Cepiar’s Weblog

Pemilik Pesona Khayangan Depok

November 6, 2007 · & Komentar

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada di atas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya.

Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu.

“Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman, sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil.

Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2.

Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan.

Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi> seperti ini.

“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi.

“Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalaukita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri.

“Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi.

” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”

Kategori: Bisnis
Ditandai: , , ,

Kisah Sukses Yatim-Piatu dari Narumonda

November 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah hidup si yatim-piatu dari Desa Narumonda, Porsea, Sumatera Utara, yang
terkenal sebagai pemimpi (dreamer), cerdas dan sosok pekerja keras, ini
laksana gudang pengalaman atau sumber mata air yang tak kunjung kering bagi
siapa pun yang memandang pengalaman adalah guru yang terbaik. Dia rendah
hati, jujur, tekun dan cerdas. Dia menapaki kehidupan langkah demi langkah,
melintasi berbagai tantangan dan meraih berbagai keberhasilan. Sehingga
menjadi seorang ekonom ternama dan top eksekutif keuangan berskala dunia.
Profesor doktor ini lahir 12 September 1941 di Desa Dairibagasan, Negeri
Narumonda, Kecamatan Porsea, Tapanuli Utara (sekarang Toba Nauli), sekitar
223 kilometer arah selatan Kota Medan, Sumatera Utara. Walau lahir di sebuah
desa atau kecamatan yang tak akan pernah diketemukan dalam peta karena
keterpencilan dan kalah populer dari dua kota yang mengapitnya Balige dan
Parapat, namun, kepiawaian dan popularitasnya di kalangan para profesional
top eksekutif keuangan dunia pernah menjadi pembicaraan hangat yang sangat
fenomenal.
Menurut ceritera neneknya, pada saat dia lahir, kedua orangtuanya (ayah
Manail Darius Manullang dan ibu Manonga Renia boru Marpaung) sempat bingung,
sebab disangka dia lahir tanpa nafas. Sang Bayi lahir dalam keadaan
terbungkus oleh plasenta, nampak seperti berada dalam karung plastik. Dalam
bahasa Batak disebut Baluton, yang dipercaya sebagai pertanda si bayi
memiliki suatu keistimewaan.
Untung dukun beranak yang menolong ibunya cepat-cepat menyobek plasenta
tersebut. Kemudian memotong ari-arinya dan menepuk-nepuk, sehingga kemudian
si bayi menangis. Kedua orang tuanya merasa lega, karena si bayi yang
kemudian diberi nama Timbul rupanya masih ada nafas. Berselang beberapa
waktu, Timbul kecil diberi nama baptis Laurencius Adolf.
Dia cepat bertumbuh. Namun tatkala berumur jalan enam tahun bertepatan
kelahiran adik satu-satunya, ayahnya Manail Darius Manullang meninggal dunia
pada usia 27 tahun pada tahun 1947. Setahun berikutnya (1948), Timbul
memasuki pendidikan Sekolah Rakyat VI Pardamean. Dia dan ibunya sudah mulai
melampaui masa-masa paling sedih dan sulit sepeninggal ayahandanya.
Namun, tiba-tiba tampaknya malang tak dapat ditolak, dia ditimpa musibah
yang lebih pahit lagi. Dua tahun sepeninggal Sang Ayah, Ibunda tercinta juga
meninggal pada saat usia 27 tahun pada tahun 1949. Dunia terasa gelap. Dia
yang masih di bawah usia delapan tahun dan adiknya yang baru berusia tiga
tahun telah menjadi yatim-piatu.
Untunglah dia masih punya nenek, Martalena boru Marpaung yang telah menjanda
31 tahun. Dia dan adiknya dirawat, diasuh, dibimbing dan dibesarkan oleh
nenek tercinta sejak tahun 1949.
Sejak itu, Timbul menjadi pemurung dan pemimpi (dreamer). Syukur, musibah
yang berat itu tidak sampai menghalanginya menimba ilmu, ternyata selama SR,
Timbul tidak pernah tinggal kelas dan dapat menyelesaikan SR tersebut pada
tahun 1954.
Semangat hidupnya bangkit terutama berkat pengasuhan neneknya yang penuh
kasih sayang. Hidup dalam pengasuhan nenek dirasakan Laurence dan adiknya
justru sangat nikmat dan membahagiakan. Terlebih dalam lingkungan kultur
suku Batak yang menggariskan posisi kakek/nenek (ompung) dengan cucu adalah
setara dan sejajar. Cucu adalah personifikasi ompung. Jika seorang ayah
seringkali mendidik anak supaya taat dengan cara keras, mencubit hingga
memukul dengan sapu lidi, maka seorang ompung tak akan pernah tega dan mau
melakukannya satu kali pun.
Selain ompung, tulang (paman) atau keluarga laki-laki dari ibu dan nenek
yaitu Marpaung turut pula membesarkan Laurence dan adiknya dengan telaten.
Itu sebabnya Laurence sangat menunjukkan rasa hormat dan respek kepada
setiap marga tulang-nya Marpaung.
Manusia Cerdas
Ketiadaan ayah dan ibu kandung tidak menghalangi keinginan Laurence mengisi
hari-harinya tumbuh dan berkembang menjadi remaja Batak yang terhormat dan
dibanggakan. Gejala yang timbul padanya hanyalah kecenderungan bersikap
pemurung dan menjadi pemimpi (dreamer). Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) VI di
Pardamean berhasil dia selesaikan antara tahun 1948-1954.
Setamat SR, Timbul melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Narumonda suatu
sekolah yang paling favorite di Tapanuli Utara bahkan di Sumatera Utara pada
waktu itu karena lulusannya diterima di SMA mana pun baik di Medan dan
sekitarnya. Dia menyelesaikannya antara tahun 1954-1957.
Namun sikap pemurung tak dapat menyembunyikan kecerdasan Laurence.
Kecerdasannya semenjak menjadi siswa SMP Narumonda terbaca oleh Pendeta
Haas, seorang pendeta berkebangsaan Amerika Serikat. Karena Timbul kelihatan
cerdas namun pemurung, pendeta ini menawarkannya untuk sekolah di SMA Advent
di Pematang Siantar, sebuah sekolah yang menerapkan sistem boarding school
(sekolah berasrama).
Sekolah yang dahulu bernama North Sumatera Training School Pematang Siantar,
ini dipimpin oleh R.A. Fighur. Selama tinggal di Narumonda, Laurence dikenal
dengan nama baptis Laurencius Adolf Manullang. Malah sebelum dibaptis, dia
sering dipanggil dengan nama Timbul, nama yang diberi ayahandanya sebagai
pertanda proses kelahirannya yang unik, terlahir dalam keadaan terbungkus
rapi oleh plasenta. Setelah masuk SMA Advent Pematang Siantar, nama Timbul
Laurencius Adolf Manullang diubah oleh Richard Fighur, menjadi Laurence
Adolf Manullang.
Di sekolah itulah dia mendapat perhatian khusus, dilatih kepemimpinan
ekstrakulikuler, bahkan dilatih pidato bahasa Inggris. Kemudian kebiasaan
pemurung itu berkembang menjadi bakat dengan kemampuan membuat puisi dan
prosa yang sangat produktif atas bimbingan gurunya Tulus Mangunsong yang
saat ini telah menjadi warga negara Amerika Serikat bermukim di California.
Mimpi-mimpinya dibiarkan saja terus berkembang bahkan memacunya ingin
keliling dunia bergaul sama rata tanpa dibebani rasa rendah diri atau
inferiority complex dengan warga bangsa lain.
Tiga tahun dalam pembinaan di boarding sekolah tersebut, dia berhasil
menyelesaikan tingkat SMA itu dengan honorable mention. Dari Pematang
Siantar dia melanjut ke Bandung memasuki sebuah kampus Perguruan Tinggi
Advent Bandung, dahulu bernama Indonesia Union College Bandung. Di mana
Laurence langsung dibina oleh Dr. B.A. Aen dan Dr. Percy Paul, Dr. R.H.
Tauran, President dan Dean pada waktu itu yang juga menerapkan sistem
boarding school. Kampus ini berafiliasi dengan Andrews University di
Michigan, AS, dan dengan Philiphine Union College, Manila. Dr. Charles
Martin pimpinan Pemuda Advent se-Timur Jauh mempunyai andil dalam
pertumbuhan watak, intelektualitas Laurence.
President Student
Laurence muda yang senang pelajaran angka-angka memilih jalur minat akuntan.
Pelajaran accounting di kampus Indonesia Union Colege itu disamakan dengan
standar yang ada di Amerika. Yakni, setiap tingkat harus mengikuti ujian
yang disebut project set yang untuk menyelesaikannya dibutuhkan waktu
minimal tiga hari.
Project set diujikan sama kualitasnya dengan standar ujian meraih CPA
(Certified Public Accountant) di Amerika, yang sesungguhnya tergolong tidak
mudah. Namun, Laurence selalu saja senang menempuh pendidikan yang ketat
demikian sebab terbukti dia kerapkali memperoleh nilai ujian dengan pujian.
Walau kampus menerapkan sistem belajar yang sangat intensif dan asrama yang
ketat, juga sistem pendidikan Advent dibangun pada filosofi: True education
is the Harmonious development of physical, mental and spiritual, producing
the men of principles, who can not be bought and sold even through heaven
falls into the earth, he or she will stick to the principle like the needle
to the pole, masih saja terbuka kesempatan kepada setiap mahasiswa
mengembangkan bakat kepemimpinan melalui pelajaran ekstrakurikuler. Laurence
termasuk mahasiswa yang dapat memetik prasarana itu dengan baik, dengan
terpilihnya dia menjadi President Student Association yang dapat disamakan
dengan Ketua Dewan Mahasiswa.
Pada saat kepemimpinannya, Laurence ingin lebih mengembangkan hubungan antar
perguruan tinggi di Indonesia, mengubah kultur Perguruan Tinggi Advent itu
yang selama bertahun-tahun selalu berkiblat ke Amerika.
Laurence berhasil menjalin hubungan dengan Universitas Padjajaran (UNPAD)
dan mengundang pimpinan UNPAD berkunjung ke kampus Indonesia Union Colege
itu yang terletak di kaki gunung Burangrang. Undangan itu bersambut dengan
baik, sebab suatu saat mahasiswa UNPAD memutuskan mengadakan cross country
ke lokasi sekolah yang langsung dipimpin oleh Rektor UNPAD yaitu Prof. DR.
Sumantri Brodjonegoro dan Pembantu Rektor I Prof. DR. Mustopo.
Laurence pada saat itu sangat populer dan dikagumi banyak mahasiswa/i. Bukan
hanya itu, berita mengenai kepemimpinan dan prestasi akademiknya tersebar ke
beberapa perusahaan seperti Caltex dan Stanvac. Kemudian utusan perusahaan
itu mendatangi sekolah untuk merekrut calon lulusannya bergabung setelah
graduation. Demikian pula Laurence mendapat tawaran yang pertama dari
perusahaan itu bergabung dengan mereka walaupun 5 bulan lagi baru penamatan
(graduation).
Tapi Laurence memilih Indonesia Union Corporation di Bandung, sebab dia
telah menjatuhkan pilihannya terhadap seorang gadis cantik yang kemudian
menjadi istrinya, yang mengabdikan layanan sebagai perawat di Bandung.
Laurence menyelesaikan pendidikan di Indonesia Union College antara tahun
1960-1963 dan berhak meraih gelar Bachelor of Art (BA) bidang Accounting.
Dalam kehidupan sehari-harinya, telah berkembang pendekatan demokratis dan
terbuka (transparant) serta langsung (to the point). Di mana sikap ini
sebagian mewujudkan happy ending tetapi sering juga merugikannya.
Sebagai good news, pernah dia mengundang teman dekatnya, seorang gadis
cantik, pada 1 Mei ke Dago Atas. Pada saat itu cuma berdua duduk di bawah
pohon bambu tidak jauh dari air terjun yang memperindah kenyamanan suasana
pada waktu itu.
Tanpa basa-basi, Laurence langsung menanyakan teman dekatnya untuk
meningkatkan hubungan dari dekat menjadi istimewa sampai ke perkawinan.
Teman dekatnya diam, lama tidak bisa bicara. Setelah didesak memberikan
jawaban pada saat itu, teman dekatnya menjawab, ya. Namun beberapa hari
kemudian, gadis teman dekatnya itu tidak mau menerima kedatangannya. Baru 11
hari kemudian, yaitu pada tanggal 12 Mei teman dekatnya mau menerima
kunjungannya.
Ketika ditanya, kenapa koq tidak mau menerima kunjungan padahal sudah
diiyakan meningkatkan hubungan. Gadis cantik itu menyatakan: “Saya bilang
ya, karena takut. Kalau bilang tidak, bisa-bisa dicemplungkan ke air terjun
Curug Dago Atas tersebut, dan saya memerlukan 11 hari untuk merenungkannya.”
Maka, pada tanggal 12 Mei itu, Laurence menanyakan lagi, apakah sudah
merenungkan tanpa ketakutan. Temannya menyatakan: “Ya, memang kasih sayangmu
murni.”
Nama gadis itu adalah Beffie Lanny Batubara kelahiran Bungabonder, Tapanuli
Selatan. Kemudian dia bersama Beffie Lanny Batubara ini sungguh-sungguh
dipersatukan Tuhan sebagai suami istri. Mereka menikah tahun 1964 saat usia
Laurence masih terbilang muda 23 tahun, dan usia Beffie Lanny br. Batubara
22 tahun. Satu tahun kemudian mereka sudah dikaruniai anak.
Keluarga ini pun hidup bahagia dengan dikaruniai Tuhan lima orang anak yaitu
Leonora Manullang, SE, MM, MBA, Associate Manager Korn Ferry Indonesia,
Leonard Manullang, SE, MM/MBA pada saat ini sedang mengambil program Doktor
di UPI/YAI, Agusdjaja Satrianegara, SE, MM, berada di California, Rizal
Ruben, SE, MM dan istrinya Rina Idroes Chaniago, SE, berada di Pangkal
Pinang, dan Yolanda Puspasari, SE, sedang berada di California.
Di samping itu mereka telah mendapat 3 orang cucu perempuan yang
manis-manis, yaitu Pamela Abigail Laurent, Brigitta Laurencia Geovana,
Patricia Desire Lorenza.
Seiring dengan kesuksesan dalam keluarga, Laurence juga sukses dalam
pendidikan lanjutan dan karir di perusahaan maupun di organisasi proffesi
dan lembaga pendidikan.
Sementara, kerugian yang dialami akibat keterbukaannya yang to the point
itu, antara lain sangat banyak idenya ditilep orang lain, juga orang sering
salah sangka karena pikirannya diutarakan secara terbuka dan cepat.
Karir dan Pendidikan
Pertama kali bekerja sebagai Chief Accountant di Indonesian Union
Corporation Inc. di Bandung. Satu tahun kemudian dia dipromosikan menjadi
Internal Auditor hingga tahun 1966. Pada tahun 1967 Laurence mendapat
kesempatan menjadi Secretary/Treasurer berkedudukan di Medan, kantor cabang
Indonesian Union Corporation Sumatera Utara.
Kesempatan “pulang kampung” dimanfaatkannya memperdalam ilmu pengetahuan.
Pada tahun 1968 dia mendaftarkan diri mengikuti kuliah di dua kampus
sekaligus, yakni di Fakultas Keguruan dan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Medan,
serta di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara
(USU), Medan.
Dia lebih dahulu meraih gelar sarjana dari IKIP Medan di tahun 1970. Di
lembaga ini, Laurence berkesempatan menyelesaikan pendidikan lebih cepat
sebab IKIP Medan sedang memperoleh bantuan dari pemerintah pusat sebagai
proyek percontohan penerapan sistem absensi ketat. Di mana, dipersyaratkan
tingkat kehadiran kuliah mahasiswa minimal 80 persen baru diijinkan ikut
ujian.
Lulus dari IKIP Medan tahun 1970, Laurence mengundurkan diri dari Indonesian
Union Corporation Cabang Sumatera Utara. Demikian pula, dia tidak
melanjutkan studi akuntansi di USU Medan yang sudah memberinya gelar
setingkat sarjana muda akuntansi. Dia bersama keluarga hijrah ke Jakarta.
Di Jakarta, Laurence diterima bekerja sebagai Procurement Analyst di USAID,
di Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat. Setahun saja di USAID, pada tahun
1971 Laurence pindah ke sebuah kantor akuntan perusahaan multinasional
Arthur Young sebagai Auditor. Dan setahun kemudian, di tahun 1972 dia pindah
lagi ke sebuah perusahaan orientasi ekspor yakni ICI sebagai Accountant.
Pada pertengahan tahun 1972, Laurence kembali harus pindah, kali ini masuk
ke PT Richardson-Merrell Indonesia sebuah perusahaan multinasional yang
sekarang bernama Proctor & Gamble Indonesia (P&G).
Di sini awalnya dia ditempatkan sebagai Accounting Manager. Setelah
menjalani beberapa kali training di luar negeri seperti Manila, Kuala Lumpur
dan Bangkok, pada tahun 1974 Laurence dipromosikan menjadi Finance
Controller.
Sebagai perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) P & G dikenal
sangat baik menaikkan value perusahaan dengan cara meningkatkan value para
karyawan. Perusahaan menjalankan program International Executive Development
Plan. Setelah pembekalan manajerial yang matang, dan juga menempati posisi
strategis yang kredibel, maka Laurence dipromosikan menjadi Financial
Director.
Untuk sampai ke jajaran elit direksi tersebut, Laurence aktif dan kenyang
mengikuti pengembangan karir sebagai eksekutif inti, antara lain di bidang
financial accounting, cost accounting, budget and control, controllership,
financial management and philosophy, management by objective, financial
planning, business strategy and planning hingga management for international
currency exposures.
Pendidikan dan pelatihan itu bisa berlangsung di kantor pusat perusahaan di
New York, maupun di lokasi-lokasi representatif lain seperti di Honolulu,
Tokyo, Dominican, Mexico, Rie de Jeneiro (Brazilia) yakni lokasi
cabang-cabang perusahaan yang menunjukkan pula makna lain yaitu performance
yang outstanding.
Ketika menjabat Direktur Keuangan berbekal kemampuan manajerial yang matang,
menempati posisi strategis yang matang, kepada Laurence diserahi tugas
mendaftarkan perusahaan PT Richardson-Merrell Indonesia sebagai perusahaan
publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ), pada tahun 1976. Perusahaan ini kemudian
tercatat sebagai perusahaan kelima yang menjual saham secara terbuka kepada
publik di BEJ.
Tak kurang delapan tahun Laurence mengabdi di PT Richardson-Merrell
Indonesia, sejak tahun 1972-1980. Laurence kemudian pindah kerja di Widjojo
Group sebagai Group Financial Director (1981-1982). Lalu menjadi Group Vice
President Finance (1982-1984) pada kelompok perusahaan Wirontono. Dan pada
tahun 1985-1989 dia menjabat President Director pada PT Artha Borindo
Persada.
Raih 3 Gelar Doktor
Laurence tidak pernah berhenti belajar dari self study, workshop dan
seminar. Di antara teman-teman sejawatnya, dialah yang paling banyak
mendapat kesempatan mengadakan perjalanan ke luar negeri. Mengikuti
International Conference yang diselenggarakan oleh perusahaannya. Dia
minimal menghadiri 2 kali conference jarak jauh di mana tempatnya paling
sering dilaksanakan di Honolulu atau New York, dan minimal 2 kali menghadiri
rapat jarak dekat seperti Bangkok, Manila, Kuala Lumpur.
Dia bukan hanya berkesempatan melanglangbuana mengikuti berbagai konferensi
internasional yang diselenggarakan oleh internal perusahaan. Di luar
perusahaan kesempatan sangat terbuka luas. Sebab Laurence aktif pula sebagai
salah satu pimpinan organisasi Institut Eksekutif Keuangan Indonesia, atau
Indonesian Financial Executive Institute (IFEI) yang berafiliasi ke
International Association of Financial Executive Institutes (IAFEI). Antara
tahun 1975-1980 di organisasi IFEI tingkat Indonesia ini Laurence aktif
sebagai Executive Secretary, Vice President dan terakhir sebagai President.
Demikian pula di organisasi tingkat internasional IAFEI, Laurence memegang
beragam jabatan penting dan strategis sejak tahun 1977-1984. Di organisasi
profesi eksekutif keuangan dunia ini minimal dua kali dalam setahun, dia
harus menghadiri pertemuan tahunan yakni Board of Governors Meeting dan
World Congress.
Kenyang dan kaya akan pengalaman serta bergaul luas dengan kalangan pelaku
bisnis dan keuangan baik dalam dan luar negeri, mendorong tekad Laurence
mencarikan pengakuannya dari dunia akademis. Berbeda dengan di dalam negeri,
di luar negeri kekayaan akan pengalaman bekerja dan berperan dalam berbagai
kongres dan seminar dapat diajukan untuk diakui sebagai ilmu dan diberi
gelar akademis.
Maka dia meraih dua gelar doktor dari luar negeri bermodalkan kekayaan
pengetahuannya bekerja sebagai profesional Top Eksekutif Keuangan Dunia. Di
tahun 1986, dia sudah memperoleh gelar Doctor Humane Letters dari perguruan
tinggi OTTAWA University, di negara bagian Kansas, Amerika Serikat.
Gelar doktor kedua, dia raih tahun 1989 dari Pittsburg State University,
Kansas, AS, kali ini namanya Doctor of Accounting. Kedua gelar doktor ini
dirah antara lain berkat keaktifannya mengikuti berbagai konferensi
internasional eksekutif keuangan di berbagai negara.
Dia rajin menghubungi berbagi universitas baik negeri maupun swasta di
Amerika Serikat. Tujuannya untuk menguji apakah kekayaan pengetahuan yang
dimiliki dapat diakui secara akademis. Laurence ingin memperoleh pengakuan
akademis atas berbagai intensive management workshop yang diikuti. Selama 7
tahun secara akumulatif, Laurence melakukan seperti itu.
Pada akhirnya, dia menghubungi Pittsburg State University sebuah perguruan
tinggi di negara bagian Kansas. Di universitas ini, dia diuji
pengetahuannya dan dapat diakui sederajat dengan tingkat doctoral. Di sini,
dia diwajibkan menyusun 2 ( dua) tulisan hasil penelitian yang disebut
doctor project.
Lalu pada tanggal 23 Mei 1989, Pittsburg State University menerbitkan diktum
Certificate #KPSU11HD yang menerangkan Degree Type: Eligible for Doctoral
Degree in Accounting. Diterbitkanlah ijasah Doctor of Accounting oleh
Perguruan Tinggi Negeri yang paling bergengsi di negara bagian Kansas itu,
setelah semua kewajiban itu dia penuhi dengan seksama.
Di negara bagian Kansas, AS, Laurence berhak menyandang gelar doktor bidang
akunting itu. Namun ketika dibawa ke Indonesia, ijazah dan gelar demikian
tidak diakui dan tidak dilegalisasi oleh Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti),
Departemen Pendidikan Nasional. Alasannya sederhana, Ditjen Dikti belum
memiliki sistem untuk mengevaluasi orang-orang yang outstanding dan proses
mencapai gelar itu di luar proses konvensional. Bagi Laurence, hal itu tidak
menjadi masalah. Sebab yang terpenting baginya adalah ilmu itu dapat
diaplikasikan secara empiris.
Namun uniknya bersamaan dengan penolakan legalisasi itu, Laurence
berkali-kali dihubungi lewat telepon oleh orang tak bertanggungjawab yang
meminta uang legalisasi doktor, yang angkanya mencapai ratusan juta rupiah.
“Saya yang mempunyai ilmu, kok dipersulit? Jika dengan uang seratus juta,
saya sudah bisa membuat tiga ruangan belajar mahasiswa lengkap dengan
fasilitasnya. Padahal saya tidak mencari kekayaan di sini tetapi untuk
mengabdi,” jelas Laurence datar saja.
Namun, semua atribut yang dapat dari AS itu, dia kelompokkan sebagai faktor
penunjang pada saat memohon kepangkatan akademik dari Dikti. Berbeda dengan
di Indonesia, untuk mendirikan perguruan tinggi di AS tidak diperlukan ijin
dari Pemerintah. Penyelenggara cukup melaporkan ke kantor Walikota atau
County dan bilamana ingin diakreditasi baru meminta salah satu Regional
Association of Colleges & Universities mengaudit. Demikian juga kepangkatan
akademik dari dosen diserahkan ke perguruan tinggi sepenuhnya. Berbeda
dengan di Indonesia, semua harus ada ijin dan persetujuan Dikti.
Belajar dari pengalaman pahit itu, Laurence semakin membulatkan tekad
memperoleh pengakuan akademis atas pengetahuan yang dimiliki dari perguruan
tinggi resmi di dalam negeri. Di tengah kesibukannya yang amat padat, pada
tahun 1993 dia melanjutkan kuliah lagi di STIE IBEK Pasca Sarjana dan
selesai S-2 gelar Magister Manajemen (MM) konsentrasi Manajemen Keuangan,
lulus dengan predikat summ cum laude tahun 1996. Ia kuliah bersama pimpinan
dan dosen STIE IBEK lainnya karena diharuskan mengikuti kuliah sebagai
program peningkatan SDM di Perguruan Tinggi itu, dimana Dirjen Dikti dan
Kopertis III memuji tindakan itu sebagai suatu action untuk berpacu dalam
berkompetisi.
Puncak pencapaian akademis S-3 dengan gelar Doktor Ekonomi minat jalur utama
Manajemen Akuntansi berhasil pula diraih dari Universitas Persada Indonesia
(UPI) YAI Jakarta, dalam sebuah sidang terbuka pada 12 Mei 2004 dengan
judicium sangat memuaskan. Dia memulai program S-3 sejak tahun 2001. Ini
adalah gelar doktor ketiga yang diraih.
Selain itu, pada tahun 1985, dia mengikuti penataran P4 di BP7. Sangat
tertarik pada sistem pengajaran tersebut, dia lulus 10 besar dan terpilih
mengikuti Manggala Nasional di Istana Bogor tahun 1986. Di samping penatar
nasional, dia juga mendirikan kantor konsultan untuk memberikan jasa pada
perusahaan yang ingin go public, perpajakan dan financial consultant
beberapa perusahaan, sehingga mempunyai waktu untuk meneruskan perkuliahan
kembali.
Konfrensi dan Seminar
Sebagai seorang top eksekutif keuangan, Laurence telah memimpin lebih 75
seminar dalam pelbagai segmen dari MBO, IMF and World Bank Roles in
Developing Countries, Taxation, Capital Market dan Investment Opportunities.
Juga telah menghadiri paling sedikit 10 pertemuan internasional dimulai dari
World Congress International Association of Financial Executive Institutes
di Dublin Irlandia (1977), Buiness Airies (1978) di mana Laurence berkenan
menjadi salah satu key note speaker on: ” How Indonesia Curbs Inflation
Pressure from 650% to 10% .”
Kemudian di Atlanta (1979) juga sebagai panelis dan dipilih sebagai Ketua
IAFEI untuk ASEAN. Sydney (1980) dimana dalam kongres ini Laurence terpilih
sebagai Vice President Asosiasi Eksekutif Keuangan paling bergengsi itu.
Lalu di Mexico (1981) dia memimpin delegasi Asia Pasifik ke Kongres dunia
ini. Tahun berikutnya di Madrid (1982) memimpin delegasi Asia Pasifik dan
berhasil memasukkan Ketua BKPM, Ir. Suhartojo sebagai keynote speaker on:
Investment Opportunities in Indonesia.
Pada tahun 1983, Laurence berhasil memimpin World Congress of IAFEI di
Jakarta yang dihadiri oleh 385 executives dari 6 benua dan menghadirkan
Henry Kissinger sebagai keynote speaker on: Economic Recovery in The
Turbelent World, dan pembicara lainnya seperti, William Miller Menteri
Keuangan AS, Paul McKraken, Ketua Security Council AS, Presiden Meryll
Lynch, Chairman Honda, dan Presiden Citibank, di samping Menkeu Indonesia,
Ketua BKPM, Menteri/Ketua Bappenas. Kongres itu dibuka oleh Wakil Presiden
RI, Umar Wirahadikusumah.
Di samping itu dalam kongres oleh FIDIC, Asosiasi Konsultan Internasional,
dia menjadi delegasi di Istanbul (1996), Edinburg (Scotlandia) 1997.
Kemudian menjadi anggota delegasi Menteri Pekerjaan Umum melakukan studi
banding ke Beijing 1990, dan delegasi Indonesia pada Asian Dr. Accounting
Consortium di Seoul (2002).
Sebagai lulusan KRA XXIII Lemhannas (1990), dia dikirim ke Clark dan Cubic
bases, Pangkalan Militer AS di Philiphina dan menjadi tamu dari Fidel Ramos
Menteri Pertahanan Phillippines, sebelum dikukuhkan menjadi Presiden
Phillippines. Juga ke Timor Timur untuk mengadakan penelitian Lingstra
setempat. Laurence mengusulkan kepada pimpinan Lemhannas, agar pada masa
mendatang lebih banyak partisipan diundang dari Departemen Pendidikan dan
Pimpinan Perguruan Tinggi.
Dia juga memperbanyak taskapnya dengan judul “Perguruan Tinggi di Indonesia,
masalah dan penanggulang-annya.” Taskap itu diperbanyak serta dikirimkan
kepada Departemen Pendidikan mulai dari Menteri, Dirjen sampai ke tingkat
Kopertis. Namun, hasil yang dia peroleh bukan ucapan terima kasih tetapi
cemoohan karena dianggap menggurui. Ini adalah salah satu kerugian karena
keterbukaan dan niat ikhlas memberikan masukan malah dicemoohkan. Masukannya
diterima tetapi orangnya dipertanyakan.
Laurence Manullang adalah Pendiri Yayasan Institut Bisnis Ekonomi dan
Keuangan (Yayasan IBEK). Sejak didirikan pada tahun 1971, dia memimpin
yayasan ini hingga tahun 1996. Kemudian, Yayasan IBEK resmi mendirikan
sebuah lembaga pendidikan tinggi bernama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBEK
(STIE-IBEK) pada tahun 1987, dan Laurence menjadi Ketua STIE-IBEK sejak
berdiri hingga 1993 dan disambung lagi dari 1996 hingga 2003, dan sejak
tahun 2003, STIE-IBEK dipimpin oleh Dr. Gison, dan tahun 2004 ini nanti akan
dipercayakan kepada Dr (cand) Leonard S. Manullang karena Dr. Gison
ditugaskan sebagai Ketua STIE IBEK Pangkal Pinang. STIE-IBEK mengkhususkan
diri dalam jalur minat manajemen dan akuntansi dengan menawarkan program
sarjana S-1 dan S-2. Laurence duduk sebagai Ketua Yayasan.
Disertasi Terlengkap
Disertasi tingkat doktoralnya di Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI
Jakarta, berjudul “Analisis Efisiensi Pasar Modal Menggunakan Pendekatan
Multiple Events Sosial, Politik, dan Ekonomi” merupakan suatu penelitian
event studies yang terlengkap yang pernah dilakukan oleh para peneliti di
Indonesia/dunia. Disertasi ini meneliti pengaruh 51 kejadian sosial,
politik, dan ekonomi di dalam dan luar negeri terhadap fluktuasi harga saham
di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sepanjang tujuh tahun 1996-2003.
Penelitian ini menggandengkan disiplin ilmu akuntansi, ekonomi, manajemen,
dan statistik secara integratif sesuatu yang sesungguhnya tidaklah enteng
karenanya hasilnya menjadi sangat mengagumkan. Seperti dikatakan oleh Prof.
Dr. Sofyan Syafri Harahap, M.Sc.Acc, “Disertasi Anda ini kelak akan
mendunia.” Demikian pula pujian datang dari Dr. Jogiyanto Hartono, MBA, Akt,
“Akan banyak peneliti di masa mendatang menjadikannya sebagai referensi.”
Karya Jogiyanto Hartono mengembangkan ISMD 2.0 PPA-UGM, sangat membantu
Laurence mengembangkan ISMD2.0PPA-UGM sehingga penelitian yang semestinya
secara konvensional harus memakan waktu 15 tahun, namun karena kedermawanan
Jogiyanto tadi menjadi bisa diselesaikan hanya dua tahun saja. Demikian pula
Sofyan Syafri Harahap yang mempunyai daya ingat tajam serta perfeksionis,
ikut bekerja keras membantu Laurence melengkapi materi teoritis dan teknis
penulisan sebagai Co-Promotor kendati Laurence nyaris sempat frustasi sebab
begitu banyaknya koreksi dan perbaikan.
“Karena sibuknya dalam pendidikan dan karir sampai bakat menggubah puisi
atau sanjak terpendam hampir terlupakan,” kata Laurence Manullang, bangga
menyelesaikan disertasi sekaligus membuatnya ingat kembali akan hobi masa
remaja di Siantar, yakni sewaktu masih menjadi dreamer serta penulis puisi
dan prosa yang produktif.
Disertasi Laurence Manullang dalam catatan ilmu pengetahuan Indonesia
menjadi suatu penelitian event studies yang terlengkap yang pernah dilakukan
oleh para peneliti dengan jumlah 390 halaman untuk materi ditambah 1394
halaman lampiran. Padahal, meneliti satu event saja sesungguhnya sudah cukup
sebagai prasyarat disertasi doktor. Namun Laurence bertujuan menyelesaikan
doktor dengan mengutamakan adanya sumbangan temuan baru untuk menambah
khasanah ilmu pengetahuan.
“Bukan semata-mata untuk meraih gelar doktor, sebab sebelumnya saya sudah
mengantongi dua ijazah doktor,” kata Laurence Manullang kali ini dengan
kalem penuh arti.
Itulah sepenggal kisah hidup sang yatim-piatu yang sukses dan karena
kesibukannya dalam pendi-dikan dan karir sampai bakat meng-gubah puisi dan
sanjak terpendam hampir terlupakan. e-ti => Lanjut

Kategori: intermezo
Ditandai: ,

William Soerjadjaja Andalkan Resep Saling Memberi

November 6, 2007 · 1 Komentar

Tanggal 15 Januari merupakan tanggal bersejarah untuk pasangan William Soeryadjaya dan Lily Anwar. Pasangan taipan yang menikah di Bandung tahun 1947 itu merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-60. Kepada Pembaruan, mereka membagi nostalgia cinta di masa silam.

William adalah anak kedua dari enam bersaudara. Namun dalam keluarga, dia anak laki-laki tertua. Ketika masih kecil, dia sudah menjadi yatim piatu. Itulah sebabnya Wiliam alias Tjia Kian Liong tumbuh menjadi pria dewasa dan mandiri.

Saat masih sekolah di HCZS, sekolah dasar pada masa penjajahan Belanda, di Kadipaten, William kecil sempat tak naik kelas. Berkat ketekunan, dia dapat melanjutkan pendidikan ke MULO, sekolah tingkat lanjutan pertama, di Cirebon. Namun lagi-lagi, William tinggal kelas. Dari seluruh pelajaran, dia lebih menyukai ekonomi dan tata buku. Kelak, dua pelajaran itulah menunjukkan bakatnya membangun usaha.

Bulan Oktober 1934, ayahnya dipanggil menghadap Yang Kuasa. Awan duka belum hilang ketika ibu tercinta menyusul kepergian almarhum ayahnya pada Desember 1934. Sebagai anak laki-laki tertua, William melanjutkan usaha mendiang ayah berjualan hasil bumi. Bakat berdagang sang ayah rupanya menurun kuat pada William.

Beberapa tahun kemudian, William pindah ke Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itulah, pria kelahiran Majalengka, 20 Desember 1922 ini, menemukan jodohnya. Seorang gadis Tionghoa bernama Lily Anwar memikat hatinya. Kelak, gadis itulah yang menjadi pasangan hidupnya hingga kini di usia 85 tahun.

“Kami bertemu di Bandung sekitar tahun 1943. Waktu itu, Lily adalah anggota Chinese Red Cross yang diketuai Om Dollar, ayah mertua dari Rudi Hartono (pebulutangkis, Red),” ia mengenang.

Ketika bertemu Lily seolah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Berikutnya, mereka kerap bertemu saat kegiatan Chinese Red Cross berlangsung. Setelah menjalin hubungan selama beberapa tahun, mereka memutuskan untuk serius. Pada usia 24 tahun, William menikahi Lily yang ketika itu hanya terpaut usia satu tahun. Sekalipun keamanan sedang tidak kondusif, William nekat menikahi sang kekasih.

“Begitu kami bertemu dan bertatap pandang, kami pun sama-sama jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Gadis itu lincah, cantik, dan menarik. Menurut cerita teman, dia banyak yang naksir,” katanya.

Nikah Tanpa Tamu
Tampaknya Lily memang telah mencuri hati William. Di masa muda, Lily memang gadis supel yang pandai bergaul. Terus terang, William terpikat karena Lily cantik dan menarik. Pada 15 Januari 1947, mereka menikah secara sangat sederhana. Bahkan, William tidak melakukan proses lamaran.

“Kami ke kantor catatan sipil naik becak. Kami menikah tanpa dihadiri tamu undangan. Kami pun hanya mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya kami tidak punya potret pernikahan. Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi,” ia menambahkan.

Dari pernikahan itu, pasangan William dan Lily dikaruniai empat anak yakni Edward (21 Mei 1948), Edwin (17 Juli 1942), Joyce (14 Agustus 1950), dan Judith (14 Februari 1952). Kini, mereka sudah memiliki 10 cucu dan satu cicit. Dalam waktu dekat, salah seorang cucu akan melangsungkan pernikahan.

“Dia pandai mengurus dan mendidik anak-anak. Dia juga berani berkorban untuk membela anak-anak dan suka menolong orang- orang yang kekurangan. Hal seperti itu kerap mengharukan saya,” puji William untuk istrinya.

Belum dua minggu menikah, William pergi ke Belanda dan terpaksa meninggalkan Lily di Bandung. Beruntung kemudian, Lily bisa menyusul. Tahun 1948, ketika Edward lahir, William dan Lily hidup dari berjualan kacang dan rokok paket kiriman dari Bandung. Meskipun tak punya uang banyak, mereka masih dapat menyewa satu kamar di salah satu hotel di Amsterdam.

Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan ke Basell, Swiss. Dengan tiket yang dibeli dari hasil berjualan, mereka menumpang kereta api. Dalam perjalanan selama satu minggu itu, William, Lily, dan si mungil Edward, hanya makan roti, bubur, dan susu untuk berhemat. Hingga akhirnya, William memutuskan kembali ke Indonesia pada Februari 1949. Kenangan-kenangan seperti itulah yang makin melekatkan hubungan kasih William dan Lily.

Di atas kapal laut yang membawa mereka pulang, William kembali mengalami kejadian yang cukup menakutkan. Si kecil Edward yang gemar makan cokelat tiba-tiba tersedak. Sampai-sampai tidak bisa bernapas. William sempat panik dan kebingungan, namun Lily tetap tenang dan sigap.

“Edward cepat-cepat dijungkalkan ibunya. Punggungnya ditepuk-tepuk dengan keras. Cokelat itu akhirnya bisa keluar. Namun kejadian mencemaskan itu tidak bisa saya lupakan,” kenang tokoh pendiri perusahaan Astra itu.

Resep Langgeng
William menyebutkan resep kelanggengan rumah tangganya adalah hanya kemauan untuk saling memberi. Itulah sebabnya, kadang mereka sering bepergian bersama. Meskipun tidak terlalu mahir, Lily dulu cukup sering menemani William saat bermain tenis. Namun hubungan mereka bukan selalu harmonis. Bak dalam sinetron, kadang mereka juga bertengkar sebagaimana layaknya suami istri.

“Paling-paling ribut soal anak. Yang nakal, anak yang paling tua.

Tapi biasa saja, kalau tidak ribut itu bukan perkawinan. Kalau dia sedang marah, saya pergi saja daripada berkelahi,” kelakar kakek berusia 85 tahun yang masih gemar makan sate kambing dan durian itu.

Menurut Lily, resep menjaga keharmonisan rumah tangganya selama 60 tahun adalah berupaya saling memahami antara suami dan istri. Sebagai pasangan, mereka harus bekerja sama. Itulah sebabnya, permintaan suami sedapat mungkin ditindaklanjuti. Begitu pula sebaliknya.

“Dasarnya jangan melanggar asas kepercayaan. Suami dan istri haruslah saling mempercayai. Tentu saja, kita juga harus mengikuti ajaran yang telah ditetapkan Tuhan. Walaupun dididik orangtua untuk hidup mandiri dan hidup berdikari, dalam ikatan pernikahan sesuai nilai aturan kehidupan berkeluarga, saya tetap mengacu dan bekerja sama dengan suami,” tutur wanita kelahiran Bandung yang pernah mengelola perusahaan batik orangtuanya di Yogyakarta.

Lily menambahkan suami istri harus saling bertanggung jawab dan bersama -sama merawat anak. Sebagai istri, dia memang lebih banyak membantu mengurusi anak-anak, karena suami sibuk dalam mengurus pekerjaannya. Tetapi Lily sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena kerja keras sang suami akhirnya bisa membangun perusahaan seperti Astra dan memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

“Kehidupan merupakan anugerah dari Tuhan dan kami berupaya untuk hidup sesuai dengan ajaran kristiani dalam keluarga, walaupun itu tidak mudah! Kami tetap harus mengucapkan syukur kepada Tuhan pada masa suka dan masa sulit,” ia menambahkan.

Hingga kini, William dan Lily masih senang bepergian. Bahkan Lily cukup sering bepergian sendiri atau dengan teman. Sehari-hari, mereka nyaris tak pernah bisa tinggal diam. William dan Lily kerap mendatangi kantor di bilangan Jalan Sudirman. Tepat 15 Januari ini, mereka akan merayakan pesta pernikahan di sebuah hotel di Jakarta.

“Sebetulnya kami tidak aware bahwa mau dirayakan 60 tahun perkawinan. Sesungguhnya semua ini tidak lain adalah pemberian Tuhan semata. Dari mana lagi, kita mengharapkan sesuatu kalau bukan dari Tuhan? Maka dari itu kita mesti bersyukur,” sambung William. [Pembaruan, 15 Januari 2007/Unggul Wirawan dan Willy Hangguman] ►e-ti

Kategori: intermezo
Ditandai: ,

Limbah jadi Uang

November 6, 2007 · & Komentar

Tas kresek, kaleng dan kertas bekas, sampah organik atau barang lainnya adalah barang yang tak berguna dan pantas dibuang. Demikian, persepsi yang kerap muncul dihampir sebagian besar masyarakat umumnya termasuk kita. Namun, di era gaya hidup hijau, refuse, refill, recycle atau back to nature, barang tersebut menjadi sesuatu yang berharga. Barang yang tidak berguna tersebut bisa diolah menjadi produk consumer goods, pertanian, handycraft, otomotif , biogas dan sebagainya.

Di sekitar, banyak sekali sampah atau limbah yang bisa dioptimalkan. Dari hal yang paling kecil seperti kertas bekas, keleng susu, bekas oli mobil, kotoran sapi/kerbau hingga sampah rumah tangga. Limbah bisa disulap menjadi sebuah bisnis baik yang berskala kecil maupun besar, dari UKM hingga manufaktur.

Kertas bekas, misalnya. Barang ini bisa diolah menjadi bahan baku kertas bermutu setelah melewati proses manufaktur yang melibatkan modal besar. Kaleng susu, kaleng oli, bisa disulap menjadi produk antene wireless LAN. Limbah oli bisa menjadi bisnis yang besar, karena bahan dipakai sebagai bahan baku sebuah produsen oli nasional. Atau, sampah rumah tangga, umpamanya, bisa dibuat pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman. Tas kresek—palstik red–lewat proses sederhana bisa diolah menjadi biji plastik untuk bahan baku di pabrik-pabrik kimia. Diluar yang kami sebutkan, tentu masih banyak lagi. Kotoran hewan, serat singkong atau limbah tebu, ternyata dapat diolah menjadi produk styrofoam menggantikan bahan kimia seperti polistiren. Ampas tebu, kini dipakai sebagai bahan baku kampas rem kendaraan.

Sebagai pembaca, Anda tentu sudah banyak mengetahui tentang kisah sukses para pengusaha yang menekuni bisnis limbah ini. Banyak di antaranya kini telah menjadi jutawan atau milyarder. Kami yakin hal ini. Pasalnya, ketika sedang melakukan kegiatan jurnalistik di lapangan, kami menemukan fakta bahwa banyak produk yang berasal dari barang limbah ini. Dan, lagi, para pelaku bisnisnya, telah menikmati dari buah kreatifitasnya tersebut.

Joko Santosa, misalnya. Pengusaha asal Jogjakarta ini jeli melihat peluang bisnis kertas bekas. Usaha ini dimulai saat dia berprofesi sebagai pencari barang-barang bekas (gresek—Jawa red) di pasar. Intuisi bisnisnya muncul. Melihat jumlah kertas yang berjibun, barang tersebut lalu dikumpulkan dan dijual ke pabrik daur ulang untuk dijadikan kertas. Joko telah menikmati hasil lebih dari cukup dari bisnisnya ini.

Mully Remouldi, memiliki cerita lain lagi. Pengusaha asal Bandung itu membuat produk-produk illuminate lights dan lampu dari bahan kain dan kertas daur ulang. Produk-produk seperti lampion, kap lampu, lampu stand dan beberapa lagi lainnya telah diekspor ke manca negara di antaranya Australia dan Jerman. Di pasar domestik, kreatifitas Mully bisa dijumpai di Grand Tarakan Mall, Kalimantan Timur, PT HM Sampoerna Tbk dan beberapa lagi lainnya.

Di bidang teknologi informasi kita mengenal Muhammad Salahuddien Manggalany atau yang akrab dipanggil Didin. Pengusaha asal Malang, Jatim, ini berhasil membuat antene wireless LAN dari bekas kaleng susu. Meski belum di publikasikan secara gencar, antene sederhana itu cukup membantu jagad internet di Tanah Air. Perusahaan jasa Internet Service Provider (ISP) mengembangkan jasa layanannya lewat teknologi nirkabel dimana fungsi antene sangat diperlukan. Didin kerap diundang oleh berbagai perusahaan di luar kota untuk memasang antene ciptaannya.

Bisnis limbah, termasuk bisnis yang tidak njlimet. Hanya ditangan orang-orang kreatiflah barang tidak berguna tersebut akan berubah menjadi produk bermutu dan bernilai jual tinggi.

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Manisnya Beternak Lebah Madu

November 6, 2007 · & Komentar

Semanis produk yang dihasilkannya, usaha beternak lebah madu juga menjanjikan nilai ekonomi tinggi bagi peternaknya. Penuturan pengusaha ternak lebah, salah seorang perintis perlebahan di Tanah Air, Bambang Sukartiko, di tabloid Agro Indonesia 2005, dari kotak bersusun dua ia bisa memanen madu selama enam bulan musim produktif sebanyak 30-40 kg. Sementara jika kotak susun satu, madu yang dihasilkan hanya 10-15 kg. Jika memiliki 100 kotak super, berarti dalam satu musim produktif dia mampu menghasilkan 3 sampai 4 ton madu.

 

Harga madu bervariasi tergantung jenisnya. Di Indonesia sendiri jenis yang banyak dibiakkan adalah Apis cerana dan Apis mellifera. Dengan harga pasaran madu asli per botol ukuran 900 ml di Jakarta Rp40.000-Rp50.000, bisa dihitung berapa pendapatan. Belum lagi jika dicampur royal jelly dan pollenyang berkhasiat untuk obat, harganya bisa naik hingga dua kali lipat.

Investasi yang diperlukan untuk memulai bisnis yang satu ini juga bisa dimulai dari skala kecil. Masih menurut Bambang, satu kotak lebah madu yang berisi empat sisir (sarang) berharga Rp400.000. Satu kotak berisi satu ratu lebah dan 10.000 lebah pekerja. Dan akan masuk kategori produktif jika bersusun minimal dua kotak.

 

 

Sementara dalam analisis yang dirilis bagian humas Departemen Kehutanan, terdapat 2 (dua) macam modal yang diperlukan untuk investasi lebah madu yaitu modal investasi dan modal kerja.

Modal investasi merupakan modal tetap yang diperlukan dalam kegiatan budidaya lebah madu selama beberapa periode pemanenan termasuk penyusutan alat-alat produksi. Di dalam usaha perlebahan Apis mellifera modal investasi, terdiri dari : (1). perlengkapan koloni yang terdiri dari koloni lebah, kotak lebah (super), Bingkai sarang (frame), pondasi sarang, pollen trap, dan standar/tiang besi, (2). peralatan kerja yang terdiri dari pengungkit, pisau madu, ekstraktor, tong/drum plastik, alat pertukangan, pakaian kerja, dan sarung tangan.

 

 

Di dalam perhitungan modal investasi tidak dilakukan penyusutan karena peralatan berupa kotak lebah dan bingkai sarang dapat dipergunakan sampai 3 tahun. Dengan demikian pada tahun ke empat perlu dilaksanakan pengadaan baru, sedangkan peralatan lain berupa ekstraktor dan peralatan petugas dapat dipakai sampai dengan 10 tahun.

 

 

Modal kerja adalah biaya variabel yang digunakan dalam budidaya lebah madu untuk setiap periode pemanenan. Modal kerja terdiri dari seluruh biaya operasional yang habis dipergunakan selama satu tahun seperti makanan stimulasi, obat-obatan, sewa lahan dan transportasi.

 

 

Dalam perhitungan pendapatan untuk Apis mellifera dihitung produktifitas madu sebesar 24 kg per koloni per tahun, sedangkan untuk Apis cerana produktifitasnya sebesar 1 kg per koloni per tahun. Dalam analisis finansial tersebut, terlihat bahwa untuk budidaya Apis mellifera pada tahun pertama masih mengalami kerugian sebesar Rp 23.000,- yang disebabkan biaya investasi pengadaan koloni cukup tinggi yaitu sebesar Rp 25.000.000,-. Keuntungan baru dapat diperoleh pada tahun ke 2 yaitu sebesar Rp. 21.482.500,- dan terdapat penambahan jumlah koloni lebah menjadi 175. Pada tahun ke tiga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 40.381.000,- Dan penambahan jumlah koloni menjadi 306 koloni. Keuntungan tersebut dihitung atas dasar hasil madu yang diperoleh dengan harga jual per kilogram sebesar Rp.10.000,-, dan harga jual pollen sebesar Rp.50.000,- per kilogram serta royal jelly sebesar Rp.500,000,-.

 

 

Pada analisis finansial budidaya lebah Apis cerana tahun pertama masih mengalami kerugian yaitu sebesar Rp.1.700.000,-. Keuntungan sudah diperoleh pada tahun kedua yaitu sebesar Rp. 5.050.000,- dan terdapat penambahan jumlah koloni yang dipelihara menjadi 150 koloni. Pada tahun ke tiga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 7.865.000,- dan koloni lebah meningkat menjadi 225 koloni. Nilai tambah kegiatan budidaya lebah madu akan dapat ditingkatkan lagi bilamana peternak dapat memasarkan produknya dalam bentuk kemasan misalnya dalam botol atau sachet, bukan dipasarkan sebagai madu curah.

 

 

Syarat untuk berhasil dalam bisnis ini cukup dengan menimba ilmu dan menerapkan pengetahuan yang dimiliki tentang kehidupan koloni lebah. Misalnya suhu ideal yang cocok bagi lebah adalah sekitar 26 derajat C, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 10 derajat C lebah masihberaktifitas. Di lereng pegunungan/dataran tinggi yang bersuhu normal (25 derajat C). Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka, jauh dari keramaian dan banyak terdapat bunga sebagai pakannya. (SH)

 

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Anthurium Sang Primadona Bisnis

November 6, 2007 · 1 Komentar

 

Jika ditanya kepada para pebisnis tanaman hias, tanaman apa yang paling banyak dicari penggemar saat ini, jawabannya pasti lah Anthurium adreanum. Tren tanaman hias yang satu ini sudah berlangsung cukup lama. Tapi anthurium hingga kini masih menjadi tanaman yang sulit didapatkan karena kurangnya pasokan jika dibandingkan permintaan.

Berbagi cerita dengan seorang pebisnis tanaman hias dari toekangkeboen.com, Maria Nurani, ia juga mendapatkan begitu banyak order untuk tanaman jenis ini jauh melebihi stok. Permintaan yang tinggi akan Anthurium menurutnya sudah dirasakan semenjak tahun 2006. Namun dalam tiga bulan terakhir ini, anthurium semakin banyak diburu. Dalam sehari saja, sambung Maria, datang hingga sekitar 50 permintaan. Dari jumlah tersebut paling yang bisa dipenuhi cuma 10 order.

Jelas saja harga yang tinggi harus dibayar untuk mendapakan produk ini. Untuk tanaman yang sudah besar, harganya dimulai Rp6 juta hingga Rp100 jutaan. Harga tergantung pada keindahannya dilihat pada jenis, bentuk, jumlah daun dan lainnya. Bahkan juga tak sedikit penggemar dan kolektor yang membeli dalam bentuk anakan dengan harga minimal sekitar Rp175 ribu. Jenmanii varian kobra yang daunnya meliuk mirip kobra, saat usia tiga bulan setinggi gelas kaca harganya sudah mencapai sekitar Rp 3,5 juta.

Perawatan anthurium sendiri menurut Maia tidaklah sulit. “Perawatannya tidak susah, bisa hidup di tempat panas,” ujarnya. Namun Maia mengakui usaha untuk mendapatkan anthurium menjadi tumbuhan besar yang siap dipajang meembutuhkan waktu cukup panjang. “Membesarkan Anthurium butuh waktu minimal 5 tahun,” ujar Maria.

Uniknya anthurium diberi sejibun nama sesuai selera pemiliknya. Di pasaran saja, anthurium yang pada dasarnya terbagi atas 6 jenis ini dikenal dalam berbagai nama, seperti Hookeri Merah, Garong (Garuda Corong) Garuda Hitam, Garuda Merah, Keris Holand, Keris Jumbo dan Rhenaisong (Thailand), Keris Dragon, Black Pearl, Black Silvit, Black Beauty, Burgundi, Black Bintang Kejora, dan Wave of Love (gelombang cinta). Nama biasanya disesuaikan dengan bentuk yang beraneka ragam hasil perkawinan silang.

Budi daya di Indonesia dilakukan terutama di sentra produksi tanaman hias Jawa Barat (Lembang Bandung, Sukabumi, Cianjur, dan Bogor), Jawa Tengah (Ungaran, Bandungan, dan Semarang), Jawa Timur (Batu Malang, Tlekung, dan Pasuruan), serta Sumatera Utara khususnya daerah Brastagi.

Untuk masa-masa naik daun seperti ini, bisnis broker penjualan anthurium juga melejit. Sudah tentu, jika pandai-pandai menjajakan dan mengetahui seluk beluk anthurium, seorang broker akan mendapatkan marjin yang tinggi. (SH)

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Ketulusan Tapian Panutan Pendiri PT Astra Internasional

November 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pendiri PT Astra Internasional dan Presiden Komisaris SIMA (PT Siwani Makmur Tbk), kelahiran Majalengka 20 Desember 1923, ini seorang anak manusia pilihan yang menyerahkan semua impian dan cita-dukanya kepada Sang Pencipta yang Alfa dan Omega. William Soerjadjaja yang akrab dipanggil Oom Willem adalah taipan panutan yang tulus mencintai bangsanya.

Impian adalah sebuah kekuatan awal yang tidak mudah mewujudkannya. Tapi banyak orang yang mencapai sukses yang bermula dari suatu impian. Salah satu yang berhasil mewujudkan impiannya adalah William Soeryadjaya, pendiri PT Astra Internasional. Ia seorang anak manusia yang menyerahkan semua impiannya kepada Tuhan. Dan, ia telah meraih impian-impiannya.Kendati, dalam romantika pencapaian impiannya, ia juga mengalami jatuh-bangun, ia tetap bersujud kepada Tuhan, Sang Pencipta yang Alfa dan Omega.

Salah satu mimpinya yang terwujud gemilang adalah PT Astra Internasional. Hanya dalam tempo 13 tahun sejak berdirinya PT Astra Internasional pada tahun 1957, tak kurang dari 72 perusahaan telah bernaung di bawah bendera grup tersebut. Di akhir tahun 1992, jumlah itu telah merambah menjadi sekitar 300 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, tidak hanya dalam sektor otomotif tetapi juga sektor keuangan, perbankan, perhotelan dan properti.

Mimpi ini bermula sejak Oom Willem menjalani masa kecil dan remajanya di Majalengka, Cirebon. Jiwa wiraswasta dari sang ayah, yang mengalir di dalam dirinya dari usia dini, telah menempanya ulet, cerdas, inovatif dan peka atas nalurinya dalam meniti bisnis demi bisinis. Dari berdagang hasil bumi dan minyak goreng di Jawa Barat, dan berdagang kacang dari Bandung ke negeri Belanda pada 1947, semasa studi di negeri kincir angin itu, Oom Willem tidak kenal kata menyerah. Ia ulet, bekerja keras dan berdoa.

Pengalaman jatuh-bangun pastilah dialami setiap orang pebisnis. Demikian juga halnya pengalaman Oom Willem. Namun, ia menegaskan: “Kerugian tidak pernah menyurutkan semangat hidup saya.” Hal ini dibuktikannya dalam menyikapi suka-dukanya di PT Astra Internasional, yang didirikan dan dibesarkannya tetapi harus dilepaskannya, demi tanggung jawab pribadinya atas masalah yang menimpa Bank Summa, milik putera sulungnya Edward Soeryadjaya, di tahun 1992.

Hal ini telah menghantarkannya dan segenap keluarganya ke masa-masa yang amat sulit. Namun, kesulitan itu tidak sampai mengambil suka-cita yang bersemi di hatinya. Ia menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah.

Oom Willem, memang bukan sekedar figur pebisnis yang sukses dalam bidangnya. Sebagai pendiri PT Astra Internasional, Oom Willem memang bukan saja telah mendirikan sebuah perusahaan yang dihormati baik di dalam maupun luar negeri oleh karena profesionalisme dan integritasnya. Lebih dari itu, lewat visi dan komitmen sosialnya, Oom Willem juga telah membuktikan sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia dalam mengangkat ekonomi nasional dalam arti seluas-luasnya, di antaranya menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu masyarakat Indonesia.

Visi memang merupakan salah satu kata kunci dalam kiat menyelami tokoh bangsa yang pada usianya yang sudah berkepala delapan, tetapi masih terlihat bugar ini. Visi tersebut yang memandu seluruh kemampuan, dan terutama dalam pengembangan sumber daya manusia, serta pencapaian tujuan dengan penerapan azas corporate governance yaitu transparency (transparansi), responsibility (tanggung jawab) dan accountability (pertanggungjawaban). Dimensi-dimensi ini yang acap kali tergeser ataupun terlupakan oleh sementara orang, dalam prioritas pengembangan bisnis maupun perekonomian.

Semenjak berdirinya Astra, Oom Willem selalu mementingkan pengembangan kemampuan dan peningkatan pendidikan sumber daya manusia, yang kemudian diterapkan secara konsisten dalam program-program pelatihan dan beasiswa bagi karyawan. Pada saat awal tahun 70-an, banyak tenaga kerja yang dikirim ke Amerika, Eropa maupun Jepang untuk menambah ilmu dan keterampilan.

Lebih lagi, kesan yang sangat melekat pada diri Astra adalah banyaknya tenaga kerja pribumi yang dipekerjakan, baik pada tingkat karyawan biasa maupun dalam jajaran pimpinan. Ini salah satu wujud ketulusan, kebanggaan dan kecintaannya sebagai warga bangsa Indonesia kepada bangsa dan negaranya. “Saya cinta Indonesia, saya lahir, hidup dan berkarya di Indonesia,” tandas Oom Willem dengan tulus.

Selain itu, Oom Willem sangat mementingkan nilai-nilai seperti naluri, loyalitas dan rasa percaya dalam merekrut tenaga. Dengan basis ini, banyak inovasi bisnis dari pihak karyawan yang disetujui untuk diuji-coba apabila dianggap layak, agar para karyawan terpacu untuk mengasah kreativitas mereka. Rasanya tidaklah berlebihan apabila sebagai sebuah perusahaan, nama Astra tidak terlepas dari sejarah, dan menjadi identik dengan kata-kata seperti integritas, dan public service (layanan kepada masyarakat).

Kendati demikian, PT Astra pun mengalami jatuh-bangun, banyak mendapat guncangan, terlebih dari lawan-lawan bisnis yang boleh jadi iri hati atas suksesnya. Oom William dijatuhkan lewat penutupan Bank Summa milik Edward Soeryadjaya, anak pertamanya, periode tahun 1992-1993. Inilah badai terbesar dalam perjalanan bisnis sang pendekar ini.

Oom William pasrah. Ia selalu kembalikan kepada Tuhan. Ia selalu berpegang pada prinsip: Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Yang paling penting baginya ketika itu adalah nasib para karyawan dan nasabah Bank Summa. Ia teramat sedih membayangkan pegawai sebanyak itu harus kehilangan mata pencahariannya. Oleh karenanya ia rela menjual saham-sahamnya di Astra guna memenuhi kewajiban Bank Summa.

Banyak spekulasi yang berkembang ketika Oom Willem terpaksa menjual sahamnya di Astra. Spekulasi yang banyak diyakini orang adalah adanya rekayasa pemerintah untuk menjatuhkan Oom Willem. Namun, Oom Willem sendiri tidak pernah merasa dikorbankan oleh sistem. Semua itu dianggapnya sebagai konsekuensi bisnis. Ia tidak mau larut dalam tekanan spekulasi dan keluhan. Melainkan ia pasrah dengan tulus kepada kehendak Tuhan. Dengan ketulusan itu pula, ia terus melangkah maju ke depan dengan pengharapan yang hidup. Dan, kini, salah satu kepeduliannya yang terbesar adalah bagaimana Astra dapat terus berperan sebagai agen pertumbuhan ekonomi nasional, yang antara lain dapat membuka lapangan kerja lebih luas.

Memang, membuka lapangan kerja, adalah salah satu impiannya yang tetap membara dari dulu hingga kini. Sebuah impian dan obsesi yang dilandasi kepeduliannya kepada sesama. “Salah satu hasrat saya dari dulu adalah membuka lapangan kerja,” katanya. Apalagi kondisi Indonesia saat ini, yang dilanda krisis ekonomi, yang berakibat bertambahnya pengangguran.

Impian inilah yang mendorong Omm Wilem membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance. Di sini, ia mengumpulkan dana untuk diinvestasikan ke dalam pengembangan usaha petani-petani kecil dan small and medium enterprises (usaha-usaha kecil dan menengah). Agar dapat menciptakan lapangan-lapangan kerja baru dan meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya akan mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. ►e-ti/tsl, dariberbagai sumber

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Berbagai Peluang Berternak Itik

November 6, 2007 · & Komentar

 

Bisnis budidaya itik memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Apalagi jika budidaya dilakukan secara intensif dalam arti tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan sambilan. Selain memiliki peluang bagus untuk dikembangkan karena permintaan yang makin tinggi dari masyarakat untuk konsumsi telur dan daging, peternakan itik membutuhkan pakan, khususnya sumber protein yang efisien.

Itik di Indonesia awalnya berasal dari Jawa. Sementara di Inggris dikenal dengan nama Indian Runner (Anas javanica). Berbagai jenis itik lokal dikenal penamaannya berdasarkan tempat pengembangannya, wilayah asal dan sifat morfologis. Mungkin Anda pernah mendengar nama-nam itik seperti itik Alabio (dari Kalimantan Selatan), itik Tegal dan itik Mojosari dan Itik Maros.

Umumnya usaha peternakan itik ditujukan untuk itik petelur. Namun peluang itik pedaging juga bisa diambil dari itik jantan atau itik betina yang sudah lewat masa produksinya. Selain itu bisa juga pebisnis mengambil bagian pembibitan ternak itik sebagai fokus usaha.

Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak itik (5-8 minggu), pemeliharaan itik Dara (umur 8-20 minggu ke atas) dan pemeliharaan itik petelur (umur 20 minggu ke atas).

Masa produksi telur yang ideal adalah selama 1 tahun. Produksi telur rata-rata itik lokal berkisar antara 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70 gram. Bahkan, itik alabio memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu. 

Pengembangan dan pemeliharaan itik potong agar tercapai efisiensi pemanfaatannya menurut D.L Satie (1991) seperti dikutip Majalah Poutry Indonesia Online, dapat menggunakan itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan. Hal ini dimaksudkan karena itik jantan mempunyai beberapa keunggulan dan keuntungan kalau ditinjau dari segi ekonomisnya. Sementara untuk harga bibit, itik jantan lebih murah jika dibandingkan itik betina, karena msyarakat selama ini hanya mengenal dan memetik keuntungan dari itik betina sebagai petelur.

Masih menurut Satie, pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, dimana hasil sudah bisa dipetik dalam waktu 2-3 bulan. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada itik betina. Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan itik jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi. (SH)

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Air Suci

November 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya tertarik dengan perkara yang diusulkan oleh Ust Has mengenai sikap kita terhadap penggunaan air. Memang benar, di tempat kita, air melimpah ruah. Harga air murah. Maka, kita jarang berfikir untuk menjimatkan penggunaan air. Berapa sangatlah bil air tu.. Lebih-lebih lagi jikalau kita tidak perlu bayar bil air (teringat masa dok kat UTM dulu) ataupun bil air dah dimasukkan dalam bil sewa(apartment skarang kene bayar bil air pulak)..banyaklah air yang dibazirkan, yelah, kita tak rugi ape-ape..lagi rase berbaloi sewa yang dibayar..

Bagaimana pulak jika tetiba bekalan air terputus untuk sementara waktu? Dengan sekelip mata, kita menjadi seorang yang cukup prihatin untuk meng’limit’kan penggunaan air. Semua keperluan yang memerlukan air perlu dikurangkan penggunaanya mengikut kuota. Mandi, amik wudhu’, basuh tangan, semuanya perlu dikurangkan, sehinggalah bekalan air dipulih semula. Apabila bekalan dah ade semula, kembalilah sikap membazir tu..sukar untuk kita mengambil pengajaran.

Saya amat terkesan dengan hadis yang dimuatkan dalam artikel Ust Has ini. Di dalam hadis ini, Baginda s.a.w menekankan betapa pentingnya kita untuk mengelakkan pembaziran dan perlunya kita untuk memastikan bahawa kita benci sikap membazir ini.

Abdullah ibn Umar meriwayatkan bahawa Baginda SAW pada suatu ketika, melintasi Saad ibn Abi Waqqas R.A. yang sedang berwudhu dengan menggunakan air yang banyak. Lalu baginda bertanya, “Mengapakah dengan pembaziran ini?” Saad bertanya kepada baginda: Apakah di dalam soal berwudhu’ pun dikira pembaziran? Baginda S.A.W menjawab, “Ya, (membazir tetap membazir), walaupun kamu berada di sungai yang mengalir – riwayat Ibn Majah

Bercakap tentang air, saya teringat kisah Khalifah Harun Rasyid apabila beliau meminta nasihat daripada ulama yang telah diangkat sebagai penasihatnya. Dalam kisah berikut, ulama’ tersebut meletakkan harga kerajaan Khalifah Harun setaraf dengan harga secawan air putih sahaja. Betapa murahnya harga sebuah kerajaan!

“Maaf Amirul Mukminin, seandainya Tuan berada di sebuah padang pasir yang gersang, sinar matahari memancar dengan terik, persediaan air Tuan tidak ada lagi, dan diperkirakan tak lama lagi Tuan akan mati kehausan, tiba-tiba datang seseorang menawarkan secawan air, apakah Tuan akan menerimanya?”

“Ya, saya akan menerimanya. Dalam keadaan seperti itu, separuh kerajaan pun akan saya berikan untuk menebus secawan air yang diberikannya kepadaku.”

“Tuan memang jujur,” ujar sang ulama. Lalu ia mengajak Harun Ar Rasyid menghabiskan air di dalam cawan masing-masing.

“Kini air sudah Tuan minum hingga tak tersisa. Namun, masih ada kesulitan yang Tuan alami. Seandainya air tersebut tidak bisa dikeluarkan dari tubuh Tuan sampai berhari-hari, berapa tuan mau bayar supaya air tersebut bisa dikeluarkan?” tanya sang ulama lagi.

Khalifah Harun Ar Rasyid diam sejenak, “Berapa pun saya akan bayar,” ujarnya mantap. “Walaupun Tuan untuk membayar separuh kerajaan milik Tuan yang tersisa?” tanya sang ulama.

Tanpa berpikir lama, Harun Ar Rasyid menjawab, “Ya. Saya akan membayar walaupun dengan separuh kerajaan sekalipun.”

Mendengar jawaban sang khalifah, sang ulama menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan nasehatnya. “Wahai Amirul Mukminin, ternyata harga kerajaan Tuan sangat tidak berarti disisi Alloh. Seluruh kerajaaan yang Tuan banggakan, harganya tak lebih dari secawan air belaka. Separuhnya untuk menebus kehausan Tuan, dan separuhnya lagi untuk membayar agar Tuan bisa mengeluarkan air itu dari tubuh Tuan. Begitulah nilai kerajaan Tuan dibanding kekuasaan Alloh. Dan, inilah nasehat saya.”

Kategori: intermezo
Ditandai: ,

Air Putih Sangat Penting

November 6, 2007 · 1 Komentar

Seringkali kita merasa agak nyeri di bagian kanan atau kiri pinggang. Bila kita sudah mulai merasakan gejala ini, ada baiknya instropeksi diri apakah kita sudah cukup minum air putih apa belum. Sebenarnya berapa banyak kita harus minum air dan apa akibatnya kalau tubuh kita kurang air ?

Kita membutuhkan air sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari dan jumlah diatas harus ditambah jika anda seorang perokok. Mengapa .? Karena air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita melalui air seni, keringat, pernapasan, dan juga sekresi.

Bagaimana jika kita mengkonsumsi air kurang dari itu ..? Maka tubuh akan menyeimbangkan diri dengan cara menghisap air dari komponen tubuh kita yang lain. Dimana komponen yang paling banyak memiliki kadar airnya adalah darah dan otak.

Jika tubuh menghisap dari darah maka darah akan menjadi kental dan akibat pengentalan darah ini maka perjalanannya atau peredarannya akan kurang lancar ketimbang darah yang encer dan sewaktu melewati ginjal maka ginjal akan bekerja lebih keras untuk menyaring darah yang kental tersebut.

Karena saringan dalam ginjal sangatlah halus, maka tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal yang bisa mengakibatkan air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Dan sewaktu darah kental mengalir melalui otak maka perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi encer dan lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka suatu saat mungkin anda harus menghabiskan uang yang cukup banyak setiap minggu untuk cuci darah dan juga kemungkinan terkena serangan jantung dan stroke sangat besar. Mulailah banyak-banyak minum air putih dari sekarang jika ingin tetap sehat .!!!

Kategori: reality
Ditandai: ,