Salah seorang motivator menulis definisi sukses dalam bukunya sebagai sebuah perjalanan (success is a journey). Perjalanan sukses seseorang akan berarti jika ia melakukan yang terbaik apa pun yang ada dalam pekerjaannya.
Bagaimana jika pengertian sukses tersebut bisa diterapkan dalam berbisnis?. Semoga saja cerita sukses tiga Ibu muda bernama Dinar Esfandiary (34), Rani Silmy (34) dan Ira Karmawan (35) dalam merintis dan menjalankan bisnis patungan mereka bernama Simply Idea (SI) bisa jadi salah satu inspirasi pebisnis.
Awal bisnis tiga ibu muda ini terbilang unik. Perkenalan ketiganya terjadi di lingkungan sekolah taman kanak-kanak. Eit, bukan berarti mereka berasal dari satu sekolahan lho, melainkan putra putri mereka tengah belajar di sekolah yang sama. Ceritanya, mereka yang sehari-hari beraktivitas mengantar dan menunggui putra putri bersekolah ini semakin akrab dengan pertemuan-pertemuan yang terjadi. Merasa cocok, keakraban ketiganya berlanjut dengan keinginan untuk mendirikan sebuah bisnis.
Ide bisnis mereka pada awalnya juga tak jauh dari dunia sehari-hari yang berhubungan dengan anak. Bisnis bedding dipilih, dengan produk seprai, bed cover dan lainnya pelengkap tempat tidur anak. Ciri khas produk yang ditawarkan adalah aplikasi dan bordir berbahan baku katun.
Dengan modal awal Rp5 juta, lika liku perjalanan bisnis pun di mulai. Namun menjalankan bisnis memang tak semulus yang dibayangkan. Sebagai pemula tentunya banyak sekali kekurangan yang dirasakan. Diantaranya mereka belum memiliki sumber daya memadai, seperti mesin jahit, dan juga penjahit yang pas, mereka pun tak kehilangan akal. Kawasan Mayestik ketika itu jadi tujuan mereka mencari tempat jahitan. Tak sengaja, mereka akhirnya bertemu dengan penjahit dan tukang bordir yang tengah mencari pekerjaan. Beruntung, hasil kerja penjahit sesuai dengan yang mereka inginkan.
Tidak mau tanggung-tanggung, ketiganya tak segan mulai memasarkan produk dengan sistem door to door. Target awalnya adalah orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman-teman. Mereka tetap bersemangat jika pun produk belum diminati di satu tempat, produk tetap dijajakan di tempat yang lain. “Kami bawa dua boks, diturunin, lalu menunggu mereka (pelanggan,- Red) memilih produk. Kalau tidak sreg Kami jalan lagi ke teman yang lain. Pokoknya benar-benar penjual keliling,” ujar Dinar. Setelah dievaluasi, ternyata produk SI digemari oleh banyak teman dan kerabat.
Tak puas hanya dengan hasil tersebut, ketiganya semakin tertantang untuk lebih mengembangkan SI. Modal patungan kembali dikumpulkan untuk tujuan tersebut, berjumlah Rp50 juta. Modal tersebut habis digunakan untuk mengisi workshop, membeli mesin jahit dan mesin obras, membeli kain serta merekrut pegawai.
Berjalan dalam hitungan bulan, ketiganya kemudian berambisi menjual produk di departement store. Bukan perkara gampang memang. Tanpa pengetahuan sama sekali untuk memasok produk ke tempat tersebut, mereka pun mencoba mencari tahu ke sebuah departemen store ternama. Dari pertemuan dengan buyer, diketahui masih banyak yang harus dibenahi agar produk SI bisa dipajang di tempat tersebut. Contohnya kemasan, label, dan washing instruction.
Setelah diberi tenggang waktu satu bulan, mereka pun kembali mempresentasikan produknya. Kali ini produk dikemas lebih eksklusif dengan plastik lebih tebal, diberi kancing dan logo brand. Selangkah lebih maju, produk SI akhirnya bisa dijajakan pada masa-masa big sale di departement store tersebut. Jika tiga kali big sale ternyata produk diminati konsumen, baru lah produk diberi tempat untuk dijajakan setiap hari di tempat perbelanjaan tersebut. Itu pun diberi masa percobaan selama satu tahun. Jika mencapai target dilanjutkan, jika tidak, berhenti.
Tapi tentu saja jika hanya mengandalkan penjualan selama masa big sale terlalu banyak waktu terbuang percuma. “Workshop kosong bisa-bisa karyawan tidak gajian,” pikir mereka ketika itu. Akhirnya ketiganya memutuskan untuk mengikuti berbagai bazaar pada masa-masa lowong tersebut. Setahun menjalani berbagai bazaar, ternyata hasilnya memuaskan. SI telah memiliki 2 outlet di dua mall besar di Jakarta, dibantu 6 karyawan.
Survive dengan Kualitas, Inovasi dan Servis
Tiga tahun sudah tiga ibu-ibu muda ini menjalankan bisnis SI. Mereka pun mengakui bisnis tidak selalu berada di atas. “Jatuh bangun juga. Omset naik turun, ada musimnya. Misalnya lebaran dan liburan biasanya tinggi,” ujar Dinar.
Kendati demikian mereka tetap optimistis bisa exist dan memperoleh hasil yang memuaskan. Kunci untuk mencapai keinginan tersebut, menurut mereka ada tiga hal yang harus selalu dijalankan dengan baik. Tiga hal tersebut adalah kualitas, inovasi dan servis.
Saat ini, selain membuat produk beddings, SI juga merambah party goody bags, dekorasi dan perlengkapan lengkap kamar bayi termasuk furniture. Mereka mengaku harus banyak melakukan inovasi mengingat banyak produk lain yang belakangan meniru produk SI. Sementara dalam hal servis, mereka tidak segan-segan untuk mengganti barang yang rusak dari laporan pelanggan meskipun terkadang disebabkan kelalaian pelanggan sendiri. Tau cara lainnya, mengirimkan kartu ucapan dan small gift bagi buah hati pelanggan.
Ketiganya tak hanya sukses dalam bisnis. Meski berbisnis mereka mengaku dapat mencurahkan cukup perhatian mereka kepada keluarga. Dan tampaknya mereka semakin menikmati dunia bisnis yang memberikan kebebasan waktu.
Sekadar diketahui, ketiga ibu muda ini pernah menjalani dunia karier. Dinar memutuskan berhenti setelah menikah. Sementara Rani dan Ira yang berprofesi sebagai dokter gigi memutuskan berhenti ketika mereka melihat anak-anak memerlukan lebih banyak waktu dan perhatiannya. (SH)
Subhanallah hebat sekali perjuangan n idenya,
dari modal 5 juta sampai punya 2 outlet besar.
Saya ingin belajar marketing juga nih, ada contact[email] mereka ndak? maturnuwun
Mas Dimazarno, sampai saat ini Kami belum dikonfirmasi oleh mereka. Insya Allah setelah ada konfirmasi nanti akan kami kirim e-mailnya. Namun jika Mas berkeinginan untuk belajar marketing, alangkah baiknya jika membaca artikel di bawah ini
http://cepiar.wordpress.com/2007/11/19/cara-memulai-berbisnis/
Terima kasih
Ok terimakasih
mas, tolong dishare info alamat email kami dan situs kami ya. Untuk mas Dimaz Arno dan teman yang lain yang mungkin membutuhkan. Kami dapat dihubungi di marketing@simply-idea.com atau dinar_simplyidea@yahoo.com. dan situs kami: http://www.simply-idea.com. Many thanks mas…..
Dinar Esfandiari
kenapa harus menyorot pengusaha sukses? apa tidak ada cerita tentang perjuangan pengusaha yg bangkrut?
atau pengusaha yang kesulitan mencari kredit, misalnya?
kisah ini penuh UTOPIA saja kalau saya lihat…
wow..ok ceritanya, saya publish ya mas…
Kalau menurut sy penting pengusaha sukses diceritakan sebagai inspirasi bagi yg baru atau pengusaha yg gagal agar terus maju..
wah terimakasih! ceritanya membuat saya semangat! iya nieh mau mulai usaha tapi modal yang dipunya masih sangat sedikit…moga bisa cepet dimulai. pengen nyoba usaha bad cover juga ^_^
mereka adalah pejuang!!!
yang sukses tu tidak hanya punya modal yang besar, orang yang sukses adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sungguh – sungguh…
siapa yang tak percaya dengan kekuatan sebuah keyakinan???
Salut deh buat ibu ibu ini
wah wah bisa begitu ya. gak bisa deh gimana susahnya.
See http:// wwwmentaripagi.blogspot.com
wah wah bisa begitu ya. gak bisa deh ngebanyangin gimana susahnya.
See http:// wwwmentaripagi.blogspot.com
syaluuuuut dech
sangat menarik… ibu muda yang kreatif dan tekun… bisa punya penghasilan sendiri dengan tetap bisa mengurus rumah tangga..
suami mana yang ngga mau punya istri seperti ini…
mohon minta pelajaran, pengalaman dan pengajarannya…
InsyaAllah bisa memberi inspirasi bagi saya…
Matur nuwun
hebat banget bu………….
keren, moga2 banyak yang bisa mengikuti kesuksesannya….
keren, moga2 banyak yang bisa mengikuti kesuksesannya
ceritanya sangat sru pingin neru,
masa Allah saya jadi ingat kata ibuk saya kalo kamu pingin berhasil hanya 2 kuncinya
1. Berusaha dengan niat abadah kepada Allah
2. Berdoa kepada tuhan karena yang mengatur rizki seseorang adalah yang di atas
Sangat penting berbagi baik sukses atau gagal sebagai pembelajaran dlm berbisnis…peaceful
wah,ceritanya membuat saya termotivasi.
terus terang saya hampir d0wn memulai usaha saya.
mungkin karena pengalaman yang kurang dan umur yg belum mencukupi.
maklum umur saya baru 19 tahun
ya,,,,baguz”,,,
Wahhh,keren bgt g2 loh.sayuuut!
bagus skali….
Bagaimana si kiatnya kalo dari usaha menengah biar bisa naik dari segi nama pasarannya