suatu prosedur, misalnya trading (jual-beli), tetapi sebetulnya mereka tidak mempunyai rencana. Itukan yang hendak Bapak katakan?” tanya saya.

Ayah kaya mengangguk. “Kebanyakan orang berusaha meraup uang dengan apa yang mereka anggap investasi. tetapi trading bukanlah investasi.”

“Kalau bukan investasi, lalu apa?” tanya saya.

“Trading adalah trading,” sahut ayah kaya. “Dan trading adalah suatu prosedur atau teknik. Orang yang memperdagangkan saham tidak berbeda dengan orang yang beli rumah, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan lebih tinggi. Satu orang dagang saham, orang lain dagang rumah. Itu tetap trading. Dan trading adalah suatu profesi. Tetapi trading bukanlah apa yang aku sebut investasi.”

“Dan bagi Bapak, investasi adalah suatu rencana, rencana untuk membawa Bapak dari posisi sekarang ini ke posisi yang Bapak inginkan,” sahut saya sambil berusaha keras memahami batasan-batasan ayah kaya.

Ayah kaya mengangguk dan berkata, “Aku tahu ini agak dipaksakan dan terasa detil. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk mengurangi kebingungan di seputar subyek investasi. Setiap hari aku bertemu dengan orang-orang yang mengira mereka sedang berinvestasi, padahal secara finansial mereka tidak beranjak kemana-mana. Mereka ibarat mendorong sebuah gerobak berputar-putar.”


Ketika membaca buku Guide to Investing saya sebenarnya tidak paham tentang ‘investasi adalah rencana’. Saya baru paham setelah membaca buku Retire Young Retire Rich yang menjelaskan konsep Wealth Ratio (WR).

Investasi adalah sebuah rencana maksudnya begini: dengan rencana tersebut Anda menggunakan berbagai kendaraan investasi untuk bisa berpindah dari miskin (WR=0) menjadi bebas finansial (WR=1) dan terus berkembang menjadi berkelimpahan (WR>1). Tentunya Anda masih ingat tentang konsep WR ini di tulisan sebelumnya.

Jadi, apapun yang sekarang sedang Anda kerjakan di kantor atau bisnis, Anda ‘tidak akan pernah menjadi kaya’ kecuali Anda mulai membuat rencana, kemudian berlatih menggunakan kendaraan investasi, dan selanjutnya menggunakan ilmu dan uang yang Anda peroleh itu untuk diubah menjadi sumber pasif income hingga WR>1.

Eh, ngomong-ngomong, bolehkan saya tidak memilih jadi investor? Ya boleh saja. Paling-paling Anda gagal jadi kaya (yang berarti terus menjadi budak masalah finansial). Kan menjadi kaya juga sebuah pilihan….

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Kisah Sukses Google (Raja Mesin Pencari)

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah Sukses Google : ‘The Google Story’ 2005 ditulis oleh David A.Vise
-Penulis Pemenang Pulitzer Prize- bersama Mark Malseed yang
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, Tahun 2006.

Penulis memulai uraian buku pada Bab I yang bertajuk ‘Pengabaian Sehat
untuk yang Mustahil’ yang mengisahkan ketika kedua pendiri Google Larry
Page dan Sergey Brin tengah melakukan semacam kuliah umum dan tatap
muka dengan siswa SMA unggulan di suatu tempat di Negeri Israel pada
suatu masa pada tahun 2005 saat Google tengah mendaki puncak sukses
bisnis dan dalam kurun waktu tidak berapa lama lagi dipandang akan
mampu melewati kekayaan dan kejayaan Microsoft-nya Bill Gates yang
selama lebih dari satu dekade terakhir menjadi perusahaan IT yang
paling kaya sedunia.

Penulis menggarisbawahi bahwa keunggulan Google dibanding Microsoft
sang raksasa penguasa dunia piranti lunak masa kini, adalah kenyataan
bahwa kiprah bisnis Google berjalan diatas 2 pijakan yakni dunia piranti lunak
—dengan algoritma mesin pencarian inovatif model Page Rank System—
serta dunia perangkat keras —yakni ribuan server komputer rakitan sendiri
yang amat efisien dalam konsumsi daya namun berkemampaun kinerja amat
tinggi yang dijalankan dengan aplikasi antar-muka komputer hasil rekayasa
para insinyur Google sendiri—

Uraian penulis sebanyak 25 Bab lanjutan setelah bab pertama boleh
dikata berupa kilas balik ke masa lampau lalu meruntut setapak demi
setapak ke depan dalam urutan nyaris historis hingga sampai pada saat
buku terbit pertama di AS akhir tahun 2005. Masa lampau itu yakni tahun
1998 saat mana dua serangkai Page dan Brin sama-sama masih berstatus
mahasiswa program studi doktoral yang kebetulan ditempatkan pada
ruangan kerja Room Gates 360 W.Gates Dept. Computer Science,
Universitas Stanford —yang tidak lain menyandang nama donatur pemberi
dana ’sumbangan pembangunan gedung’ ialah : Bill Gates sang pendiri
Microsoft—

Seluruh 26 Bab buku pada buku setebal 336 hal ini secara khusus diberi
kelengkapan lampiran tersendiri, a.l: Kinerja Laporan Keuangan Perusahaan,
analisa pergerakkan nilai saham Google Inc (GOOG), dan yang unik dan
istimewa yaitu lembar lampiran: GLAT – Google Lab Aptitude Test !
Setiap pembaca yang mampu mencetak skor tinggi dalam test GLAT dapat
mengirimkan hasil testnya ke Googleplex Campus di Mountain View, CA, USA.
Selebihnya : “If You are Brilliant, We’ll hire You “.

Google —atau tepatnya googol— adalah sebuah kata yang mendefinisikan
bilangan teramat besar : angka 1 diikuti 10 pangkat 10 dibelakangnya yang
dipandang pas sebagai nama perusahaan yang berkiprah di bidang mesin
pencarian informasi yang jumlahnya segunung di dunia Internet.

Kategori: Bisnis
Ditandai:

KISAH SUKSES PENGUSAHA BANK 2

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan.”
Hugo Cavez, Presiden Venezuela

buku bank kaum miskinSeraya berekspansi, kami pantau kemajuan para peminjam melalui siklus pinjaman berturutan. Kebanyakan, besaran pinjaman mereka meingkat sejalan pertumbuhan bisnis dan meningkatnya kepercayaan dirinya. Beberapa peminjam yang paling dinamis menggunakan laba yang didapatnya untuk membangun rumah baru atau memperbaiki rumahnya sekarang. Tiap kali saya mengunjungi sebuah desa dan melihat sebuah rumah dibangun dari laba usaha yang dibiayai Grameen, saya merasa tergetar, meski saya masih menyesal karena ada banyak peminjam lainnya yang tidak mampu melakukan investasi besar macam itu.

Tahun 1984, saya lihat iklan Bank Sentral bangladesh yang mengumumkan rencana pembiayaan baru untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) di wilayah pedesaan. Menanggapi iklan itu, Grameen Bank mengajukan ke Bank Sentral permohonan bantuan untuk mengenalkan program KPR ke peminjam. Kami jelaskan bahwa kami dibatasi oleh kondisi para peminjam kami yang sangat sederhana, yang tidak bisa membayar uang sebesar yang disebutkan dalam iklan Bank Sentral. Para peminjam kami tidak bisa meminjam 75.000 taka (sekitar AS$2.000), tetapi kami sungguh ingin meminjamkan KPR sejumlah 5.000 taka (AS$125) untuk mereka.

Permohonan kami ditolak. Para staf ahli dan konsultan Bank Sentral memutuskan bahwa apapun yang dibangun dengan harga AS$125 tidak akan memenuhi pengertian struktural sebuah rumah. Secara spesifik mereka nyatakan bahwa rumah macam itu tidak sesuai dengan “jenis rumah di negeri ini”.

Saya protes. “Siapa peduli dengan ‘jenis rumah di negeri ini’?” ujar saya. “Yang kami inginkan adalah atap yang tidak bocor dan ruang kering yang bisa dihuni oleh para anggota kami.”

Kami berusaha agar konsultan-konsultan Bank Sentral bisa melihat sendiri dampak besar kredit rumah yang sangat kecil ini terhadap kondisi para peminjam kami saat ini. Tetapi semua argumentasi kami kandas. Mereka tidak akan mengalah.

Lalu kami munculkan gagasan lain. Kami mengirimkan permohonan kedua yang menjelaskan bahwa kami tidak lagi menginginkan memberikan kredit perumahan, melainkan ‘kredit tempat tinggal’. Kami harap mereka tidak memiliki definisi atau statistik tentang ‘jenis tempat tinggal’ yang bisa mendiskualifikasi kami. Meski konsultan penanggungjawab proyek tidak memperlihatkan penolakan terhadap ide soal kredit tempat tinggal ini, ekonom dalam kelompok mereka berpendapat bahwa peminjam kami tidak akan mampu membayar pinjaman yang bukan untuk menghasilkan pendapatan. Grameen bisa berjalan karena pinjaman yang diberikannya ditujukan untuk menghasilkan pendapatan, atau yang mereka sebut ‘kegiatan produktif’, tetapi kredit tempat tinggal merupakan ‘kegiatan konsumsi’. Para peminjam kami tidak akan sanggup membayar kembali utangnya dari pinjaman yang tidak menghasilkan pendapatan ini.

Kami pun kembali ke meja rapat. Kali ini kami katakan bahwa kami ingin menawarkan ‘kredit untuk pabrik’ pada para peminjam. Kami jelaskan bahwa mayoritas peminjam adalah perempuan dan mereka ini bekerja di rumahnya. “Peminjam kami memperoleh pendapatan dari pekerjaaan yang dilakukan sambil mengasuh anak,” jelas saya. “Kegiatan macam ini kebanyakan dilakukan di rumah mereka sendiri. Karena merupakan tempat bekerja, kami menyebut rumah mereka sebagai pabrik. Nah, musim hujan merundung mereka selama lima bulan dalam setahun. Selama itu, mereka tidak bisa bekerja karena tidak memiliki atap yang kokoh di atas kepalanya. Agar pekerjaan menghasilkan pendapatan itu terus berlanjut, mereka butuh perlindungan dari hujan. Itu sebabnya kami ingin menawari pinjaman untuk pabrik pada mereka. Tentunya, ‘pabrik’ ini akan berfungsi ganda sebagai rumah juga, tetapi yang lebih penting adalah dampak langsungnya pada kemampuan mereka menghasilkan pendapatan karena mereka bisa bekerja lebih nyaman sepanjang tahun.”

Konsultan menolak permohonan kami untuk ketiga kalinya. Saya atur pertemuan pribadi dengan gubernur Bank Sentral guna memintanya mengatasi birokrasi.

“Anda yakin kaum miskin akan membayarnya kembali?” tanya gubernur.

“Ya, mereka akan bayar. Pasti. Tidak seperti orang kaya, orang miskin tidak akan mengambil resiko dengan tidak membayar. Ini satu-satunya peluang yang mereka punya.”

Gubernur Bank Sentral memandangi saya. “Maaf kalau staf kami menyulitkan Anda,” katanya. “Sebagai ujicoba, saya perkenankan Grameen melaksanakan program KPR. Semoga berhasil.”

Sampai kini (tahun 1997), kami telah menyalurkan KPR sejumlah AS$190 juta untuk membangun lebih dari 560.000 rumah dengan cicilan per minggu yang tingkat pengembaliannya hampir 100%. Program KPR yang diselenggarakan bank komersial konvensional tidak bisa membanggakan keberhasilan macam itu. Para peminjam mereka hanya sedikit yang membayar kembali kreditnya dan programnya dihentikan setelah tiga tahun berjalan. Program KPR kami berlanjut dan makin meluas sampai hari ini.

Kedudukan kami juga semakin dikukuhkan ketika program perumahan Grameen dipilih sebagai penerima penghargaan internasional arsitektur Aga Khan Award tahun 1989 oleh dewan juri yang terdiri dari arsitek-arsitek top dunia. Saat upacara penganugerahan di Kairo, arsitek-arsitek ternama ini selalu menanyai saya siapa arsitek yang merancang rumah prototipe kami, rumah sederhana seharga AS$300 (sejak 1989 besaran KPR kami tumbuh menjadi AS$300). Saya jawab tidak ada arsitek profesional yang pernah merancang rumah yang dibangun peminjam kami. Para peminjamlah yang merancang sendiri rumahnya – sebagaimana mereka merancang sendiri nasibnya.

[ dikutip dari buku : Bank Kaum Miskin, karya Professor Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank. Edisi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri. Buku ini sangat inspriratif, saya sangat rekomendasikan untuk koleksi Anda. Alih bahasa oleh Irfan Nasution sangat bagus, sehingga enak dibaca. Saya sendiri beli di Toko Gunung Agung, di Bandung Indah Plaza, Bandung. Kalau Anda ingin tahu bagaimana berbagai kecerdasan SEPIA muncul dalam diri seseorang, contoh nyatanya ada dalam diri Professor Yunus ini – bagaimana dia memberi dasar motivasi spiritual yang kuat untuk menolong orang miskin (kecerdasan spiritual), aspirasi yang jelas misalnya dalam menggagas Grameen Bank (kecerdasan aspirasi), ide-idenya ketika merumuskan metode kredit mikro misalnya dengan pengembalian mingguan, sistem 5 kelompok, dll (kecerdasan intelektual), keuletannya dalam berusaha (kecerdasan emosi), dan kelihaian beliau dalam lobi-lobi tingkat tinggi (kecerdasan power). Professor Yunus mendapatkan Nobel Perdamaian 2006 atas jasanya yang besar dalam mengentaskan kemiskinan selama 30 tahun di berbagai negara, mengungguli banyak kandidat lain termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dari Indonesia. Saya kira memang pantas beliau Professor Yunus yang mendapatkan Nobel Perdamaian.]

Kategori: Bisnis
Ditandai:

Norman Borlaug, pemberi makan dunia

November 10, 2007 · 1 Komentar


BorlaugSiapa manusia yang paling berjasa di abad ke-20? Kita bisa menjawabnya dengan menyebut sederetan pemimpin besar seperti Roosevelt dan Churchill, atau ilmuwan besar seperti Einstein dan industrialis raksasa seperti Henry Ford. Selain nama-nama besar ini, Norman Borlaug patut menjadi favorit.

Akan tetapi, siapa kini yang mengenal Norman Borlaug? Siapa yang tahu bahwa pada tahun 1970 ia mendapat Hadiah Nobel untuk Perdamaian atas jasanya memberi makan kepada jutaan manusia, mencegah kelaparan massal, dan karena itu memungkinkan perdamaian yang lebih abadi? Siapa yang masih ingat bahwa di tahun 1960-an ia mengawali revolusi hijau, sebuah peningkatan produktivitas pertanian yang dahsyat dan mempengaruhi perkembangan banyak negara, termasuk negara kita?

…..

“Saya juga tidak kenal,” demikian batin saya, menjawab pertanyaan Rizal Mallarangeng yang meresensi buku The Man Who Fed The World karya Leon Hesser di Kompas minggu 22 Oktober lalu. Saya tidak kenal siapa Norman Borlaug. Guru-guru saya juga tidak mengenalkannya. Tapi saya kenal karya Norman ini : IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina yang terkenal dengan padi IR36 dan IR64 waktu saya sekolah menengah dulu. Guru-guru saya juga mungkin tidak tahu bahwa ada tokoh yang berjasa besar mengantar swasembada beras Indonesia tahun 1984, walaupun tidak secara langsung. Ya ini orangnya, Norman Borlaug.

Norman lahir 1914 dari keluarga petani miskin di Cresco, Iowa. Di keluarganya, dia adalah generasi pertama yang bisa mencapai pendidikan tinggi dengan masuk University of Minnesota. Suatu kali dia mendengarkan ceramah Prof. EC Stakman, Ketua Jurusan Patologi Tanaman yang mengubah arah hidupnya. Borlaug bertekad untuk menjadi ahli pertanian dan belajar di bawah bimbingan Profesor Stakman.

Setelah menyelesaikan studi doktor, Borlaug menerima tawaran Prof Stakman untuk membantu pengembangan pertanian di Meksiko yang saat itu sedang mengalami krisis pangan. Program ini sepenuhnya dibiayai oleh The Rockefeller Foundation. Selama 20 tahun Norman Bourlag tinggal di Meksiko, melakukan riset dan pengembangan tanaman gandum. Dari hari ke hari, dengan ketekunan luar biasa, ia dan tim yang dipimpinnya menyilang dan mempelajari pertumbuhan ribuan varietas gandum untuk mencari bibit-bibit baru dengan sifat yang lebih tahan hama dan lebih produktif.

Pada intinya, terobosan Norman Borlaug terletak pada beberapa hal. Ia menemukan metode yang lebih efektif untuk melakukan persilangan verietas dalam jumlah yang massal serta menyempurnakan metode ’shuttle-breeding’.

Tak kalah penting adalah temuan bibit gandum dengan batang yang jauh lebih pendek, yang merupakan penyilangan dari bibit berasal dari Jepang, Norin-10. Dengan batang lebih pendek, varietas ini menghasilkan bulir lebih banyak serta lebih tahan terhadap terpaan angin, juga lebih responsif terhadap aplikasi pupuk.

Dengan metode baru dan varietas unggul itulah Norman Borlaug memulai revolusi hijau. Pada akhir 50-an Meksiko sudah terlepas dari ancaman kelaparan dan mencapai tahap swasembada pangan.

Kebetulan pada masa itu juga terjadi krisis pangan di wilayah India dan Pakistan. Suasana dunia pada 1960-an memang agak kelabu. The Population Bomb, buku populer yang ditulis Paul Ehrlich pada periode itu memaparkan bahwa krisis pangan di India hanyalah bagian dari masalah yang lebih besar: dunia tidak mampu lagi menanggung jumlah penduduk dunia yang terus membengkak, sehingga secara alamiah puluhan bahkan ratusan juta jiwa akan terkena seleksi alam (artinya, mati kelaparan). Norman Borlaug tidak larut dalam pesimisme semacam itu.

Bersama MS Swaminathan, salah seorang penasihat Menteri Pertanian India, Norman membuat revolusi hijau di India. Ribuan ton bibit baru dari Meksiko disebarkan secara luas. Selain itu Borlaug juga berhasil membujuk pemerintahan India agar mengubah kebijakan pertanian dengan penyesuaian harga gandum petani, menyebarkan pupuk lebih agresif, serta memperluas jaringan kredit petani.

Dengan semua itu India berhasil melepaskan diri dari jepitan nasib buruk. Pada awal 70-an negeri kedua terpadat di dunia itu berhasil mencapai swasembada pangan. Bahkan India tak pernah lagi krisis pangan walaupun penduduknya meningkat dua kali lipat dari 450 juta menjadi hampir satu milliar jiwa pada periode itu. Pakistan juga mencapai swasembada pangan, lebih dulu daripada India yaitu di tahun 1968.

Setelah berhasil di India dan Pakistan, revolusi hijau merambah ke berbagai negara lain, dan tidak hanya dengan tanaman gandum. Dengan contoh keberhasilan di Meksiko, The Rockefeller Foundagtion dan The Ford Foundation berinisiatif mendirikan IRRI di Los banos Filipina. Itulah lembaga yang turut membantu Indonesia sempat mengeyam swasembada pangan di pertengahan 80-an.

Penduduk dunia sekarang telah melebihi 5 milyar orang. Diperkirakan akan mencapai 10 milyar di tahun 2050. Akankah terjadi revolusi hijau berikutnya? Ataukah sebagian dari kita akan mengalami seleski alam dan terhempas karena kelaparan? Kini, melihat banyaknya sawah yang berubah menjadi lahan pemukiman, paceklik karena kemarau yang panjang, harga gabah yang buruk sekali dan sebaliknya pupuk yang mahal, petani yang terbelit hutang, dan gelombang protes terhadap impor beras Vietnam, rasanya saya ingin sekali figur Norman Borlaug ini hadir kembali di Indonesia.

Seperti disampaikan Rizal Mallarangeng, direktur eksekutif Freedom Institute di Jakarta yang menulis resensi tersebut, Norman Borlaug patut menjadi tokoh favorit abad 20. Saya setuju sekali, dan kini Norman Borlaug menjadi salah satu tokoh inspriratif dalam hidup saya.

Kategori: reality
Ditandai:

Bagaimana mengenali bakat diri?

November 10, 2007 · & Komentar


Setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara.

Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Itu loh, penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran.

Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri?

Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan.

Reaksi spontan

Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya.

Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)?

Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar).

Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian.

Tanda masa kecil

Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu.

Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses.

Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan?

Cepat belajar

Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya.

Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris.

JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth.

Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya.

Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari.

Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda.

Kepuasan

Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah.

Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan berita-berita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer.

Apa saja yang membuat Anda puas?

Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.”

Disarikan dari buku Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham.

Kategori: reality
Ditandai:

Kisah Jatuh cinta lagi dan antinya

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar



Jatuh cinta itu datangnya dari langit, begitu kira-kira kata kebanyakan orang. namun penelitian modern menunjukkan banyak unsur ilmiah dalam jatuh cinta. Misalnya karena pengaruh hormon feromon, atau karena kuatnya pengaruh alam bawah sadar.

Jatuh cinta dimulai dari rasa simpati, kekaguman, juga ketertarikan. Semua itu bisa terjadi karena kita menemukan pada orang lain apa yang kita tidak miliki, atau sebaliknya menemukan apa yang kita miliki. Yang merasa tidak cakep mudah tertarik dengan yang cakep, demikian juga karena merasa cakep jadi merasa harus mendapat pasangan yang cakep. Sebaliknya ada juga yang cakep tapi justru tertarik dengan yang tidak cakep, bisa karena sudah bosan dengan yang cakep-cakep, atau karena sudah biasa dengan hal cakep maka dia menjadi peka dengan keunggulan lain, misalnya tertarik dengan yang tidak cakep tapi pinter banget atau ramah dan baik hati.

Awal cinta memang kompleks. Seringkali seseorang tidak bisa menjelaskan secara pasti mengapa dia jatuh cinta. Saya sendiri punya teori bahwa ketertarikan itu merupakan mekanisme bawah sadar diri kita yang selalu bergiliran antara 3 hal : intelektual, spiritual/emosional, dan fisikal, atau bisa disebut mode atas, tengah, dan bawah. Saat alam bawah sadar kita sedang dominan mode atas, maka kita gampang terkesan dengan orang yang pintar, intelek, cerdas. Teman kuliah saya dulu sangat terkesan dengan Ira Kusno, presenter SCTV yang populer saat itu dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan agresif saat wawancara. Ira Kusno sangat menarik karena cerdas, dan menurut saya sih ya cakep, buktinya layak muncul sebagai presenter TV.

Saat sedang mengalami mode tengah, kita tertarik dengan seseorang yang baik hati, sholeh, santun, juga yang mandiri, tegas, atau optimis. Beberapa teman mengaku memilih istri yang sekarang karena karakter mandiri yang tampak sejak berpacaran dahulu. Itu istri yang sekarang, entah yang nanti (hehe, just a joke).

Nah, kalau sedang dominan mode bawah, tentu saja kecantikan bagi cowok (dan ketampanan bagi cewek) adalah faktor utama pemicu ketertarikan. Definisi cakep memang realtif. Mancung dan pesek bisa sama-sama menarik. Memang sesuatu bisa tampak indah karena dua hal, memang bendanya indah, atau karena komposisinya indah. Jadi ada yang cakep karena dikaruniai wajah yang dipandang unggul yaitu hidung mancung, bulu mata lebar, bibir merekah, kulit putih, dsb-dsb menurut standar film Hollywood. Namun ada juga yang komposisinya indah, biarpun pesek, tapi entah gimana Allah memberi karunia komposisi sedemikian rupa sehingga menjadi cakep. Manapun penyebabnya, apakah barangnya atau komposisinya, yang jelas mode bawah tertarik dengan hal-hal yang fisikal.

Nah, alam bawah sadar kita itu selalu bergiliran antara mode atas, tengah, bawah. Dengan demikian ketertarikan kita juga selalu berubah-ubah. Suatu ketika terkagum-kagum dengan gadis yang bicara dengan cerdas (dan jadi ingin memilikinya), eh minggu berikutnya tergila-gila dengan teman yang manis manja, besoknya tiba-tiba mengidamkan gadis sholihah yang santun dan terjaga. Mana yang benar? Ya semua benar, kan alam bawah sadar kita modenya terus berubah….

Ini hipotesisnya. Kita akhirnya memilih pasangan hidup yang paling sesuai dengan mode alam bawah sadar kita yang sedang dominan saat kita memutuskan diri untuk menikah. Kalau waktu itu lagi sholeh, maka kriteria mode tengah menjadi dominan, dan karenanya karakter menjadi kriteria utama. Kalau waktu itu hormon remaja sedang tinggi sehingga jadi ‘bete’, ya kriteria fisiklah yang dominan. Semua sah-sah saja.

Dan itulah awal dari masalah. Setelah lama berkeluarga, kedua pasangan bisa mulai berubah mode dominan. Atau karena suatu hal menjadikan keunggulan pasangan menjadi tidak menonjol. Misalnya, dulu tertarik karena pacar terlihat sangat pintar dan cerdas, tapi karena kemudian hanya mengurus rumah tangga, maka kepintaran itu tak lagi menonjol, sehingga tiba-tiba pasangan menjadi berkurang ketertarikannya. Yang juga umum adalah ketertarikan pada kecantikan, namun umur memang tak dapat dilawan, kecantikan yang memudar membuat ketertarikan pasangan menjadi berkurang.

Beberapa waktu terakhir banyak sekali berita selebritis yang berpisah. Ini sih biasa. Namun ternyata ada juga beberapa tokoh politik yang juga pisah keluarga. Karena diliput media TV maupun cetak, akhirnya kasus-kasus itu menjadi perbincangan di meja makan. Sudah begitu kebetulan ada juga kasus-kasus serupa yang menimpa tetangga kami, keluarga jauh, juga teman-teman kami.

“Kenapa kira-kira Mas, ya…,” tanya istri saya membuka percakapan.

“Kurang komunikasi kali ya. Biasanya kan karena sama-sama sibuk sehingga jarang bertemu,” jawab saya sambil makan.

“Iya juga ya, mungkin jadi jarang ngobrol…. Seperti keluarga si anu itu kan pulangnya malem terus, ya suami ya istri,” kata istri membenarkan.

“Mungkin juga karena kurang iman,” celetuk saya lagi.

“Wah, apa itu maksudnya,” tanya istri.

“Ya itu, kurang beriman bahwa pasangannya sudah memiliki apa yang dia butuhkan. Bahwa pasangannya sebenarnya sudah oke dan bagus,” jawab saya sambil terus mikir, apakah memang itu penyebabnya.

Kurang beriman? Ya, mungkin itu sumber utama keretakan rumah tangga. Kurang beriman bahwa keharmonisan keluarga sama pentingnya (atau bahkan lebih penting) dengan karir. Kurang beriman bahwa -maaf- kepuasan seksual bukan semata-mata karena hal-hal fisik, namun lebih karena persepsi di pikiran. Kurang beriman bahwa cinta itu bisa dipupuk, dan bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Dan kurang beriman bahwa perceraian itu (kecuali karena alasan akhlak) adalah sesuatu yang dimurkai Tuhan.

“Jadi solusinya adalah zikir,” kata saya beberapa hari kemudian kepada istri saya. “Ternyata komunikasi bukanlah yang menjadi penyebab utama masalah rumah tangga. Masalah utamanya adalah kurang mengingat kebaikan-kebaikan pasangan, dan karena itulah kecintaan berkurang…”

Dalam bahasa agama, mengingat-ingat itu disebut berzikir (dzikir). Kita tahu alam bawah sadar kita itulah yang mendominasi rasa jatuh cinta. Alam bawah sadar ini dominan dalam pengambilan keputusan non-rasional. Alam bawah sadar ini bisa dimanipulasi dengan memasukkan suatu bayangan tertentu secara terus-menerus hingga mengendap kedalamnya. Mengapa kita berzikir sesudah sholat? Itu untuk menumbuhkan kecintaan dan rasa syukur kepada Allah. Apakah Allah perlu dzikir kita itu? Salah! Kita yang memerlukannya agar hati menjadi dekat kepada-Nya, sehingga muncul rasa damai.

Hal yang sama seharusnya berlaku untuk keluarga kita. Kita harus berzikir tentang kebaikan-kebaikan pasangan kita (atau ingat-ingatlah kecantikan dan kecerdasan pacar kita dulu, ya pasangan kita itu). Apakah pasangan kita memerlukan zikir itu? Salah! Kita yang memerlukannya agar terus terjaga rasa cinta didalam hati kita itu. Dengan demikian kepuasan dan kebahagiaan bisa muncul dari dalam diri. Orang yang menganggap bahwa kebahagiaan itu diberikan oleh sesuatu dari luar, pasti akan menemui kekecewaan.

Tiap kali pergi keluar kota lebih dari 1 hari, saya mengalami kangen berat ke keluarga. Aneh memang, kalau sedang jauh begitu saya justru ingat istri terus. Ya seperti itulah ‘zikir pasangan’. Ingat ke pasangan kita, dan bersyukur punya pasangan sebaik dia (kalau merasa pasangan Anda kurang baik, carilah terus hal-hal baik dia, pasti ada. Kalau tidak juga ketemu, berarti Anda memang niat untuk tidak menemukan itu). Tentu saja di sepanjang jalan saya tertarik dengan wanita lain. Ya yang cantik, ya yang pintar, ya yang baik. Saya normal kok, seperti pria lainnya saya tertarik. Namun saya yakin, hal-hal yang indah itu hanya parsial, sebagian saja. Belum tentu kalau kemudian saya bersama wanita-wanita itu semuanya akan lebih indah. Bisa jadi malah lebih buruk. Dan saya sudah beriman dengan senjata antinya : zikir atas kebaikan-kebaikan istri saya.

Kategori: intermezo
Ditandai:

Kisah Kaya, Sukses, atau Cinta?

November 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar


Di sebuah rumah megah di Jakarta tinggal satu keluarga yang terdiri dari satu anak dan kedua orang tuanya. Minggu pagi yang cerah halaman rumah mereka tampak indah dan mempesona. Tiba-tiba datang tiga orang tamu yang mengetuk pintu rumah mereka.

Tak lama setelah ketukan ketiga, pintu terbuka lalu muncul dari dalam sosok perempuan setengah baya sambil berkata, “Silakan masuk, silakan duduk.” Ketiga tamu pun masuk dan memperkenalkan diri satu per satu. Yang pertama bernama “Kaya”, yang kedua bernama “Sukses”, dan yang ketiga bernama “Cinta”.

Salah satu tamu itu berkata, “Silakan pilih salah satu dari kami untuk bisa tinggal di sini, karena apabila satu yang terpilih maka dua dari kami harus keluar dari rumah ini. Kalian bisa pilih Kaya, Sukses atau Cinta. Terserah pilih yang mana, tapi itulah perjanjiannya.”

Terlihat bingung, lalu si ibu itu berkata, “Tunggu, aku akan panggil suamiku untuk minta pendapat kepadanya.”

Tak lama, muncul suaminya dan dia jelaskan kepada suaminya perihal tamunya yang aneh. Suami istri tersebut terlihat bingung untuk menentukan pilihan. Akhirnya si suami bilang, “Kita pilih Kaya saja, kalau kita kaya kan kita bisa beli mobil, tanah, properti, dan banyak uang tentunya. Kita bisa membantu orang yang membutuhkan, kita pilih Kaya saja.”

Istrinya menjawab, “Kenapa kita tidak pilih Sukses? Karena menurut orang bijak, kaya belum tentu sukses, tetapi kalau sukses pasti kaya.”

Lama mereka berdiskusi untuk menentukan pilihan siapa yang akan tinggal bersamanya, sementara ketiga tamunya hanya duduk menunggu dan tersenyum penuh makna.

Dari perdebatan itu, dari tangga atas muncul anak mereka yang baru berusia 9 tahun dan berkata, “Pap, Mam, kenapa tidak pilih Cinta? Banyak orang kaya dan sukses tetapi hidupnya hampa tanpa cinta.”

Kata-katanya pendek tapi mengagetkan kedua orangtuanya. Lalu, kedua orangtuanya berpikir dalam hati, “Yah, kenapa kita tidak pilih Cinta.”

Tamunya berkata, “Sudah tentukan pilihan?.” Si suami akhirnya berkata, “Kami pilih Cinta.”
Namun yang aneh adalah kedua dari tamu itu, yakni si Kaya dan si Sukses, yang tetap saja tidak beranjak pergi. Dalam kebingungan si suami berkata, “Kenapa kalian berdua tetap diam, bukankah perjanjiannya apabila salah satu terpilih maka yang dua harus pergi, kenapa sekarang semuanya tetap di sini?.”

Ketiga tamu itu secara bersama malah makin maju duduknya dan salah satu dari mereka berkata, “Pilihanmu tepat, jika kau pilih Kaya maka Cinta dan Sukses harus keluar, jika kau pilih Sukses maka Kaya dan si Cinta harus keluar. Akan tetapi, jika kau pilih Cinta maka Kaya dan Sukses tidak bisa dipisahkan, karena Kaya dan Sukses adalah bagian dari Cinta. Jalan yang kau pilih sangat tepat, karena sesungguhnya jalan menuju kekayaan dan kesuksesanmu adalah cinta, Tao of Love. Selamat kawan,” ujar ketiganya sambil tersenyum.

Salam sayang penuh cinta buat orang-orang terdekat anda.

Kategori: intermezo
Ditandai: