Cepiar’s Weblog

Bisnis dan Pentas Politik

November 2, 2007 · 1 Komentar

Surya Dharma Paloh
Jika dieksplorasi ke belakang, Surya Paloh sesungguhnya adalah seorang pebisnis yang sudah lama malang melintang di pentas politik nasional. Kartu Tanda Anggota (KTA) miliknya di Golkar lebih tua usianya dibanding milik Akbar Tandjung, Ketua Umum DPP Golkar. Pengusaha dan politisi sudah menjadi trade mark-nya sejak masa muda di Serbelawan. Dan kedua merek dagang ini selalu jalan beriringan, saling topang, saling isi, saling pengaruh-mempengaruhi.

Awalnya, suatu ketika di tahun 1965, Surya Paloh berkenalan dengan Sofyan, seorang asisten perkebunan di Dolok Merangir. Tempat ini jauhnya lima kilometer dari rumah tinggalnya di Serbelawan. Sofyan lalu memperkenalkan Surya, remaja yang masih 14 tahun kepada A Gu, seorang grosir teh di Pematang Siantar. Perkenalan inilah yang membuahkan awal mula keterlibatannya sebagai leveransir yang menyuplai berbagai kebutuhan ke para pekerja perkebunan yang ada di Dolok Merangir. Seperti ikan asin, teh, tembakau dan minyak goreng.

Di lingkungan domestik keluarga saat itu, Surya sudah terbiasa membawa pulang ke rumah berbagai kebutuhan rumah tangga, ya, seperti ikan asin, minyak goreng dan lain-lain untuk menyenangkan hati ibunya yang sangat dicintai bahkan selalu memberinya banyak kemanjaan, Hj. Nursiah. Surya kecil bukan hanya tidak lagi memerlukan uang jajan dari orangtua, melainkan sudah mampu menabung sebagian penghasilannya.

Pada saat bersamaan bergelora pula pergolakan politik lokal, sebagai imbasan percobaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Gerakan 30 September/PKI. Surya Paloh yang di tahun 1964 sudah mendirikan dan menjadi Ketua Umum GPP (Gerakan Pemuda Pelajar) Dolok Batunanggar, Simalungun, Sumatera Utara, mulai pada tahun 1965 kembali mendirikan sekaligus memimpin Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) sub rayon Serbelawan. Setahun kemudian, bersama enam orang sahabat, dia mendirikan KAPPI di tingkat Kecamatan Dolok Batunanggar, dan memimpinnya sebagai Ketua Umum tahun 1966-1968.

Dibandingkan kakak dan adik-adiknya, Surya memang sudah memiliki talenta berorganisasi, menampakkan jiwa kepeloporan, serta kemampuan orasi yang baik sejak belia. Di KAPPI Kecamatan Dolok Batunanggar inilah secara lebih luas dia berkesempatan menujukkan kepeloporan dan kepemimpinan tersebut. Sejak itu pula dia mulai intens menggeluti dunia politik jalanan, misalnya menjadi demonstran yang hampir setiap hari melakukan unjuk rasa atau rapat akbar.

Lingkup pergaulannya terus berkembang dari daerah yang satu ke daerah lainnya mengikuti perpindahan tugas ayahnya Muhammad Daud Paloh sebagai seorang polisi. Antara lain dari Labuhan Ruku, Talawi, Asahan ke Serbelawan, Simalungun. Saat ayahnya piindah ke Tarutung (1967), Surya memilih hijrah ke Medan dan melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 7, Medan.

Ketika berlangsung transisi kepemimpinan nasional, dari rezim Orde Lama ke Orde Baru, berkat kejelianya melihat arah perubahan bandul politik, Surya langsung bergabung dengan Gerakan Pelajar Pancasila (GPP) tingkat Sumatera Utara, yang dipimpin oleh Tomiyus Djamal. Karena memang sejak di Serbelawan sudah terlatih sebagai Ketua Umum GPP Dolok Batunganggar, dia tampak lebih menonjol dibanding ketuanya yang kalah pamor. Surya sepertinya mempunyai kekuatan dan kharisma magis. Apalagi dia dikenal sebagai orator yang dapat meyakinkan massa dengan mudah.

Sebagai pemuda pembawa suara masa depan, dia tidak diam berpangku tangan menorehkan gagasan tentang masa depan. Pengalaman sebagai anak Serbelawan baginya cukup untuk bersanding sebagai Ketua Presidium KAPPI tingkat Kota Medan, Sumatera Utara tahun 1968-1970.

Sebagai anak kolong yang besar di lingkungan asrama polisi, maka ketika hidup di lingkungan dan situasi yang marak dengan perkelahian antar anak kolong di Kota Medan, Surya mengambil prakarsa mendirikan organisasi Persatuan Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) di Medan, tahun 1968, yang menghimpun dan mengarahkan semua anak kolong dalam satu wadah tunggal. Surya menjadi Ketua Umum PP-ABRI Medan, Sumatera Utara antara tahun 1968-1974.

Setahun pendirian PP-ABRI membuahkan hasil lain pada dirinya. Surya terpilih menjadi Ketua Koordinator Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Golkar (Ko-PPM Golkar). Dia menjadi Ketua Umum Ko-PPMG Golkar Medan, tahun 1969-1972. Golkar adalah organisasi dan alat politik baru yang sengaja dilahirkan Tri Karya bersama ABRI, awalnya terutama untuk menandingi dan mengalahkan niat jahat PKI.

Sebagai Ko-PPM Golkar, Surya mulai sadar bahwa dirinya sudah mulai masuk di zona politik praktis. Sehingga, pada Pemilu 1971, Pemilu pertama di era Orde Baru, Surya Paloh menjadi calon anggota legislatif termuda untuk DPRD II Kota Medan.

Prakarsa pendirian PP-ABRI Sumatera Utara, satu-satunya daerah yang memiliki organisasi sejenis di seluruh Indonesia, masih belum berhenti membuahkan hasil. Prakarsa tersebut menjadi penyumbang bekal terbesar ketika di kemudian hari di tingkat nasional, bersama putra-putri perwira tinggi ABRI lainnya, dia membidani kelahiran Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) di Jakarta.

Sambil berkiprah di organisasi sosial kemasyarakatan dan pemuda serta “mengamankan” anak-anak kolong yang menjurus ke premanisme ala Medan, bahkan ditambah sebagai politisi muda di zona politik praktis, Surya tak lupa menjalankan dua peran penting lainnya: sekolah dan berbisnis.

Ketika memasuki SMA Negeri 7 Medan tahun 1967, Surya bekerja pula sebagai Manajer Travel Biro Seulawah Air Service. Setamat SMA duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), antara tahun 1972 hingga 1975, Surya dipercaya mengelola Wisma Pariwisata, di Jalan Patimura, Padang Bulan, Medan oleh pemilik Baharuddin Datuk Bagindo, yang juga memiliki pabrik korek api PT BDB di Pematang Siantar.

Sejak tahun 1973 bersama kakak iparnya Jusuf Gading, Surya dipercaya sebagai Direktur Utama PT Ika Diesel Bros untuk menjalankan usaha distributor mobil Ford dan Volkswagen, di Medan. Lalu, di tahun 1975 ditunjuk pula menjadi kuasa usaha direksi Hotel Ika Darroy, terletak di Banda Aceh, merangkap sebagai Direktur Link Up Coy, Singapura, yang bergerak di bidang perdagangan umum.

Usaha dan bisnis yang berhasil dijalankan menghantarkannya ke predikat baru sebagai pengusaha muda. Dan semenjak tahun 1974, untuk tiga tahun ke muka dia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Utara.

Karena kesibukan berbisnis, berorganisasi, dan berpolitik membuat kuliahnya di FH-USU tertinggal sehingga Surya berinisiatif pindah ke Fisip Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dan akhirnya berhasil menamatkannya sebagai sarjana di tahun 1975.

Surya memulai perjuangan hidup baru sebagai anak perantauan saat hijrah ke Jakarta tahun 1977 untuk berbisnis, berorganisasi, berpolitik, hingga menjadi lone ranger pejuang kebebasan dan kemerdekaan pers untuk memantapkan eksistensi sebagai seorang publisher sejati yang selalu menyuarakan perubahan menuju masa depan bangsa yang lebih baik.

Walau sejak tahun 1976 sudah merantau ke Jakarta untuk membangun wacana bisnis, politik dan organisisasi baru namun kerap kali dia masih mondar-mandir Medan-Jakarta mengurusi bisnis yang tersisa berikut kedudukan sebagai Ketua Umum Hipmi Sumatera Utara yang belum berakhir. Dan begitu menetap di ibukota negara Jakarta, maka sebagaimana umumnya anak-anak perantauan khususnya asal Medan, Surya berupaya membangun eksistensi baru sebagai pengusaha muda maupun politisi yang patut diperhitungkan di tingkat nasional.

Tahun 1978 bersama Yoseano Waas dan kawan-kawan dia mempelopori pendirian Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI atau FKPPI. Dalam waktu relatif singkat nama anak Serbelawan ini mulai berkibar terutama di lingkungan Golkar. Dia terpilih menjadi Ketua Umum FKPPI pertama. Pada tahun 1982 Surya terpilih menjadi satu-satunya warga sipil yang dipercaya menjabat anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri.

Namun, kedekatan Surya dengan petinggi ABRI sama sekali tak mengubah sifat, karakter dan idealismenya sebagai politisi muda. Independensi tetap diperlihatkan saat dia harus menyikapi persoalan-persoalan prinsipil walau hal itu berakibat dirinya tak disukai penguasa. Dia mempertahankan kebenaran yang diyakini jauh lebih penting dibanding kepentingan terhadap penguasa.

Sebagai contoh dalam Rakernas FKPPI di Malang Februari 1983 dia membuat kejutan yang kontroversial, yaitu meyakinkan peserta Rakernas untuk menolak usulan agar Presiden Soeharto ditetapkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional dalam Sidang Umum MPR 1983.

Kejutan lain terjadi tiga tahun sebelumnya pada 28 Oktober 1981. Dalam Munas KNPI itu, Surya dalam kapasitas Ketua Umum PP FKPPI menyampaikan sikap, meminta Abdul Gafur tidak melakukan intervensi delam pemilihan Ketua Umum KNPI demi menegakkan nilai-nilai demokrasi. Dia menyampaikannya dengan suara lantang melalui sebuah pidato tanpa teks, langsung di hadapan Menpora Letkol Udara dr. Abdul Gafur yang juga pembina KNPI. Ketika itu Gafur berencana memplot Aulia Rahman sebagai ketua umum baru bersaing dengan ketua umum lama Akbar Tandjung.

Perseteruan dengan Gafur sudah terjadi sebelumnya, pada 20 Juni 1978 saat Surya dan para pendiri FKPPI serta Ketua Umum Pepabri memohon izin pembentukan FKPPI kepada Menpora dan ditolak oleh Gafur.

Kontroversi Kader Golkar
Bila ada yang keliru menilai Surya, mungkin disebabkan sulitnya memisahkan antara idealisme dan latar belakang politiknya sebagai kader Golkar yang kontroversial. Sebab idealisme Surya selalu mewarnai karakter karya jurnalistik Prioritas yang secara diametral sangat bertentangan dengan iklim rezim Orde Baru yang dilahirkan dan ditopang Golkar.

Idealisme itu adalah, menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai wawasan kebebasan pers. Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi pihak manapun.

Surya selalu menempatkan diri sebagai sahabat bagi setiap orang. Namun bersamaan itu dia mendefinisikan pula bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang bersikap kritis, berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan walau terasa pahit. Demikian pula pers yang dia pimpin, sebagai sahabat yang baik pers harus tetap kritis terhadap kekuasaan dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan.

Itulah yang mewarnai karya-karya jurnalistik Prioritas dengan rubrik andalan Selamat Pagi Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu pembaca sebab gaya penyajiannya yang satir serta cenderung sarkastis dan kerap menyoroti fenomena aktual yang ada. Prioritas sesungguhnya merupakan refleksi pemikran seorang Surya dalam melihat bangsanya.

Duet wartawan senior Nasrudin Hars dan Panda Nababan merupakan kunci sukses Prioritas yang mampu menerjemahkan gagasan, pemikiran serta idealismenya ke dalam karya-karya jurnalistik. Setelah menjadi publisher sejati dia masih tetap menjadi sahabat kekuasaan lewat duet Media Indonesia dan Metro TV yang dimiliki untuk menyoroti fenomena faktual yang ada.

Surya Paloh memang kental dengan atmosfir kontroversial baik saat berbisnis maupun berpolitik, atau saat keduanya diayunkan bersamaan. Untuk memperjuangkan proses tender secara fair di PT Pupuk Kaltim, misalnya, karena Indocater miliknya dikalahkan, Surya harus menggebrak James Simanjuntak, direktur utama Pupuk Kaltim. Alasan kalah, Indocater tidak mempunyai jaminan modal yang memadai untuk mengikuti tender.

Surya lalu bergegas menghadap Omar Abdallah, Direktur Utama BBD untuk memperoleh bid bond atau jaminan tender senilai Rp 500 juta, sebab dua hari sebelumnya permintaan serupa telah ditolak BBD Cabang Cikini karena dianggap Indocater tidak kapabel untuk menangani proyek tersebut.

Karena itu, begitu bid bond diperoleh Surya yang di tahun 1980 itu sebagai Ketua Umum FKPPI mengirimi James karangan bunga mawar setinggi 1,5 meter yang ditempel sepenggal kalimat dalam kertas berkop MPR, “Bung James Simanjuntak, semoga sukses. Merdeka!” James akhirnya melakukan tender ulang dan memenangkan Indocater.

Langkah kontroversialnya di politik dan bisnis pers lebih banyak lagi. Bukan sekali dua kali Media Indonesia yang dipimpinnya diancam dibredel. Atau karena keteguhannya menegakkan kebenaran dan demokrasi Surya harus dicari-cari aparat keamanan bahkan suatu ketika nyawanya terancam.

Rekaman sepakterjangnya di Jakarta sebagai anak bangsa antara lain mencatat, sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang, Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun 1999 hinggga sekarang.

Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir, pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel.

Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang kandidat calon presiden dari Partai Golkar.

Itulah Surya Paloh. Pandangan politiknya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi sangat mewarnai sikap dan kebijakannya ketika terjun dalam dunia pers sebagai publisher. Posisi politiknya dalam lingkaran kekuasaan tidak serta merta menghanyutkan dirinya dalam kompromi sungguhpun dia akan menghadapi risiko tudingan sebagai pembangkang atau mungkin penghianat. Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah perjuangan dan keberhasilan.

Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin pencetak uang yang menguntungkan.

Keuntungan itu digunakannya untuk ekspansi usaha termasuk menjajal bisnis pers dengan mendirikan Prioritas dan PT Surya Persindo. Surya bukan tidak mendapat tentangan terjun ke bisnis pers sebab telah jauh lari dari core business katering, terutama dari para manajer puncak Indocater. “Negeri ini masih memerlukan suatu suara yang dicetuskan lewat media cetak. Ini penting, sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia dalam menyuarakan hati nurani,’ jelas Surya kepada Lily Harahap yang tegas-tegas menentang langkah Surya.

“Justru kita harus melahirkan Prioritas agar tidak ada lagi koran yang dibredel,” tambahnya. “Jadi, supaya bisnis dan juga hati nurani saya bisa berjalan beriringan, kita gunakan dulu keuntungan Indocater untuk menerbitkan Prioritas,” lanjut Surya. Lily akhirnya sadar bahwa Surya berwatak sangat independen dan tak mudah didikte.

Surya seperti menemukan dunianya yang sesungguhnya. Dia terus membangun reputasi sebagai publisher, lebih enjoy dan tertantang mengurusi bisnis pers, sementara pengelolaan katering Indocater diserahkan sepenuhnya ke profesional sejak pertengahan dekade 1980-an.

Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia, Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000 orang.

Perjalanan Surya dalam bisnis sesungguhnya tak selalu mencatat keberhasilan. Dia menorehkan pula sejumlah kegagalan. Dan justru di sinilah dia banyak menimba pengalaman serta menambah kematangan diri sebagai pengusaha muda. Dia menggeluti dunia bisnis dari bawah secara otodidak tanpa uang sesen pun, kecuali hanya bermodalkan pergaulan dan kepercayaan.

Konvensi Partai Golkar
Partai Golkar yang dalam beberapa tahun terakhir (era reformasi) ini sering dikritik dan dihujat, karena dianggap merupakan bagian dari masa lalu, adalah partai pilihannya sejak muda, awal berpolitik. Sedikit banyak dia pernah memberi kontribusi demi kebesaran Golkar. Kendati dia sebagai penerbit pers juga mengalami pemberedelan karena kritik-kritiknya yang sering tidak disukai penguasa ketika itu. Karena itu, pilihannya maju sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar dimaksudkannya pula sebagai upaya untuk menyelamatkan partai kebanggaannya itu dari hantaman para penentang.

Surya Paloh memilih Partai Golkar kendaraan menuju kandidat calon RI-1 karena selama 35 tahun berpolitik itulah satu-satunya partai yang pernah dia singgahi. Dia sudah cukup senior semenjak berusia 17 tahun. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Surya salah satu kadder yang paling senior hingga Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG) miliknya lebih tua usianya dibanding sang ketua umum sendiri, Akbar Tandjung.

Dan sekalipun partai berikut ketua umumnya dalam pandangan orang dianggap bermasalah, namun sebagai kader senior Golkar, kondisi tersebut justru sangat menantang baginya untuk semakin berkiprah dalam Golkar. Dia adalah kader yang dibesarkan sekaligus pernah pula dikucilkan oleh Golkar saat hak-hak perdatanya dicaplok.

Oleh Golkar, Surya saat masih berusia 19 tahun sudah dicalonkan sebagai caleg DPRD Tk. II Medan pada Pemilu 1971. Ketika itu, secara elegan akhirnya dia mundur dari pencalonan sadar jam terbangnya sebagai politisi muda masih harus ditambah. Surya mundur untuk sekaligus menaikkan target ke Senayan berebut kursi DPR/MPR.

Di kemudian hari terbukti saat dicalonkan kembali menjadi anggota DPR/MPR RI, dia akhirnya tembus ke Senayan Jakarta menjadi anggota MPR RI saat usia masih sangat belia, 25 tahun. Demikian pula di usia 30 tahun terpilih kembali ke MPR.

Walau sudah matang sebagai politisi muda yang pantas diperhitungkan di pentas politik nasional, dalam usianya sudah 35 tahun, pada Pemilu 1987 Surya tetap dicalonkan namun urung dilantik karena Prioritas, koran yang dipimpinnya dibredel. Total, sebagai kader senior Golkar sedikit-dikitnya sudah lima kali Pemilu dia dicalonkan menjadi anggota legislatif.

Era reformasi yang membuka kesempatan pemilihan presiden secara langsung, memantik kreatifitasnya mencetuskan gagasan Konvensi Calon Presiden Partai Golkar. “Ini, kita lahirkan, lalu kita perjuangkan untuk bisa diterima oleh Partai Golkar,” ujarnya.

Gagasan memperjuangkan eksistensi Golkar sering dibicarakannya. Di antaranya dalam percakapan dengan Akbar tandjung di awal tahun 2001. Surya menyebutkan, “Yang terpenting, saya kira, sudah saatnya Bung Akbar lebih tegas. Euforia politik yang berlebihan, seperti terus menerus menghujat Golkar, sudah harus diakhiri. Semua orang prihatin terhadap peristiwa perusakan dan pembakaran kantor DPD Golkar di Jawa Timur. Saya benar-benar sedih. Karena proses reformasi yang seharusnya dapat memperkuat pilar-pilar demokrasi, justru dirusak dengan tindakan anarkistis.”

Sebagai penggagas Konvensi Capres Golkar, dia pun ikut mencalonkan diri. “Kita ikut. Ini satu proses pendidikan politik di Partai Golkar sendiri. Saya yakin juga, ini akan memberikan refleksi yang berarti kepada partai politik lainnya dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Mengikuti konvensi, baginya sama sekali tidak mesti mendapatkan jabatan presiden itu. Tetapi juga merupakan suatu proses pendidikan politik dan peningkatan citra Golkar. “Di situ ada nilai yang harus kita berikan, sacrifice dari diri kita, pengorbanan. Tidak melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang luxurious yang harus kita timang-timang dan kita pertahankan sepanjang masa. Sebaliknya, kalau kita tidak mendapatkan jabatan itu, tetaplah kita seperti apa adanya sekarang.”

Baginya, mengikuti proses pencalonan presiden adalah suatu panggilan jiwa sebagai salah satu alternatif pemimpin bangsa yang memiliki otoritas kepemimpinan penuh berkat dukungan rakyat. Sebab masa depan bangsa ini harus segera dijemput.  ►haposan/mlp/crs

Kategori: Bisnis
Ditandai: , ,

Raja Penjual Mimpi Bertangan Dingin

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Raam Jethmal Punjabi

Perjuangannya dimulai dari titik nol. Dia raja sinetron penjual mimpi bertangan dingin. Dia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Kota Pahlawan memberinya banyak kenangan dan inspirasi untuk meraih sukses.

Kota Surabaya di pertengahan tahun 1950-an, akan terus terpatri dalam ingatan seorang laki-laki keturunan India. Tentang seorang bocah kecil belasan tahun bernama Raam yang menyelinap ke dalam sebuah bioskop untuk memuaskan kegandrungannya menonton film. Sang penjaga bioskop yang baik membantu menyelundupkannya masuk ketika lampu-lampu sudah dipadamkan dan membantunya keluar sebelum lampu-lampu menyala kala film usai.
Laki-laki itu, Raam Punjabi, adalah si bocah yang gandrung film. Kini, ia tak lagi harus menyelundup diam-diam hanya untuk menonton film-film yang disukainya. Dialah yang kini disebut-sebut merajai dunia sinetron di televisi. Berbagai film dan sinetron yang sukses lahir dari tangan dinginnya.
Diakuinya, ketertarikan anak ketiga dari tujuh putra-putri pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi ini pada dunia perfilman sudah dirasakannya sejak ia masih kecil. Hobinya yang paling menonjol tentu saja menonton film dan ia punya kebiasaannya keluar masuk bioskop.
Dalam beberapa hal, persahabatan itu seperti cerita film “Cinema Paradiso” karya Tornatore, sebuah film indah tentang kenangan. Bedanya, di dalam “Cinema Paradiso”, persahabatan terjalin antara si bocah dan proyeksionis, sedangkan pada Raam kecil dengan penjaga pintu.
Raam pun berkisah, ”Pernah imbalannya saya boleh menonton, tetapi si penjaga pintu pinjam sepeda saya. Eh, sampai film selesai pukul dua belas malam, dia tidak kembali. Saya pulang ke rumah dimarahi Ayah.”
Tentu saja hal itu tidak membuatnya kapok. Ia kembali pergi ke bioskop, menemui sahabatnya si penjaga pintu dan menyelundup ke dalam bioskop setelah lampu padam.
Raam mengenang masa kecilnya di Surabaya sebagai masa yang indah dan penuh romantisme. Rumah orangtuanya terletak di kawasan Pasar Besar. Rumah itu merangkap toko ayahnya. Di lantai bawah, sang ayah berjualan karpet. Raam juga masih ingat, di masa itu masih ada trem atau kereta listrik sebagai alat transportasi yang digemari masyarakat di kotanya.
Pengalaman yang selalu membuatnya geli selain menonton bioskop diam-diam adalah mencuri mangga yang pohonnya berada di halaman sebuah rumah sakit. Kesukaannya pada film juga disalurkannya dengan ikut serta menonton film gratis yang diputar khusus untuk tentara.

Pencipta tren
Raam Jethmal Punjabi lahir di Surabaya, 6 Oktober 1943. Awalnya ia tidak serta merta berkecimpung di dunia perfilman. Dari tahun 1962-1963, ia bekerja di sebuah perusahaan tekstil. Pada tahun 1964 ia merintis sebuah usaha impor tekstil sampai pada akhirnya pada tahun 1969 ditinggalkannya.
Pada tahun 1967, Raam bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film dengan modal Rp 30 juta. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Panorama Film (1971-1976) yang bersama PT Aries Internasional Film memproduksi film “Mama” karya sutradara Wim Umboh.
Film yang dibuat tahun 1972 itu merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke pasar. Tak putus asa, Raam kembali memproduksi film “Demi Cinta” yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Lagi-lagi film produksi keduanya ini termasuk biasa-biasa saja dalam peredarannya. Namun bintang terang menyinarinya saat memproduksi film ketiga berjudul “Pengalaman Pertama.” Film ini dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby Sugara.
Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri & Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Ia dikenal bisa membaca selera pasar dan menjadi trend setter perfilman. Pada tahun 1980-an ketika kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk, Raam malah sukses menelurkan film komedi di jagat perfilman Indonesia dengan menampilkan bintang komedi pada saat itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu Dono, Kasino dan Indro. Malah sejak itu film komedi menjadi tren dan banyak produser mengekor membuat film-film komedi.
Tahun 1981, Raam mendirikan PT Parkit Film. Dan dalam jangka waktu 17 tahun karirnya sebagai produser, ia sudah memproduksi lebih dari 100 film. Bahkan, sekitar tahun 1989 kala kondisi perfilman Indonesia benar-benar hancur, Raam tidak kehilangan akal. Dengan segala daya kreatifnya, ia segera beralih ke dunia sinetron yang pada saat itu baru dikenal sebagai jenis tontonan baru. Kebetulan, di saat hampir bersamaan muncul stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI.

Bagi Raam yang jeli, hal itu merupakan peluang yang baik bagi terobosannya. Terbukti kemudian, serial sinetron komedi “Gara-Gara”, yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon yang diproduksinya sukses. Melambungkan kembali nama Lydia Kandou dan menambah ketenaran Jimmy Gideon tidak hanya sebagai pelawak, tetapi juga pemain sinetron komedi.
Kesuksesan demi kesuksesan mendorongnya mendirikan rumah produksi PT Tripar Multivision Plus dengan modal Rp 250 juta pada tahun 1990. Rumah produksi ini juga memproduksi sinetron-sinetron yang sukses digemari masyarakat.
Hingga tahun 2000-an tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Raam Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron. “Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi, dengan Raam yang berada di singgasana”, kata S. Sinansari Ecip dalam resonansinya di harian Republika, 28 Maret 2000.
Pada tahun 2004, Raam Punjabi menerbitkan biografinya yang berjudul “Panggung Hidup Raam Punjabi.” Buku itu memuat begitu banyak pengalamannya sampai menjadi sukses sebagai raja sinetron seperti sekarang. RH

Raam Jethmal Punjabi (2)
Dari Lingerie ke Layar Kaca

Di satu sisi ia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya.

Berkunjung ke kantor Multivision Plus, rumah produksi Raam Punjabi, maka kita akan menemukan beberapa wajah jelita dan ganteng para artis sinetron yang tengah diproduksinya tengah mengurus masalah kontrak atau hal-hal lain di kantor itu.
Paras yang rupawan memang ciri khas yang begitu menonjol dan tak dapat ditanggalkan dari sinetron-sinetron yang diproduksi Raam Punjabi. Semua artis pemainnya memiliki paras yang cantik dan ganteng. Cerita-cerita sinetronnya kebanyakan tentang tokoh-tokoh berwajah rupawan dari kelas menengah ke atas dan jalinan kisahnya sendiri terkadang terlalu dibuat-buat dan jauh dari realita. Hal itu menyebabkan berbagai kritik dilontarkan pada sinetron hasil rumah produksinya. Namun Raam tidak bergeming.
Bukan sekali Raam dituduh sebagai ”penjual mimpi”. Diakuinya sendiri, artis yang main di sinetronnya, apa pun perannya, harus cantik. ”Jangankan artis, di kantor saya semua cantik-cantik,” katanya sambil tertawa.
Namun bukan berarti ia mau menerima tuduhan menjual mimpi.
”Kalau saya gagal dalam usaha, bisa nggak saya pasang tulisan di sini: Toko Penjual Mimpi. Tidak mungkin, kan? Adakah orang yang membeli mimpi? Tetapi, kalau saya taruh di situ Raam Punjabi Penjual Harapan, saya jamin banyak yang datang. Persentase mimpi menjadi kenyataan itu nol koma sekian persen, tetapi kalau harapan jadi kenyataan itu banyak,” katanya panjang lebar.
Menurutnya, istilah ‘menjual mimpi’ itu salah. Namun meski ia ingin sekali menjelaskan perbedaan antara mimpi dan harapan yang dimaksudnya, Raam mengaku tidak punya cara dan waktu untuk menyosialisasikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Ia hanya percaya pada karya dan perbuatan.
Apapun tuduhan orang, tidak bisa dipungkiri bahwa Raam amat konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Itulah kunci kesuksesannya sebagai raja sinetron saat ini.
Bukan berarti apa yang dijalaninya terasa mudah. Raam pernah merasakan pahit getir dan susahnya kehidupan ketika usianya masih relatif muda. Di usia belasan, ayahnya meninggal dunia. Dengan restu ibunya, Raam muda nekat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Awal kehidupan di Jakarta dia lalui dengan menjadi pegawai toko kain di kawasan Pasar Baru. Setelah itu, Raam mencoba berjualan sendiri dengan cara door to do. Barang yang dijualnya antara lain kemeja merek Arrow, juga lingerie alias pakaian dalam wanita.
Soal pengalamannya menjual lingerie inilah maka Raam sambil tertawa berkata, “Dengan hanya melihat luarnya, saya bisa tahu ukuran seorang wanita.”
Setelah menikahi Rakhee, Raam dan isterinya mengarungi pasang surut dunia perfilman. Pada awal tahun 1970-an, saat dunia perfilman Indonesia mulai ramai, Raam memulai debut dengan memproduksi film “Mama”. Film berbiaya besar yang disutradarai Wim Umboh itu ternyata gagal.
Disinilah konsistensi Raam diuji. Ternyata ia tidak pernah menyerah. Setelah terus mencoba, akhirnya kesuksesan diraihnya saat memproduksi film-film bergenre komedi. Film-film yang dibintangi Wakop DKI (Dono-Kasino-Indro) itu antara lain berjudul: “Dongkrak Antik”, “Maju Kena Mundur Kena”, “Gantian Dong”, sampai sekarang masih sering diputar ulang di televisi.
Zaman film layar perak berganti dengan sinetron dan Raam tetap survive. Sinetron “Gara-gara” yang sukses disusul sinetron komedi seperti “Tuyul dan Mbak Yul”, juga sinetron drama seri, diantaranya “Doaku Harapanku.”
”Di dunia hiburan, kalau mau bikin komedi Anda harus ciptakan salah pengertian. Kalau mau bikin drama percintaan, Anda harus ciptakan saling pengertian,” kata Raam.

Soal moralitas
Saat ini, dunia hiburan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat adalah sinetron. Kegandrungan masyarakat di kota dan desa terhadap sinetron digerakkan oleh cita rasa yang sama. Baik film maupun sinetron, telah menjadi magnet yang menyedot kesadaran penontonnya. Ini budaya massa yang didalamnya terkandung ikon-ikon yang pengaruhnya menghujam kesadaran pemirsa.
Tanpa disadari apa yang disuguhkan sinetron kerap ditiru oleh penontonnya. Dari hal-hal yang ringan seperti mode pakaian, rambut, sepatu dan aksesoris sampai hal-hal yang patut dipertimbangkan seperti etika, moral dan tingkah laku.
Di tengah-tengah gempuran aneka judul sinetron yang diputar setiap hari, menjadi sulit menyaring mana sinetron yang berdampak baik maupun buruk bagi penontonnya.
Raam Punjabi, sang raja sinetron yang sinetronnya paling banyak bertaburan di televisi kemudian ikut dituding sebagai salah satu pihak yang ikut menyebabkan degradasi moral. Sinetron Raam kerap kali mengeksploitasi kemewahan gaya masyarakat urban kota metropolitan. Disusul kemudian, salah satu film Raam yang berjudul “Buruan Cium Gue” pernah menimbulkan polemik dan akhirnya dicabut dari peredaran.
Namun, Raam Punjabi berkilah pihaknya tidak pernah membuat produk sinematografi yang merusak moral bangsa Indonesia. Menurutnya, tidak ada satupun rumah produksi yang punya tujuan dan niat merusak moral dan akhlak bangsa, serta merusak jalan pikiran orang. Semua beranjak dari satu niat yang murni untuk memberikan hiburan dan sesuatu yang baik bagi masyarakat.
Raam menampik anggapan masyarakat bahwa produk sinetron dan film yang dia hasilkan hanya semata menjual kemewahan dan mimpi.
”Yang saya ingin bangkitkan adalah harapan dan semangat dan itu terlihat jelas dalam produk kita,” ujarnya.
Menurut dia, wajar saja bila ada masyarakat yang menolak sinetron dan filmnya karena tidak sesuai dengan moral dan nilai-nilai ketimuran. Beda pendapat sah-sah saja dan selera berbeda itu tidak apa-apa. Kalau ada yang merasa produk itu tidak cocok dengan seleranya dan tidak mau menonton itu hak masing-masing.
Multivision Plus sesungguhnya tidak selalu memproduksi kisah-kisah bertabur kemewahan. Tahun 2001, mereka memproduksi sinetron serius yang diberi judul “Tiga Perempuan”. Pemeran utamanya dipercayakan kepada Christine Hakim dengan sutradara Maruli Ara. Mereka juga pernah memproduksi sinteron yang berjudul “Bukan Perempuan Biasa”, sebuah sinetron yang juga menampilan Christine Hakim sebagai pemeran utama di bawah arahan sutradara kondang Jajang Pamuntjak.
Raam hanya mencoba untuk membuat sinetron atau film yang disukai, diinginkan dan menjadi tren masyarakat sesuai dengan komitmennya memajukan industri sinetron dan film Indonesia.
Komitmen, semangat dan kegigihan dari seorang Raam Punjabi patut diteladani. Dari seorang penjual lingerie menjadi raja sinetron, bukankah itu sesuatu yang luar biasa? ►e-ti/rh, dari berbagai sumber.

Kategori: Bisnis
Ditandai: , ,

Pernah Jadi Orang Terkaya Asia

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudono Salim (Liem Sioe Liong)

Pengusaha Sudono Salim, yang bernama asli Liem Sioe Liong, sempat menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Bahkan, konglomerat yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Soeharto, ini sempat masuk daftar jajaran 100 terkaya dunia. Setelah krisis ekonomi dan reformasi politik, kekayaannya menurun.Dia pun memilih lebih lama tinggal di Singapura, setelah rumahnya Gunung Sahari Jakarta dijarah dan diobrak-abrik massa reformasi. Kerusuhan reformasi 13-14 Mei 1998, itu tampaknya membuat Oom Liem trauma tinggal di Indonesia.

Walaupun kadang kala dia masih datang ke Indonesia, tapi hampir tidak pernah lama.  Semua bisnisnya di Indonesia dikendalikan oleh anaknya Anthony Salim. Di bawah kendali Anthony Salim, belakangan kerajaan bisnisnya bangkit kembali dan tak mustahil akan kembali menjadi terkuat di Indonesia.

Sabtu 10-11 September 2005, Oom Liem merayakan hari ulang tahunnya yang ke-90 di Hotel Shangri-La Singapura. Acara berlangsung khidmat dan meriah dihadiri isteri, anak, cucu, dan kerabatnya. Dia tampak sehat dan bisa melangkah dengan sempurna. Dia juga menyampaikan sambutan dengan lancar.
Perayaan itu dihadiri sekitar 2.000 orang. Kebanyakan datang dari Indonesia dan sebagian dari Hongkong, Tiongkok, dan negara-negara lain. Para undangan mendapat pelayanan sebaik mungkin. Tidak hanya penginapan di Hotel Shangri-La, tetapi juga diberi tiket pesawat pulang-pergi (PP), meski banyak yang memilih membayar tiket sendiri.

Beberapa mantan pejabat dari Indonesia tampak hadir. Di antaranya Harmoko, Akbar Tandjung, Fuad Bawazier, Bambang Soebijanto, dan Agum Gumelar. Juga beberapa pengusaha seperti Mochtar Riyadi, Prajogo Pangestu, A Guan, Ciputra, Rachman Halim, dan Bintoro Tanjung.

Pesta perayaan HUT 90  itu diadakan dua malam berturut-turut. Pada hari pertama untuk teman-teman dan relasi bisnisnya yang datang dari Indonesia dan Tiongkok. Hari kedua untuk undangan dari Singapura, Amerika, dan Eropa. Kedua acara itu, antara lain, diisi pemutaran film dokumenter Oom Liem.

Film dokumenter itu mengisahkan perjalanan hidup Oom Liem. Di mulai tahun 1938, Tiongkok dilanda Perang Dunia Kedua. Lalu, Jepang menyerbu dengan kejamnya. Ketika itu banyak pemuda Tiongkok yang ingin menghindari perang, mereka pergi ke arah selatan (Indonesia).

Pemuda Liem yang kala itu berumur 21 tahun diperankan oleh aktor memakai kaus putih dan celana panjang putih memanggul bangkelan (karung kecil dari kain) yang berwarna putih jua. Beberapa saat anak muda Liem berdiri di atas bukit menghadap ke laut. Dia menatap ke laut yang luas. Di kejauhan, dia melihat sebuah kapal kecil yang sedang berlabuh. Dia melangkah menuju kapal itu dan naik.

Setelah berlayar sekian lama, kapal itu mendarat di Surabaya. Saat itu dia berharap akan dijemput kakaknya yang sudah lebih dulu merantau ke arah selatan (nusantara). Ternyata, harapannya tidak terpenuhi.

Selama empat hari dia tertahan di pelabuhan Surabaya. Tidak makan dan tidak minum. Imigrasi di Surabaya juga tidak membolehkannya keluar dari pelabuhan.

Sampai akhirnya, kakaknya datang menjemput. Liem dibawa ke Kudus untuk memulai bekerja di perusahaan rumahan,  membuat kerupuk dan tahu. Di Kudus Liem berkenalan dengan gadis asal Lasem. Gadis itu sekolah di sekolah Belanda Tionghoa. Liem melamarnya, tapi orang tua si gadis tidak mengizinkan, lantaran takut anak gadisnya akan dibawa ke Tiongkok. Kekuatiran itu timbul melihat tampang Liem yang masih totok.

Tapi, Liem tak mau menyerah. Akhirnya lamarannya diterima dan diizinkan menikah. Pesta pernikahannya, bahkan dirayakan selama 12 hari. Maklum, keluarga isterinya cukup terpandang.

Setelah menikah, Liem makin ulet bekerja dan berusaha. Usahanya berkembang. Tapi, ketika awal 1940-an, Jepang menjajah Indonesia, usahanya bangkrut. Ditambah lagi, dia mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya masuk jurang. Seluruh temannya meninggal. Hanya Liem yang selamat, setelah tak sadarkan diri selama dua hari.

Kemudian, Liem pindah ke Jakarta. Seirama dengan masa pemerintahan dan pembangunan Orde Baru, bisnisnya pun berkembang demikian pesat. Pada tahun 1969, Oom Liem bersama Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, yang belakangan disebut sebagai The Gang of Four, mendirikan CV Waringin Kentjana. Oom liem sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, ekspor kopi, lada, karet, tengkawang dan kopra serta mengimpor gula dan beras.

The Gang of Four ini kemudian tahun 1970 mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari pemerintah. Ketika pertama berdiri, PT Bogasari berkantor di Jalan Asemka, Jakarta dengan kantor hanya seluas 100 meter.

Kemudian tahun 1975 kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Perkasa. Pabrik ini melejit bahkan nyaris memonopoli semen di Indonesia. Sehingga kelompok ini sempat digelari Tycoon of Cement. Setelah itu, The Gang of Four ditambah Ciputra mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota mMandiri Bumi Serpor Damai.

Selain itu, Oom Liem juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif di bawah bendera PT Indomobil. Bahkan merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan Bank Central Asia (BCA) bersama Mochtar Riyadi. Belakangan Mochtar Riady membangun Lippo Bank.

Ketika itu, Oom Liem pernah jadi orang terkaya di Indonesia dan Asia. Serta masuk daftar 100 orang terkaya dunia.

Namun, seirama dengan mundurnya Presiden Soeharto dan akibbat terjadi krisis moneter, bisnis dan kekayaannya pun turun. Bahkan, Oom Liem terpaksa memilih bermukim di Singapura, setelah rumahnya di Gunung Sahari dijarah massa reformasi.

Setelah situasi kembali membaik, usahanya yang dipimpin puteranya Anthony Salim dan para manajer profesional, kembali mulai bangkit.  ► ti/tsl

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Raja Muda Bisnis Multimedia

November 2, 2007 · & Komentar

Hary Tanoesoedibjo

Hary Tanoesoedibjo, Presdir PT Bimantara Citra Tbk dinobatkan Warta Ekonomi sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Disebut, tidak banyak orang yang sukses dalam industri media elektronik maupun cetak. Salah satunya adalah Hary Tanoesoedibjo. Tak heran bila kemudian dia dijuluki “Raja Muda Bisnis Multimedia”.
Warta Ekonomi 28 Desember 2005: Kiatnya? Tahun 1989 ada orang yang bertanya: Siapa sih Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo? Dia baru berumur 25 tahun ketika mulai bekerja di PT Bhakti Investama. Waktu itu Hary baru saja meraih gelar Master of Business Administration dari Carlton University, Kanada. Namun, kalau pada 2005 masih ada yang bertanya siapakah Hary Tanoesoedibjo, atau yang akrab dipanggil Hary Tanoe, rasanya keterlaluan. Sebab, dialah raja bisnis multimedia di Indonesia.
Julukan “Raja Bisnis Multimedia” memang kian lekat pada pria kelahiran 26 September 1965 ini. Apalagi sejak mengambil alih PT Bimantara Citra Tbk. tahun 2000 lalu, Hary mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Dan, mimpi itu terbukti. Kini Hary Tanoe mempunyai tiga stasiun TV swasta: RCTI, TPI, dan Global TV, juga stasiun radio Trijaya FM dan media cetak Harian Seputar Indonesia dan Majalah Ekonomi.

Di bawah naungan PT Media Nusantara Citra (MNC), tak sampai lima tahun, Hary berhasil menguasai saham mayoritas di tiga stasiun TV tersebut. Saham MNC sendiri 99,9% dimiliki oleh Bimantara Citra, grup usaha yang dahulunya dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, putra mantan Presiden Soeharto.
Sejak memiliki Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Ditambah lagi, Hary mempunyai kemampuan menentukan perusahaan-perusahaan media mana yang berpotensi untuk berkembang. Selain itu, banyak orang mengakui, kunci sukses Hary terletak pada kemampuannya menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Ini terbukti ketika pria yang kabarnya pernah tidak naik kelas di masa SMA ini membenahi Bimantara yang terbelit utang.
Sebelumnya, Bimantara juga memiliki stasiun radio Trijaya FM. Belakangan, untuk menambah eksistensinya dalam dunia media, Bimantara juga menerbitkan media cetak. Sampai saat ini ada majalah, tabloid, dan koran yang bergabung di bawah bendera Grup Bimantara. Ada majalah ekonomi dan bisnis Trust, tabloid remaja Genie, dan pertengahan 2005 lalu menerbitkan harian Seputar Indonesia.
Ke depan, MNC diproyeksikan menjadi perusahaan subholding yang bertindak sebagai induk media penyiaran di bawah Grup Bimantara. MNC juga bakal menjadi rumah produksi yang akan memasok acara-acara ke RCTI, TPI, Global TV, dan semua jaringan radionya. Selain itu, MNC akan membangun jaringan radio nasional di seluruh wilayah Tanah Air.

Maka, tak heran kalau, kabarnya, sepanjang tahun 2005 ini Hary telah menyiapkan dana sekitar US$20 juta untuk mewujudkan mimpinya melalui MNC tersebut. Bahkan, jika tidak ada halangan, seharusnya pada 2005 ini perusahaan MNC sudah bisa dijumpai di lantai bursa atau go public. Namun, tampaknya, sampai saat ini rencana untuk menambah modal melalui initial public offering belum kesampaian. (divera wicaksono)

***

Mr. Tanoesoedibjo was born in Surabaya in 1965. Mr. Tanoesoedibjo has successfully led the change of PT Global Mediacom Tbk from a conglomerate into a company with a focus on the Media and Telecommunication sectors.

Mr. Tanoesoedibjo has occupied the position as President Director of PT Global Mediacom Tbk since 2002. Mr. Tanoesoedibjo was previously the Vice President Commissioner of PT Global Mediacom Tbk. Mr. Tanoesoedibjo is the founding and controlling shareholder as well as the Group Executive Chairman of PT Bhakti Investama Tbk since 1989. In addition, he currently holds various positions in other companies, including as President Directors of PT Media Nusantara Citra (MNC) and PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) (a position he has held since 2003) and a member of the Board of Commissioners of PT Mobile-8 Telecom, Indovision and many other companies within the Global Mediacom group of companies as well as Bhakti Investama Group.

Mr. Tanoesoedibjo is currently serving as the General Treasurer of National Sports Committee (KONI). He has been a speaker in various seminars as well as a lecturer of Corporate Finance, Investments and Strategic Management for post graduate programs in various universities.

Mr. Tanoesoedibjo received a Bachelor of Commerce (Honours) degree from Carleton University, Ottawa, Canada, in 1988 and a MBA degree from Ottawa University, Ottawa, Canada, in 1989. (bimantara)

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Si Pengembang yang Menggeliat Kembali

November 2, 2007 · 1 Komentar

Ir. Ciputra

Keran KPR yang mulai mengucur, membuat aktivitas PT Ciputra Development terdengar lagi. Kelompok usaha ini semakin giat beriklan. Akankah Ciputra segera berjaya kembali? Akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini, sebagaimana kebanyakan pengusaha properti lainnya, Ciputra pun harus melewati masa krisis dengan kepahitan. Padahal, serangkaian langkah penghematan telah dilakukan. Grup Ciputa (GC), misalnya, terpaksa harus memangkas 7 ribu karyawannya, dan yang tersisa cuma sekitar 35%.

Lantas, semua departemen perencanaan di masing-masing anak perusahaan segera ditutup dan digantikan satu design center yang bertugas memberikan servis desain kepada seluruh proyek. Jenjang komando 9 tingkat pun dipotong menjadi 5. Akibatnya, banyak manajer kehilangan pekerjaan. Lebih pahit lagi: kantor pusat GC yang semula berada di Gedung Jaya, Thamrin, Jakarta Pusat, terpaksa pindah ke Jl. Satrio — kompleks perkantoran milik GC. Paling tidak, dengan cara semacam itu, GC bisa menghemat Rp 4 miliar/tahun.

Sementara Harun dan tim keuangannya — setelah susut menjadi 7 orang dan gajinya dipotong hingga 40% — hengkang ke salah satu lantai Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tempat itu, mereka menyewa beberapa ruangan. Selebihnya, kabar yang menjadi rahasia umum: utang GC macet total.

Menurut Harun, para petinggi CD waktu itu sadar betul kondisi yang ada tidak bakalan berubah secepat yang dibayangkan. Soalnya, berlalunya krisis moneter yang belakangan bermetamorfosis menjadi krisis multidimensional sejatinya berada di luar kendali mereka. Celah yang masih terbuka hanyalah konsolidasi internal dan restrukturisasi perusahaan.

Maka, selain memangkas biaya operasional secara drastis, CD pun segera menerapkan strategi pemasaran baru: menjual kapling siap bangun. Kata Harun, selain CD kala itu hanya menyimpan sedikit stok rumah siap huni, perubahan strategi pemasaran ini juga dilakukan untuk membidik konsumen berkantong tebal. Maklumlah, mengharapkan KPR ibarat pungguk merindukan bulan. Adapun yang tersisa, ya itu tadi, pasar kalangan kelas menengah-atas. Mereka biasanya lebih suka membeli kapling karena dapat menentukan sendiri desain rumahnya.

Keuntungan lain menjual kapling tanah: berkurangnya biaya operasional. Masih menurut Harun, dengan menjual kapling siap bangun, CD cuma berkewajiban menyediakan infrastruktur seperti telepon, air, listrik dan jalan. Memang, ketimbang membangun rumah siap huni, biaya penyediaan infrastruktur relatif jauh lebih murah. Dalam perhitungan Harun, biaya yang dikeluarkan per m2-nya cuma Rp 90 ribu.

Sementara itu, bila membangun rumah siap huni, CD mesti siap menerima kenyataan jika harga bahan-bahan bangunan meningkat pesat. Besi, misalnya. Setelah kurs rupiah terhadap US$, harganya naik 60%. Sementara semen dan keramik, masing-masing meningkat menjadi 40% dan 30%. Jadi, “Tak ada alasan tidak menerapkan strategi itu,” ujar Harun. Kebijakan itu berlaku di Jakarta dan di Surabaya.

Guna mendukung strategi di atas, program-program above the line juga tak luput dikoreksi. Hasilnya, dari monitoring yang dilakukan, para petinggi CD akhirnya berkesimpulan, mubazir bila beriklan gencar di masa krisis. “Seperti membunuh tikus dengan memakai bom,” jelas Harun. Alhasil, pilihan kemudian jatuh pada penjualan langsung. Bahannya diolah dari database konsumen milik CD. Dan supaya lebih terarah, database diolah lewat pembentukan klub-klub penjualan, di Jakarta maupun Surabaya.

Namun, apa daya, meski harga kapling siap bangun belum dinaikkan dan tim pemasaran bekerja sekeras mungkin, toh strategi itu tidak langsung membuahkan hasil yang memuaskan. Lebih dari Tiga bulan, konsumen yang tertarik dengan ratusan hektare tanah matang milik CD yang dijual dalam bentuk kapling siap bangun — dari total 1.800 har landbank (tanah mentah) CD yang tersebar di Jakarta dan Surabaya — bisa dihitung dengan jari.

Kata Harun, petinggi CD lagi-lagi sadar para pemilik uang sesungguhnya lebih memilih mendepositokan uangnya ketimbang membeli kaping siap bangun. Maka, “Tahun 1998 adalah tahun yang paling sulit yang pernah dilalui CD,” kenangnya. Masalahnya, uang yang masuk selama setahun cuma Rp 40 miliar.

Itulah nilai total hasil penjualan lima proyek perumahan di Jakarta dan Surabaya milik CD. Jelas, ketimbang tahun-tahun sebelumnya, saat kondisi ekonomi masih normal, kenyataan tersebut benar-benar menyakitkan. Sebelum krisis, dari satu proyek saja, CD bisa meraup uang sebanyak Rp 10 miliar/bulan. Artinya, angka Rp 40 miliar tersebut biasanya dicapai hanya dalam sebulan.
Yang lebih menyesakkan, menurut sumber SWA, Pak Ci ikut-ikutan menambah beban psikologis pasukannya. Hampir setiap hari CEO GC itu uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Seingatnya,waktu itu Pak Ci jarang bertanya kepada anak buahnya bagaimana sebenarnya kondisi di lapangan. “Ia malah seperti tak habis-habisnya melakukan pressure kepada timnya,” jelas si sumber.

Dan lucunya lagi, bahkan di luar dugaan banyak orang — sang sumber sendiri kaget luar biasa — Pak Ci sampai-sampai “menodong” seorang pemuka agama agar jemaat gerejanya membeli kapling siap bangun di salah satu proyek perumahan CD. “Benar-benar tidak masuk akal,” ungkap sumber. Benarkah? “Bohong. Kalau stres, siapa yang tidak stres waktu itu,” bantah Harun.

Untunglah, bersamaan turunnya suku bunga deposito di awal 1999, strategi itu mulai menampakkan hasil. Kecil memang, tapi, “Kami sudah mulai sibuk,” ujar Harun. Ia menunjuk aktivitas penjualan kapling siap bangun, khususnya yang di Surabaya. “Di kota ini, penjualannya cukup bagus.”

Sayang, Harun tak bersedia menyebutkan nilai transaksi di Kota Buaya. Yang jelas, tidak seperti di Jakarta, jumlah item kapling siap bangun yang ditawarkan CD di Surabaya lumayan variatif. Dari segi luas contohnya, 1.200-2.000 m2 dengan harga jual minimal: Rp 600 ribu/meter2. Selain itu, ada pula kapling golf — posisinya berhadapan atau di sekitar lapangan golf. “Kapling jenis ini, sekalipun lebih mahal, tampak paling disukai,” jelas Harun.

Bagaimana dengan Jakarta? Kendati kapling yang dijual hanya berukuran 200-500 m2, angka penjualannya tidak sebagus di Surabaya. Dan kapling yang disukai konsumen kebanyakan yang berukuran 400 m2 seharga Rp 225-500 ribu/m2. Menurut Harun, hal itu terjadi karena tingkat persaingan di Jakarta lebih ketat ketimbang di Surabaya. Soalnya, “Ada banyak proyek serupa di sini,” ujarnya. Dan, yang lebih penting, kapling golf bukanlah hal yang istimewa bagi banyak konsumen metropolitan. “Jadi, penawaran kami sama seperti yang lain. Karena itu pula, bisa jadi konsumen mencari yang lebih murah.”

Seperti yang sudah-sudah, tutur menantu Ciputra itu, kebutuhan konsumen di Jakarta sejatinya adalah rumah siap huni yang dilengkapi fasilitas KPR. Karena itu, bermodalkan pendapatan hasil penjualan kapling siap bangun plus tersedianya sarana KPR, CD pun mulai menggiatkan pembangunan rumah siap huni, di Citra Raya Tangerang, Citra Indah Jonggol, Citra Grand Cibubur ataupun Citra Cengkareng.

Bersamaan waktunya, CD pun kembali rajin beriklan. Namun, tidak seperti tiga tahun lalu, kini belanja iklannya diatur ketat. Indikator pertama yang dihitung sebelum mengeluarkan uang untuk berpromosi di berbagai media cetak adalah jumlah total hari libur dalam setiap bulan. Yang jelas, sebulan CD beriklan tak lebih dari tiga kali. “Bukan apa-apa. Kami hanya ingin iklan itu bisa efektif mencapai sasaran,” katanya. Ia menambahkan, klub-klub penjualan yang dulu sempat dibentuk tetap diteruskan.

Hanya saja, lagi-lagi sayang, Harun mengaku tidak ingat persis jumlah uang yang masuk ke kocek CD setelah perusahaan properti yang dipimpinnya itu kembali rajin beriklan. Ia hanya mengatakan, “Cash flow kami cukup aman.” Ditambah semakin membaiknya daya beli konsumen, Harun pun optimistis, CD dan GC bisa berkibar kembali. Namun, tentu saja, ia mengaku, “Tidak seperti dulu lagi.”

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

CEO Garudafood Group

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudhamek AWS


Chief Executive Officer (CEO) Garudafood Group, ini terpilih sebagai salah satu “CEO Idaman 2005” versi majalah Warta Ekonomi. Sebelumnya, Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) kelahiran Rembang 20 Maret 1956, ini terpilih sebagai Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young. Sudhamek AWS pun menjadi salah satu dari 34 peserta kontes World Entrepreneur of the Year (WEOY) 2005 di Monte Carlo, Monaco 28 Mei 2005.

Dinilai memiliki karakter entrepreneur sukses dan tangguh, Sudhamek dinobatkan sebagai Entrepreneur of the Year (EoY) 2004 versi Ernst & Young setelah menyisihkan finalis lainnya oleh Dewan juri yang terdiri dari Mari Pangestu, Eva Riyanti Hutapea, Noke Kiroyan, Stanley Atmadja dan Sihol Siagian.

Sudhamek AWS

Peduli, Bencana di Aceh-Nias

Setibanya dari perjalanan spiritual bersama keluarga di Bangalore, India, Senin pagi 27 Desember 2004, Sudhamek AWS memutuskan harus berbuat sesuatu untuk korban gempa dan Tsunami di Aceh dan Nias.

Keprihatinan atas terjadinya gempa dan badai Tsunami, serta keinginan untuk membantu korban terus berkecamuk dalam benaknya. Serta merta dia terdorong untuk segera “terbang” ke Aceh. Fisik yang letih selepas menempuh perjalanan jauh selama sepekan lebih dan belum sepenuhnya pulih dari sakit harus mengalah pada kuatnya dorongan untuk bisa melakukan tugas-tugas kemanusiaan. ►e-ti

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Putera Sampoerna Penjemput Pasar Masa Depan

November 2, 2007 · & Komentar

Putera Sampoerna, mengguncang dunia bisnis Indonesia dengan menjual seluruh saham keluarganya di PT HM Sampoerna senilai Rp18,5 triliun, pada saat kinerjanya baik. Generasi ketiga keluarga Sampoerna yang belakangan bertindak sebagai CEO Sampoerna Strategic, ini memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.

Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Sehingga pantas saja Warta Ekonomi menobatkan putra Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) ini sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Sebelumnya, majalah Forbes menempatkannya dalam peringkat ke-13 Southeast Asia’s 40 Richest 2004.

Putera Sampoerna, pengusaha Indonesia kelahiran Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947. Dia generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Adalah kakeknya Liem Seeng Tee yang mendirikan perusahaan rokok Sampoerna. Putera merupakan presiden direktur ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna itu. Dia menggantikan ayahnya Aga Sampoerna.

Kemudian, pada tahun 2000, Putera mengestafetkan kepemimpinan operasional perusahaan (presiden direktur) kepada anaknya, Michael Sampoerna. Dia sendiri duduk sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk, sampai saham keluarga Sampoerna (40%) di perusahaan yang sudah go public itu dijual kepada Philip Morris International, Maret 2005, senilai Rp18,5 triliun.

Pria penggemar angka sembilan, lulusan Diocesan Boys School, Hong Kong, dan Carey Grammar High School, Melbourne, serta University of Houston, Texas, AS, itu sebelum memimpin PT HM Sampoerna, lebih dulu berkiprah di sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Kala itu, dia bermukim di Singapura bersama isteri tercintanya, Katie, keturunan Tionghoa warga Amerika Serikat.

Dia mulai bergabung dalam operasional PT. HM Sampoerna pada 1980. Enam tahun kemudian, tepatnya 1986, Putera dinobatkan menduduki tampuk kepemimpinan operasional PT HAM Sampoerna sebagai CEO (chief executive officer) menggantikani ayahnya, Aga Sampoerna.

Namun ruh kepemimpinan masih saja melekat pada ayahnya. Baru setelah ayahnya meninggal pada 1994, Putera benar-benar mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan dan naluri bisnisnya secara penuh. Dia pun merekrut profesional dalam negeri dan mancanegara untuk mendampinginya mengembangkan dan menggenjot kinerja perusahaan.

Sungguh, perusahaan keluarga ini dikelola secara profesional dengan dukungan manajer profesional. Perusahaan ini juga go public, sahamnya menjadi unggulan di bursa efek Jakarta dan Surabaya. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudera luas berombak besar, PT HM Sampoerna berhasil mengarunginya dengan berbagai kiat dan inovasi kreatif.

Tidak hanya gemilang dalam melakukan inovasi produk inti bisnisnya, yakni rokok, namun juga berhasil mengespansi peluang bisnis di segmen usaha lain, di antaranya dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan sempat mendirikan Bank Sampoerna akhir 1980-an.

Di bisnis rokok, HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air, yakni rokok rendah tar dan nikotin. Pada 1990-an, itu Putera Sampoerna dengan kreatif mengenalkan produk rokok terbaru: A Mild. Kala itu, Putera meluncurkan A Mild sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”, di tengah ramainya pasar rokok kretek. Kemudian perusahaan rokok lain mengikutinya.
Dia memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan. Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Langkahnya yang paling sensasional sepanjang sejarah sejak HM Sampoerna berdiri 1913 adalah keputusannya menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International, Maret 2005.

Keputusan itu sangat mengejutkan pelaku bisnis lainya. Sebab, kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang. Dalam posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum.
Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu.

Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini ((Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang. Dia pun ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kriatif dan  revolusioner dalam bisnisnya. Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.
Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna. Juga terungkap dari ucapan Angky Camaro, orang kepercayaan Putera: “Arahnya memang ke infrastruktur dan agroindustri.”

Terakhir, di bawah bendera PT Sampoerna Strategic dia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun untuk sementara dia menolak melanjutkan negosiasi transaksi lantaran persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan. Dia pun dikabarkan akan memasuki bisnis jalan tol, jika faktor birokrasi dan kondisi sosial politik kondusif.  e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

H Probosutedjo Dapat Penghargaan MURI

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bandung (ANTARA News 30/08/07 16:23) – Setelah sukses melipatgandakan produksi pertanian dengan metode yang dihasilkannya, konglomerat H Probosutedjo mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas prestasinya itu.

Penghargaan itu disampaikan langung oleh Ketua MURI Jaya Suprana kepada Probosutedjo disela-sela lokakarya “Inovasi Pembudidayaan Padi Guna Meningkatkan Kondisi Sosio Ekonomi Pertani” yang digelar di Aula Lapas Sukamiskin Bandung, Kamis.

Menurut Jaya Suprana, penghargaan MURI itu patut diberikan kepada Probosutedjo sebagai pencipta metode Sukamiskin untuk melipatgandakan pertanian padi Nusantara dan sebagai penyelenggara lokakarya di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan.

“Selama ini kami baru mengetahui adanya inovasi pelipatgandaan produk pertanian yang bertujuan untuk mensejahterakan petani yang metodenya dihasilkan oleh pemikiran Probosutedjo dari balik jeruji Lapas Sukamiskin dan baru pertama kalinya penyelenggaraan lokakarya di dalam Lapas,” kata Jaya Suprana.

Ia mengaku salut dan mengacungkan dua jari jempol tangannya untuk Probosutedjo yang masih bisa berprestasi dan berkreasi meski yang bersangkutan dalam kondisi terpenjarakan.

“Kami berharap metode ini segera diadopsi oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat dalam meningkatkan produksi padi menuju swasembada beras,” katanya.

Sementara itu Probosutedjo yang dimintai komentaranya atas penghargaan yang diberikan MURI untuk hasil metode temuannya itu, mengatakan pihaknya menggagas metode ini hanya untuk kepentingan mensejahterakan rakyat dan petani miskin, bukan untuk mencari penghargaan MURI.

“Kalaupun mendapatkan penghargaan MURI, itu bukan tujuan utama atau tujuan pokok. Metode ini saya ciptakan untuk mensejahterakan petani miskin dan membantu pemerintah dalam swasembada beras,” ujarnya.

Probo mengatakan, gagasan ini boleh saja diterapkan menjadi salah satu program pemerintah dalam memberdayakan petani miskin, namun kalau pemerintah menolak, juga tidak menjadi masalah.

“Kalau pemerintah mau mengadopsi metode temuan kami silakan saja, tidak juga tak masalah,” ujarnya singkat.

Metode pelipatgandaan produksi pertanian temuan Probosutedjo itu sebagian sudah disosialisasikan dan disebarluaskan serta diujicoba kepada petani di Majalengka dan Sumedang.

Hasilnya, setiap hektar lahan sawah yang semula hanya memperoleh 4 hingga 5 ton satu kali panen, dengan metode Probo itu bisa memperoleh 8 hingga 10 ton per hektar per satu kali panen.(*)

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Anthony Salim Generasi Kedua Salim Group

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi kedua) terpilih sebagai salah seorang 10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Bank Central Asia, miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional 1998 itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52 trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung jawab.

Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum) dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indofood Sukses Makmu Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong, Thailand, Filipina, Cina dan India.
Salah satu upayanya mendongkrak penjualan mi instan produknya, dia menggandeng Nestle SA. Langkah ini dipercaya bisa mendongkrak nilai tambah Indofood, andalannya. Putra taipan Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata Anthony. Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle S.A. Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle.
Deal bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp50 miliar, dengan masing-masing pihak menyetor 50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,” kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham.
Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005 lalu, pada botol kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan tersebut. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood.
Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap makanan. Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal yang besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar kinerja perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata Anthony, sebenarnya aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak, hanya saja tidak terlihat. “Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis,” ungkapnya. (Evi Ratnasari, Warta Ekonomi, 28 Desember 2005) ►e-ti

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,

Tommy Winata Bos Grup Artha Graha

November 2, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bos Grup Artha Graha, Tomy Winata alias Oe Suat Hong, kelahiran Pontianak, 1958, salah seorang pengusaha sukses di negeri ini. TW, panggilan akrabnya, dikenal akrab dengan kalangan militer. Dia seorang yang ulet, memulai usahanya dari bawah, sejak remaja. Maklum, dia yatim-piatu, miskin. Tapi, kini dia seorang konglomerat yang sukses membangun imperium bisnis di bawah Grup Artha Graha.

Awalnya, 1972, pada usia 15 tahun, seseorang memperkenalkan TW kepada komandan rayon militer di Kecamatan Singkawang, Kalimantan Barat. Kemudian, buah perkenalan itu, TW dipercaya membangun kantor koramil di Singkawang.

Sejak itulah hubungan bisnisnya dengan militer terus berlangsung, terutama dengan beberapa perwira menengah dan tinggi. Dia sering dipercaya mengerjakan proyek, mulai dari membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya dan di tempat-tempat lain seperti Ujungpandang dan Ambon.

Keuletan dan kebersahajaan penampilannya yang jauh dari kesan mewah, perlente, tampaknya membuat mitra bisnisnya lebih mempercayainya. Sehingga dalam waktu sepuluh tahun, TW berhasil mengembangkan imperium bisnisnya. Dia mendirikan PT Danayasa Arthatama (1989). Perusahaan ini, bermitra dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, milik Angkatan Darat, membangun proyek raksasa Sudirman Central Business District (SCBD) yang menelan investasi US$ 3,25 miliar, direncanakan rampung 2007.

Di samping bergerak di bidang properti, bisnis TW juga meliputi perdagangan, konstruksi, perhotelan, perbankan, transportasi, dan telekomunikasi. Imperium usahanya sekurangnya terdiri atas 16 perusahaan.

Pria berdarah Taiwan ini memiliki sejumlah kapal pesiar dan ikut mengelola usaha pariwisata di Pulau Perantara dan Pulau Matahari di Kepulauan Seribu. Dalam kaitan ini, pada Mei 2000, dalam suatu acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta bersama Presiden Abdurrahman Wahid, ditenggarai di kapal pesiar dan Kepulauan Seribu itu ada judi besar-besaran. Sehingga Gus Dur bereaksi: “Tangkap Tomy Winata.”

Tapi, saat pihak aparat, bahkan Komisi B (Bidang Pariwisata) DPRD DKI Jakarta melakukan inspeksi mendadak ke pulau itu, tidak ditemukan bukti sebagaimana yang dituduhkan Gus Dur. Ternyata, Pulau Ayer dikelola Pusat Koperasi TNI Angkatan Laut, bekerjasama dengan PT Global.

Namanya sering dikaitkan dengan mafia judi bersandi ‘Sembilan Naga’ yang beroperasi di berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Makao. Namun, sampai sekarang belum ada bukti hukum yang menegaskan bahwa ia adalah raja judi. Bahkan, kepada Majalah Forum, November 2001, TW menegaskan “Sejak dulu dan sampai hari ini, tidak ada bisnis saya yang bergerak di bidang perjudian. Semua usaha saya legal dan resmi.”

Orang-orang di sekitarnya juga malah menyebutnya sebagai “orang baik” yang suka menolong kaum miskin. Sikapnya ramah dan terbuka. Bicaranya lugas, humornya tinggi. Penampilannya jauh dari kesan perlente. Jarang memakai jas dan dasi, laiknya konglomerat. Ayah lima anak ini lebih suka memakai setelan safari lengan pendek berwarna gelap.

Bisnis Benih Padi Hibrida

Belakangan Tommy Winata makin serius menggarap bisnis benih padi hibrida. PT Sumber Alam Sutera (SAS), anak perusahaan kelompok usaha Artha Graha, awal November 2006 menggandeng perusahaan China, Guo Hao Seed Industry Co Ltd.
Kongsi ini akan menanamkan US$5 juta untuk membangun Pusat Studi Padi Hibrida (Hybrid Rice Research Center) di Indonesia yang ditargetkan beroperasi April 2007, bekerja sama dengan Badan Penelitian Padi (Balitpa) Departemen Pertanian. Penandatanganan nota kesepahaman terkait kerja sama antara PT SAS, Guo Hao, dan Balitpa, dilangsungkan Senin malam 13/11/2006, disaksikan Mentan Anton Apriyantonoyang dan dihadiri Tommy Winata.

Nota kesepahaman tersebut diteken oleh Presdir Sichuan Guo Hao Seed Industry Co Ltd Jing Fusong, Presdir SAS Babay Chalimi, dan Kepala Balitpa Achmad Suryana.

Pembangunan pusat studi padi hibrida ini direncanakan selesai dalam enam bulan ke depan sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan sejumlah varietas padi hibrida asal China yang diharapkan bisa meningkatkan produktivitas padi menjadi 8 ton-12 ton per hektare.

Presdir SAS Babay Chalimi mengatakan sampai sekarang belum ada pusat penelitian padi hibrida di dalam negeri. Sedangkan China itu sudah sangat berpengalaman di bidang ini. “Kami akan bangun Hybrid Rice Research Center joint dengan China dengan dana investasi awal US$5 juta,” kata Babay. ►e-ti/tsl

Kategori: Bisnis
Ditandai: ,